Mojokerto, majalahglobal.com – Rabu, 4 November 2026. Balai Desa Kemantren, Kecamatan Gedeg, Mojokerto, pagi itu ramai seperti biasanya saat ada kegiatan desa.
Yang hadir bukan hanya perangkat desa. Yang hadir adalah ibu-ibu PKK, kader posyandu, dan para ibu yang setiap hari memikirkan satu hal yang sama: bagaimana caranya anak sehat, dan bagaimana caranya harga sembako tetap terjangkau.
Hari itu, mereka datang untuk Rembuk Stunting. Membahas soal anak yang kurang gizi, soal pola asuh, soal masa depan generasi desa.
Namun di tengah-tengah acara itu, ada pemandangan yang tidak biasa. Sebuah kendaraan tossa masuk pelan ke halaman balai desa, penuh dengan bahan kebutuhan pokok.
Itulah cara Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Desa Kemantren memperkenalkan dirinya. Bukan dengan baliho besar. Bukan dengan spanduk di pinggir jalan. Tapi dengan datang langsung, membawa barangnya, dan berbicara langsung dengan warga.
Koperasi yang Tidak Mau Diam di Gerai
Selama ini, banyak koperasi yang hanya menunggu warga datang ke gerai. Kalau warga tidak datang, koperasi sepi. Kalau warga tidak tahu, koperasi dianggap tidak ada.
KDKMP Desa Kemantren memilih jalan yang berbeda.
Mereka memanfaatkan momentum Rembuk Stunting untuk promosi. Momentum di mana warga, khususnya ibu-ibu, sedang berkumpul semua.
Manager KDKMP Desa Kemantren, Aditya, bersama karyawan koperasi, datang langsung membawa berbagai bahan kebutuhan pokok menggunakan tossa ke lokasi kegiatan.
Ia tidak hanya memperkenalkan diri sebagai pengelola. Ia menjelaskan satu per satu, apa saja produk yang dijual di gerai KDKMP, termasuk barang kebutuhan pokok bersubsidi, dan bagaimana cara membelinya.
Bagi ibu-ibu yang hadir, ini adalah informasi yang sangat penting. Karena selama ini, banyak yang belum tahu bahwa di desanya sendiri ada gerai koperasi yang menyediakan sembako dengan harga yang lebih terjangkau.
Mereka bisa melihat langsung jenis produknya. Mereka bisa bertanya langsung soal ketersediaan barangnya. Mereka bisa tahu langsung tata cara mendapatkannya.
Tidak perlu lagi katanya-katanya. Semua jelas di depan mata.
Pujian dari Danramil: Ini Inovasi yang Baik
Langkah jemput bola ini mendapat apresiasi langsung dari Danramil 0815/05 Gedeg, Kapten Kav Rohyadi.
Menurutnya, kegiatan promosi secara langsung di tengah aktivitas masyarakat merupakan langkah positif dalam mensosialisasikan keberadaan dan fungsi KDKMP.
“Ini merupakan inovasi yang baik dalam memperkenalkan KDKMP kepada masyarakat. Dengan hadir langsung di berbagai kegiatan desa, warga bisa lebih mengenal produk-produk yang tersedia, termasuk barang kebutuhan pokok bersubsidi beserta mekanisme pembeliannya. Harapannya, KDKMP semakin dikenal dan keberadaannya dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.
Kalimat itu bukan sekadar pujian formal. Di baliknya, ada pesan yang penting: koperasi desa harus aktif, harus kreatif, harus hadir di mana warga berkumpul.
Karena koperasi yang baik bukan koperasi yang hanya punya gerai bagus, tapi koperasi yang dikenal warganya dan dirasakan manfaatnya.
Kenapa Harus di Rembuk Stunting?
Pemilihan Rembuk Stunting sebagai tempat promosi juga bukan kebetulan.
Rembuk Stunting adalah kegiatan yang membahas soal gizi anak. Dan gizi anak sangat berhubungan erat dengan ketersediaan bahan pokok di rumah.
Bagaimana anak bisa sehat kalau ibunya kesulitan mendapatkan beras, minyak, telur, dan bahan pokok lainnya dengan harga yang wajar?
Di sinilah peran KDKMP menjadi sangat relevan. KDKMP hadir bukan hanya sebagai tempat jualan, tapi sebagai salah satu sarana pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat.
Ketika ibu-ibu tahu bahwa ada koperasi di desanya yang menyediakan sembako bersubsidi, maka beban mereka sedikit berkurang. Dan ketika beban ibu berkurang, anak pun bisa tumbuh lebih sehat.
Harapan Agar Tidak Berhenti di Sini
Lebih lanjut, Danramil berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.
Tidak hanya di Rembuk Stunting. Tapi di berbagai momentum kegiatan desa lainnya: pengajian, posyandu, kerja bakti, rapat desa, hingga kegiatan-kegiatan PKK.
Karena semakin sering KDKMP hadir, semakin luas informasi yang tersampaikan. Semakin banyak warga yang tahu, semakin banyak warga yang memanfaatkan.
Melalui langkah tersebut, KDKMP Desa Kemantren diharapkan terus berkembang sebagai wadah penguatan ekonomi kerakyatan.
Bukan hanya sebagai gerai sembako. Tapi sebagai wadah di mana ekonomi desa berputar di desa itu sendiri. Warga belanja di koperasi desanya, keuntungan kembali untuk desanya, dan manfaatnya dirasakan oleh desanya.
Rabu itu, di Balai Desa Kemantren, sebuah tossa berisi sembako telah membuktikan satu hal sederhana:
Koperasi yang hebat bukan yang paling besar gerainya, tapi yang paling dekat dengan warganya.
*(Jay)*










