Majalahglobal.com, Mojokerto – Di tengah anggapan lama bahwa anak pendek adalah faktor keturunan, Kota Mojokerto memilih jalur berbeda. Di bawah komando Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DinkesPPKB) Kota Mojokerto, dr. Achmad Rheza, Sp.OG, Subsp. FER, sebuah gerakan sistematis dibangun dari hulu.
Gerakan itu diberi nama CANTING GULA MOJO, akronim dari Cegah Stunting, Gerak Unggul Pemberdayaan Masyarakat Kota Mojokerto.
Sebagai seorang dokter spesialis kebidanan dan kandungan dengan subspesialis fertilitas dan endokrinologi reproduksi, dr. Rheza memahami betul bahwa stunting tidak terjadi tiba-tiba. Ia berawal dari 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
“Program 1000 HPK sudah berjalan dengan baik melalui inovasi CANTING GULA MOJO,” ujar dr. Rheza dalam keterangan tertulisnya kepada majalahglobal.com, Kamis (22/10/2026).
Menurutnya, inovasi ini merangkum perjalanan panjang, dimulai dari remaja, calon pengantin, ibu hamil, hingga balita usia 24 bulan.
Di lapangan, intervensi itu berlapis. Untuk ibu hamil, pemeriksaan rutin ANC terpadu 12 T menjadi standar wajib. Pemantauan tidak berhenti di puskesmas saja, melainkan dikawal ketat oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK) di setiap kelurahan.
Bahkan, pendekatan yang ia gagas cukup unik: menggandeng organisasi profesi. DinkesPPKB bekerja sama dengan POGI Kota Mojokerto untuk program pendampingan pelayanan KIA dengan konsep 1 Puskesmas 1 Obgyn. Kolaborasi serupa juga dijalin dengan IDAI Kota Mojokerto untuk pendampingan gizi, dengan konsep 1 Puskesmas 1 Dokter Spesialis Anak.
“Ini untuk memastikan ibu hamil dan balita mendapatkan layanan spesialistik sejak dini di tingkat puskesmas,” jelas dr. Rheza.
Di tingkat komunitas, kelas ibu hamil dan ibu balita digelar di semua puskesmas, dilengkapi dengan Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) khusus bagi bayi dan baduta yang mengalami masalah gizi. Edukasi ASI eksklusif dan MPASI juga terus digencarkan.
Namun, yang menjadi pembeda Kota Mojokerto adalah kekuatan datanya.
DinkesPPKB memiliki aplikasi satu data kesehatan bernama GAYATRI – Gerbang Layanan Informasi Terpadu dan Terintegrasi. Pada cluster 2 aplikasi tersebut, seluruh ibu hamil dan bayi dipantau secara real-time.
“Kami memiliki GAYATRI cluster 2 khusus untuk pemantauan ibu hamil dan bayi,” ungkap dr. Rheza.
Lantas, bagaimana jika seorang balita sudah terlanjur terdeteksi stunting?
Sesuai arahan Wali Kota Mojokerto untuk mencapai zero new stunting, dr. Rheza menyiapkan intervensi berjenjang. Balita yang berat badannya tidak naik akan diberikan PMT lokal. Jika mengalami wasting, selain PMT lokal juga diberikan susu PDK. Sedangkan untuk balita stunting, intervensi paling intensif disiapkan: Pemberian Makanan Lengkap (BEKAL) selama 90 hari ditambah susu PKMK.
Pendekatan humanis juga dikedepankan. Jika ada orang tua yang menolak balitanya dirujuk, petugas tidak langsung menyerah. Kolaborasi antara puskesmas dengan TP-PKK, kelurahan, dan kecamatan dilakukan untuk edukasi dan persuasi.
Apabila persuasi tidak berhasil, orang tua diminta menandatangani informed consent penolakan, namun pemantauan rutin oleh puskesmas, Prameswari (Program Pemantauan Kesehatan Warga Terintegrasi), dan TPK tetap berjalan agar balita tersebut tidak merasa ditelantarkan.
Di akhir penjelasannya, dokter yang juga aktif sebagai dokter Obgyn ini menitipkan pesan kunci pencegahan stunting dengan formula ABCDE dari Kementerian Kesehatan.
A: Aktif minum Tablet Tambah Darah. Remaja putri dan calon pengantin satu kali seminggu, ibu hamil satu kali sehari untuk mencegah anemia pemicu bayi prematur dan BBLR.
B: Bumil teratur periksa kehamilan minimal 6 kali dengan 2 kali USG dokter untuk memantau tumbuh kembang janin.
C: Cukupi protein hewani seperti telur, ikan, ayam, dan daging sejak dalam kandungan dan saat anak MPASI di atas 6 bulan.
D: Datang ke Posyandu setiap bulan sampai usia 5 tahun untuk memantau berat dan tinggi badan, imunisasi, dan vitamin A.
E: Eksklusif ASI selama 6 bulan tanpa makanan tambahan, dilanjutkan MPASI hingga 2 tahun.
“Dan yang tidak kalah penting, jaga sanitasi dan kebersihan lingkungan karena nutrisi yang baik tidak akan maksimal jika anak sering sakit,” tutup dr. Rheza. (Jay/Adv)










