Majalahglobal.com, Mojokerto – Debu tipis beterbangan saat roda kendaraan Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin, M.A. memasuki Dusun Manyarsari, Desa Gunungsari, Kecamatan Dawarblandong, Kamis 4/6/2026. Di ujung jalan tanah itulah terbentang lahan seluas 55 hektare yang kelak menjadi markas Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan Yonif TP.
Kunjungan kerja Pangdam ke Kabupaten Mojokerto hari itu punya dua agenda: meninjau kesiapan lahan Yonif TP dan mengecek Jembatan Perintis Garuda di Desa Mojosarirejo, Kemlagi. Keduanya sama-sama menyasar satu tujuan: pertahanan kuat, masyarakat sejahtera.
*Lahan 55 Hektare Lolos Kajian Panjang*
Setibanya di Gunungsari, Pangdam langsung menerima paparan dari Dandim 0815/Mojokerto Letkol Inf Abi Swanjoyo, S.Hub.Int. Di atas meja sederhana, peta dan data teknis dibentangkan.
“Dawarblandong ini wilayah paling utara Mojokerto, berbatasan langsung dengan Gresik dan Lamongan. Akses transportasinya sangat strategis,” jelas Abi.
Lahan 55 hektare yang diusulkan sudah melewati survei dan kajian teknis berulang. Tim menilai lokasi ini memenuhi empat aspek kunci: pertahanan, geografis, sosial, dan ekonomi. Jalan akses memadai, sumber air tersedia, listrik bisa masuk, dan dekat fasilitas umum untuk prajurit dan keluarga.
“Lokasi ini sudah dinyatakan memenuhi syarat untuk Yonif TP. Selain strategis dari sisi pertahanan, kawasan ini juga punya potensi mendorong pertumbuhan wilayah dan kesejahteraan masyarakat sekitar,” tegas Dandim Abi.
*“Langsung Bangun, Sesuai Tahapan”*
Setelah meninjau titik demi titik, Pangdam Rudy Saladin memberi lampu hijau. Ia menilai Gunungsari lebih unggul dibanding sejumlah lokasi lain yang pernah ia datangi.
“Lokasi ini sangat baik. Akses jalannya memadai, air dan listrik mendukung, dekat dengan masyarakat. Secara prinsip saya setuju. Pembangunan harus segera dilaksanakan sesuai tahapan yang sudah direncanakan,” tegas Pangdam.
Kalimat itu jadi penegasan: Yonif TP di Dawarblandong bukan lagi wacana. Tonggak sejarah baru pertahanan Mojokerto bagian utara mulai dihitung.
*Dampaknya ke Warga: Ekonomi Desa Bergerak*
Yang menarik, Pangdam tidak hanya bicara soal alutsista dan barak prajurit. Ia menyorot dampak sosial ekonomi. Yonif TP yang menampung ratusan prajurit diyakini akan menghidupkan ekonomi lokal.
“Kehadiran satuan baru ini bukan hanya soal pertahanan. Ini tentang pemberdayaan masyarakat. Akan ada perputaran ekonomi baru: warung, UMKM, jasa, pasokan bahan pangan, sampai peluang kerja untuk warga sekitar,” ungkap Mayjen Rudy.
Bayangannya sederhana: pagi-pagi ibu-ibu penjual sayur punya pelanggan tetap prajurit, bengkel motor ramai, koperasi desa hidup. Pertahanan negara berdiri, pundi-pundi warga ikut bertumbuh.
*Mampir ke Jembatan Perintis Garuda, Serahkan Bingkisan*
Agenda berlanjut ke Desa Mojosarirejo, Kemlagi. Pangdam meninjau Jembatan Perintis Garuda yang kini jadi urat nadi mobilitas warga. Dulu menyeberang sungai jadi persoalan, kini jembatan beton kokoh memotong jarak dan waktu.
Di sana Pangdam juga menyerahkan bingkisan kepada perwakilan warga. Gestur kecil, tapi sarat makna: TNI hadir bukan hanya membangun, tapi juga peduli.
Turut mendampingi Irdam V/Brawijaya Brigjen TNI M. Aidi, Kapoksahli Brigjen TNI Singgih Pambudi Arinto, Danrem 082/CPYJ Kolonel Inf Batara, Wabup Mojokerto dr. M. Rizal Octavian, Wawali Mojokerto Dr. Rachman Sidharta, serta pejabat Perhutani dan tokoh masyarakat.
*Penegasan Pangdam: Pertahanan dan Kesejahteraan Jalan Beriringan*
Melalui kunjungan ini, Pangdam memastikan dua hal: lahan Yonif TP Dawarblandong siap dibangun, dan Jembatan Perintis Garuda sudah dirasakan manfaatnya warga.
“Kalau pertahanan wilayah kuat dan pembangunan daerah jalan, maka kesejahteraan masyarakat pasti naik. Itu yang kita kejar,” pungkas Mayjen Rudy Saladin.
Di tanah Manyarsari, patok-patok batas lahan sudah berdiri. Tak lama lagi, barak, lapangan, dan asrama akan menggantikan alang-alang. Dan di balik pagar markas itu, denyut ekonomi warga Dawarblandong dipastikan ikut berdetak lebih cepat. (Jay/Adv)
