Batang Hari, majalahglobal.com – Selasa, 3 November 2026. Pagi itu, tiga sekolah di Kabupaten Batang Hari kedatangan tamu yang tidak biasa.
Bukan pejabat yang datang dengan rombongan dan sambutan formal. Bukan pula tim inspeksi yang datang untuk memeriksa administrasi.
Yang datang adalah para ibu. Ibu-ibu dari Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Batang Hari.
Mereka datang dengan satu misi yang sederhana, namun sangat penting: menghentikan bullying di sekolah.
Program itu bernama DWP Goes to School. Temanya tegas dan tidak bisa ditawar: Stop Bullying.
Bukan Sekadar Ceramah
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Ketua DWP Batang Hari, Ny. Meriana Rambe, bersama Ketua Bidang Pendidikan, Ny. Mardiyanti Amir, http://S.Pd.SD.
Namun yang membuat kegiatan ini berbeda, DWP tidak hanya datang untuk memberikan sambutan. Mereka menghadirkan seorang narasumber yang benar-benar memahami dunia psikologi anak: Eka Renny Yustisia, http://S.Psi., M.M., Psikolog.
Di hadapan para siswa, Eka tidak berbicara dengan bahasa yang rumit. Ia berbicara dengan bahasa yang dipahami anak-anak: tentang perasaan, tentang luka yang tidak terlihat, tentang bagaimana satu kata bisa menyakitkan lebih lama daripada satu pukulan.
Sasaran program ini pun dipilih dengan sengaja, mencakup tiga jenjang pendidikan yang berbeda:
*1. MIN 1 Batang Hari*
Di sinilah karakter dasar anak mulai dibentuk. Anak-anak usia dasar yang masih polos, yang kata-katanya masih jujur, dan yang perlu diajarkan sejak dini untuk tidak mengejek teman.
*2. SMPN 21 Batang Hari*
Di jenjang ini, bullying mulai berubah bentuk. Tidak lagi sekadar rebutan mainan, tapi sudah mulai soal ejekan fisik, pengucilan, dan kata-kata yang merendahkan.
*3. SMKN 2 Batang Hari*
Di jenjang ini, bullying bisa menjadi lebih kompleks. Ada bullying verbal, ada bullying fisik, dan yang paling berbahaya di era sekarang: bullying siber, melalui media sosial.
Tiga sekolah, tiga usia yang berbeda, tapi satu pesan yang sama: tidak ada tempat untuk perundungan.
Bullying Itu Bukan Bercanda
Salah satu kesalahan terbesar yang sering terjadi di sekolah adalah menganggap bullying sebagai bercanda.
“Ah, cuma bercanda kok.”
“Ah, cuma ejek-ejekan biasa.”
Padahal, bagi korban, ejekan itu bukan bercanda. Ejekan itu adalah luka yang dibawa pulang ke rumah, yang membuat anak takut berangkat sekolah keesokan harinya, yang membuat anak merasa dirinya tidak berharga.
Melalui program DWP Goes to School ini, para siswa diajak untuk memahami hal itu.
Materi yang diberikan bukan hanya soal larangan. Materi yang diberikan adalah soal empati.
Siswa diajarkan untuk saling menghargai, untuk menempatkan diri di posisi teman yang diejek, untuk berani berkata tidak ketika melihat temannya dirundung, dan untuk berani melaporkan ketika ada tindakan bullying yang terjadi di sekitar mereka.
Karena menghentikan bullying bukan hanya tugas guru. Bukan hanya tugas orang tua. Tapi tugas semua siswa yang melihat, mendengar, dan tahu.
Sekolah Harus Jadi Tempat Paling Aman
Tujuan utama dari program ini sangat jelas: menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, ramah anak, dan bebas dari segala bentuk perundungan.
Baik perundungan fisik, verbal, maupun siber melalui media sosial.
DWP Kabupaten Batang Hari ingin memastikan, bahwa sekolah bukan tempat yang ditakuti anak, melainkan tempat yang dirindukan anak.
Sekolah harus menjadi tempat di mana anak bisa belajar tanpa rasa takut, bisa bertanya tanpa takut diejek, bisa tampil tanpa takut ditertawakan, dan bisa menjadi dirinya sendiri tanpa takut dibully.
Melalui program ini, DWP berharap para pelajar dapat tumbuh dalam lingkungan yang positif, tanpa rasa takut, sekaligus mencetak generasi muda Batang Hari yang tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga berintegritas dan berakhlak mulia.
Pesan yang Tertinggal di Kelas
Kegiatan di tiga sekolah itu akhirnya berakhir. Namun pesan yang disampaikan tidak berakhir di situ.
Pesan itu tertinggal di benak para siswa. Tertinggal di ruang kelas. Tertinggal di grup WhatsApp mereka.
Sebuah pesan yang sederhana, namun kuat:
“Bersama kita hentikan bullying, ciptakan lingkungan pendidikan yang ramah, dan wujudkan generasi Batang Hari yang cerdas dan berkarakter.”
Dan pesan itu tidak hanya ditujukan untuk siswa. Pesan itu juga ditujukan untuk kita semua: guru, orang tua, dan masyarakat.
Karena anak yang hari ini kita ejek, bisa jadi adalah anak yang besok akan kehilangan kepercayaan dirinya.
Sebaliknya, anak yang hari ini kita lindungi, bisa jadi adalah anak yang besok akan menjadi pemimpin Batang Hari.
(Darmawan)










