Mojokerto, majalahglobal.com – Selasa, 3 November 2026. Pagi itu, warga Desa Pacing, Kecamatan Bangsal, Mojokerto, mendengar suara yang sudah tidak asing lagi, namun tetap membuat jantung berdegup sedikit lebih kencang.
_Dor… Dor… Dor…_
Suara tembakan itu bersahutan dari Lapangan Tembak Pratitis SPN Polda Jatim.
Bukan ada kerusuhan. Bukan ada operasi. Yang sedang terjadi adalah Latihan Menembak Senjata Ringan (Latbakjatri) Semester II Tahun Anggaran 2026, yang digelar Kodim 0815/Mojokerto.
Sebanyak 171 personel mengikuti latihan hari pertama itu. Jumlah yang tidak sedikit. Hampir seluruh kekuatan Kodim turun ke lapangan.
Bukan Sekadar Menembak
Bagi orang awam, menembak mungkin terlihat sederhana: arahkan senjata, tarik pelatuk, kena sasaran.
Bagi prajurit TNI, menembak adalah kemampuan dasar yang tidak boleh hilang. Kemampuan yang harus dipelihara terus-menerus, karena kemampuan yang tidak dilatih akan tumpul.
Itulah mengapa Kodim 0815/Mojokerto menggelar Latbakjatri ini secara rutin dan terencana.
Latihan ini dihadiri langsung oleh Dandim 0815/Mojokerto, Letkol Inf Abi Swanjoyo, http://S.Hub.Int., selaku Komandan Latihan (Danlat), didampingi Kasdim Mayor Inf Suwadi selaku Wakil Komandan Latihan (Wadanlat).
Kehadiran pimpinan langsung di lapangan menjadi pesan tersendiri: latihan ini bukan formalitas. Ini adalah pembinaan yang serius.
Apel Pagi yang Menegangkan
Sebelum satu pun peluru ditembakkan, seluruh peserta mengikuti apel pengecekan.
Apel itu dipimpin oleh Kapten Inf Irsyad Hari Purnomo selaku Koordinator Materi (Koormat) Senapan.
Dalam arahannya, ia tidak berbicara soal target atau soal nilai. Ia berbicara soal hal yang paling penting dalam latihan menembak: prosedur dan keamanan.
“Ikuti seluruh prosedur dan instruksi pelatih, utamakan faktor keamanan,” begitu kira-kira pesan yang ditekankan berulang-ulang.
Karena dalam latihan menembak, satu kelalaian kecil bisa berakibat fatal. Senjata bukanlah mainan. Senjata adalah alat yang harus diperlakukan dengan disiplin penuh.
100 Meter, 3 Sikap, 10 Lajur
Latihan menembak kali ini menggunakan senjata SS1 R5, senjata standar prajurit TNI AD, dengan jarak tembak 100 meter.
Jarak yang tidak dekat. Di jarak 100 meter, sasaran terlihat kecil. Angin, nafas, detak jantung, hingga cara memegang senjata, semua berpengaruh.
Setiap prajurit melaksanakan latihan dalam tiga sikap:
*1. Tiarap*
Sikap paling stabil. Badan menempel ke tanah, nafas diatur, bidikan dipertahankan. Di sikap ini, prajurit belajar tentang kesabaran.
*2. Duduk*
Sikap tengah. Tidak sestabil tiarap, tapi lebih fleksibel. Di sikap ini, prajurit belajar tentang keseimbangan.
*3. Berdiri*
Sikap paling sulit. Badan harus tegak, tangan tidak boleh goyah, konsentrasi harus penuh. Di sikap ini, prajurit belajar tentang pengendalian diri.
Pelaksanaan latihan dibagi dalam beberapa gelombang, menggunakan 10 lajur tembak secara bergantian, di bawah pengawasan ketat petugas.
Ada dua tahapan munisi yang harus dilalui setiap prajurit: munisi koreksi untuk membiasakan diri dan memperbaiki bidikan, dan munisi penilaian untuk menentukan hasil akhir.
Pesan Tegas Dandim
Di tengah-tengah latihan, Dandim 0815/Mojokerto, Letkol Inf Abi Swanjoyo, menyampaikan penegasan yang menjadi inti dari latihan ini.
“Latihan menembak ini menjadi sarana untuk memelihara sekaligus meningkatkan kemampuan dan kemahiran prajurit. Saya tekankan kepada seluruh personel agar mengikuti setiap tahapan latihan dengan sungguh-sungguh, disiplin, serta senantiasa mengutamakan faktor keamanan, sehingga kemampuan profesionalisme prajurit tetap terjaga,” tegasnya.
Kalimat itu bukan sekadar sambutan. Itu adalah pengingat bahwa profesionalisme prajurit tidak datang dari seragam atau pangkat, melainkan dari latihan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, berulang-ulang, dan disiplin.
Untuk Tugas Pokok yang Lebih Besar
Melalui latihan rutin ini, diharapkan kemampuan dasar keprajuritan, khususnya dalam bidang menembak, senantiasa terpelihara.
Karena tugas pokok TNI AD bukan hanya soal perang. Tugas pokok itu juga soal menjaga wilayah, menjaga masyarakat, dan siap kapan pun negara memanggil.
Dan kesiapan itu tidak bisa dibangun dalam semalam. Kesiapan itu dibangun dari latihan-latihan seperti ini: di lapangan tembak, di bawah terik matahari, dengan peluh, dengan konsentrasi, dan dengan disiplin.
Selasa itu, di Lapangan Tembak Pratitis, 171 prajurit telah membuktikan satu hal:
Mereka tidak hanya siap memegang senjata, tapi mereka juga siap mempertanggungjawabkannya dengan kemampuan, kedisiplinan, dan keamanan.
*(Jay)*










