Majalahglobal.com, Mojokerto – Bagi sebagian orang, jabatan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto adalah tentang kewenangan, tentang meja rapat, tentang keputusan.
Bagi Wakil Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto, H. Khoirul Amin, S.Sos., jabatan itu adalah tentang keberanian untuk duduk satu meja dengan siapa pun – termasuk dengan mereka yang pernah kecewa kepadanya.
Rabu, 4 November 2026, Cafe Bermuda, Sooko, Mojokerto, menjadi saksi dari sikap itu.
Tidak ada pengawalan berlebihan. Tidak ada jarak. Yang ada hanya seorang pemimpin daerah yang datang, duduk di sofa hijau, dan membuka percakapan dengan media melalui kalimat yang jarang diucapkan pejabat:
“Saya mohon maaf ketika ada yang kurang berkenan.”
Pemimpin yang Tidak Anti Kritik
Dalam dunia politik, meminta maaf sering dianggap sebagai kelemahan. Bagi Khoirul Amin, meminta maaf adalah kekuatan.
Ia menyadari, dalam sebuah acara yang dihadiri banyak kiai dan tamu, situasi sempat tidak ideal. Ruangan yang hanya satu, tamu yang datang silih berganti, dan awak media yang juga ingin meliput membuat suasana menjadi padat.
Dalam situasi itulah, satu kalimat spontan dalam bahasa Jawa, “pancet ae”, terucap tanpa maksud untuk merendahkan siapa pun.
Alih-alih menghindar atau menyalahkan pihak lain, Khoirul Amin memilih untuk menjelaskan secara langsung, dengan tenang, di hadapan awak media.
“Manusia itu kadang tidak sadar. Jadi saya mohon dimaafkan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan, hubungan antara pejabat dan media bukanlah hubungan atasan dan bawahan. Media adalah mitra. Mitra untuk menyampaikan kebaikan, mitra untuk mengontrol, dan mitra untuk berkolaborasi membangun Mojokerto.
Mediasi Adalah Cara Dewasa Menyelesaikan Masalah
Sikap yang sama juga ditunjukkan Khoirul Amin dalam pertemuan sebelumnya di tempat yang sama.
Ketika sebuah persoalan pribadi terlanjur menyebar dan berkembang ke mana-mana, ia tidak memilih untuk bersembunyi atau menyerang balik melalui media sosial.
Ia memilih jalan mediasi. Duduk bersama. Mendengarkan. Menyelesaikan secara profesional.
Bagi Khoirul Amin, persoalan yang diselesaikan dengan tatap muka akan selalu lebih baik daripada persoalan yang dibiarkan liar di ruang publik.
“Ke depan kita tetap silaturahmi, kolaborasi,” katanya.
Bukan Sekadar Kata-Kata, Tapi Kerja Nyata
Komitmen untuk merangkul semua pihak itu bukan hanya diucapkan di Cafe Bermuda. Komitmen itu diwujudkan dalam kegiatan nyata yang rutin ia lakukan.
Hari Minggu 8 November 2026, Khoirul Amin menggelar pengajian rutin yang terbuka untuk masyarakat. Bukan pengajian yang eksklusif, melainkan pengajian yang diisi dengan pelayanan sosial.
Bekerja sama dengan Sakinah dan Dinas Perdagangan dan Perindustrian, kegiatan itu menghadirkan layanan pengobatan gratis dan check up kesehatan gratis bagi warga.
Bagi Khoirul Amin, politik yang baik adalah politik yang bisa dirasakan manfaatnya langsung oleh masyarakat: pengajian yang menenangkan hati, pengobatan yang meringankan beban, dan kolaborasi yang membuka peluang.
Kenapa Cafe Bermuda?
Pemilihan Cafe Bermuda sebagai tempat pertemuan juga bukan kebetulan.
Cafe di Sooko ini dikenal sebagai tempat yang nyaman, terbuka, dan egaliter. Siapa pun bisa datang, duduk, dan berbicara tanpa sekat.
Di tempat seperti inilah, menurut Khoirul Amin, persoalan yang rumit bisa diselesaikan dengan cara yang sederhana: dengan ngopi, berbicara, dan saling mendengarkan.
Undangan Terbuka untuk Warga Mojokerto
Melalui advertorial ini, H. Khoirul Amin mengundang seluruh masyarakat Kabupaten Mojokerto, khususnya para awak media, tokoh masyarakat, dan para kiai, untuk hadir dalam kegiatan berikutnya:
Pengajian Rutin + Pengobatan Gratis & Check Up Kesehatan
*Hari Minggu | Bersama Sakinah & Disperindag*
*Terbuka untuk Umum*
Karena bagi Khoirul Amin, Mojokerto tidak dibangun dengan jarak dan kecurigaan, melainkan dengan silaturahmi, kolaborasi, dan keberanian untuk meminta maaf ketika ada yang kurang berkenan. (Jay/Adv)










