Bukan Janji Kosong! 7 Alsintan Canggih dari Khofifah Mendarat di Mojokerto, Petani Sumbertebu Langsung Panen Lebih Cepat

MOJOKERTO – Minggu sore (4/10/2026) di Desa Sumbertebu, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, suara mesin pertanian meraung. Bukan hajatan desa, melainkan kedatangan bantuan yang sudah lama ditunggu petani.

 

 

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur menyerahkan tujuh unit alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada sejumlah kelompok tani di Kabupaten Mojokerto. Bantuan tersebut terdiri atas dua unit combine harvester besar dan lima unit pompa air untuk mendukung peningkatan produktivitas serta efisiensi usaha tani di tengah ancaman kemarau panjang.

 

Pada 2026 ini, Pemprov Jatim mengalokasikan total 341 unit alsintan yang terdiri atas 231 unit alat prapanen dan 110 unit alat pascapanen untuk seluruh Jawa Timur. Dari alokasi tersebut, Kabupaten Mojokerto kebagian tujuh unit, dengan penerima meliputi Kelompok Tani Rukun Makmur 2, Tani Jaya, Sumber Makmur, Mardi Tani, Sejahtera 4, Makmur, dan Rukun Tani.

 

Penyerahan berlangsung di Desa Sumbertebu, Kecamatan Bangsal, Minggu (4/10) sore. Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, Wakil Bupati Mojokerto Muhammad Rizal Octavian, jajaran OPD Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Mojokerto, unsur TNI-Polri, serta kelompok tani penerima yang wajahnya sumringah.

 

Wakil Bupati Mojokerto, Muhammad Rizal Octavian, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada Pemprov Jatim atas perhatian dan dukungan terhadap sektor pertanian di Kabupaten Mojokerto. Menurutnya, dukungan tersebut menjadi bagian dari langkah modernisasi pertanian sekaligus upaya menjawab berbagai tantangan nyata yang dihadapi petani di sawah.

 

“Sektor pertanian memiliki peranan yang sangat penting dalam menjaga ketersediaan pangan, meningkatkan perekonomian masyarakat, serta mendukung ketahanan pangan daerah dan nasional,” ujar Rizal.

 

Rizal menyebut, tantangan yang dihadapi petani saat ini tidak ringan, antara lain keterbatasan tenaga kerja, meningkatnya biaya produksi, kebutuhan percepatan panen, serta keterbatasan air pada musim kemarau yang diprediksi akan memanjang.

 

“Bantuan combine harvester diharapkan dapat membantu petani dalam mempercepat proses panen, mengurangi kehilangan hasil, menghemat biaya dan tenaga kerja, serta meningkatkan efisiensi usaha tani,” jelasnya.

 

Sementara itu, lima unit pompa air diharapkan dapat menjadi penyelamat pengairan lahan, khususnya di wilayah Bangsal dan sekitarnya yang mengalami keterbatasan sumber air saat kemarau.

 

“Dengan dukungan alat dan mesin pertanian tersebut, kami berharap produktivitas pertanian dapat meningkat dan biaya usaha tani dapat ditekan. Pada akhirnya, pendapatan serta kesejahteraan petani Kabupaten Mojokerto juga semakin meningkat,” ungkapnya.

 

Rizal juga berpesan tegas kepada kelompok tani penerima agar alsintan yang harganya ratusan juta itu dimanfaatkan dan dirawat dengan baik. Pengelolaan secara bersama-sama dinilai penting agar manfaat bantuan tidak hanya dirasakan satu orang, tetapi dapat dirasakan secara lebih luas dan berkelanjutan.

 

“Jangan sampai bantuan yang telah diberikan menjadi tidak optimal karena kurangnya pemeliharaan ataupun pemanfaatan yang tidak sesuai peruntukannya. Mari kita bangun semangat gotong royong, berbagi manfaat, dan mengembangkan pengelolaan alsintan secara bersama-sama,” pesannya.

 

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dalam sambutannya memberikan sentuhan spiritual. Ia menyampaikan bahwa nama kelompok tani penerima juga memiliki makna sebagai doa dan harapan bagi kesejahteraan petani.

 

“Penamaan kelompok tani seperti Kelompok Tani Makmur dan Poktan Rukun Tani sengaja dipilih karena mengandung makna kebaikan, kemakmuran, dan kesejahteraan,” ujar Khofifah.

 

Ia mengaitkan makna tersebut dengan hadis qudsi tentang prasangka seorang hamba kepada Allah SWT.

 

“Harapannya, nama-nama tersebut dapat mewujud menjadi kenyataan bagi para petani,” ungkapnya.

 

Tak hanya soal alsintan, Khofifah juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan menghadapi potensi kemarau berkepanjangan yang bisa melewati Desember. Selain ikhtiar melalui salat istisqa, pemerintah melakukan mitigasi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

 

“Setiap kali BMKG menginformasikan adanya pergerakan awan, penaburan garam segera dilakukan untuk memicu terjadinya hujan,” katanya.

 

Menurut Khofifah, pelaksanaan OMC sejak 6 September terpantau menghasilkan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan.

 

“Mengingat adanya potensi kemarau yang bisa memanjang hingga melewati bulan Desember, kewaspadaan tetap diperlukan sehingga pemanfaatan sumur dan pompa-pompa air harus terus dimaksimalkan,” tegas Khofifah.

 

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian menyambut Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur yang diperingati pada 12 Oktober 2026. Khofifah memaknai pertambahan usia Jawa Timur sebagai momentum untuk terus mengedepankan kearifan dan kebijaksanaan.

 

“Di usia yang ke-81 ini, Jawa Timur kita ibaratkan seperti lansia yang makin bersantan. Kita juga mengamalkan ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Ini menjadi cerminan kekuatan, kearifan, dan kebijaksanaan,” tuturnya.

 

Usai penyerahan alsintan, Gubernur Khofifah melanjutkan kunjungannya dengan menghadiri Pasar Murah yang digelar Pemprov Jatim di halaman Kantor Desa Ngrowo, Kecamatan Bangsal. Pasar Murah tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur sekaligus menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, dengan harga beras premium Rp14.000/kg, beras medium Rp11.000/kg, hingga daging ayam Rp32.000/pack.

 

(Jay)

Exit mobile version