Majalahglobal.com, Surabaya – Panggung sekolah mendadak hening. Ratusan pasang mata tertuju pada seorang anak perempuan bertubuh kecil dengan seragam Tapak Suci merah. Begitu aba-aba dimulai, tangan dan kakinya bergerak cepat. Jurus demi jurus Tapak Suci diluncurkan sempurna.

Anak itu adalah Hinda Qiandra Putri Azkadina Hidayat, siswi kelas 1 SDN Kaliasin 1 Surabaya. Penampilannya saat acara Panggung Kreasi Penutupan MPLS RAMAH tahun 2026 hari ini, Jumat 17 Juli 2026 sukses mencuri perhatian seluruh siswa kelas 1 sampai kelas 6, para guru, hingga orang tua murid. Aplaus meriah pun pecah saat ia menyelesaikan gerakan terakhirnya.
“Qiandra tampil perdana di depan sekolah. Dia tampil tanpa grogi sama sekali. Semua jurus dasar sampai lanjutan Tapak Suci dikeluarkan,” ujar salah satu guru SDN Kaliasin 1.
*Dikenalkan Silat Sejak TK oleh “H. Samday”*
Prestasi Qiandra bukan datang tiba-tiba. Di balik anak 7 tahun ini ada sosok ayah yang tak pernah lepas mengawal: Advokat Gaek H. Arief Rachmad Hidayat, S.H., M.H, atau yang akrab disapa H. Samday.
Sejak masih duduk di TK, H. Samday sudah mengenalkan Pencak Silat Tapak Suci pada putrinya. Bagi H. Samday, bela diri bukan hanya soal fisik, tapi juga soal mental, disiplin, dan akhlak.
Hasilnya terlihat. Sebelum resmi jadi anak SD, Qiandra sudah mengharumkan nama sekolah TK-nya. Ia berhasil meraih Juara 2 Lomba Pencak Silat Tingkat TK Aisyiyah se-Kota Surabaya.
“Abahnya memang dari awal bilang, anak perempuan harus punya benteng diri. Lewat Tapak Suci, Qiandra belajar berani, percaya diri, dan tidak mudah menyerah,” cerita H. Samday.
*Semakin Dewasa, Semakin Matang*
Kini menginjak bangku kelas 1 SD, semangat Qiandra justru semakin menggebu. Usianya boleh masih kecil, tapi jam terbang dan jam latihannya tidak main-main.
Panggung MPLS RAMA Th 2026 di SDN Kaliasin 1 menjadi bukti. Di hadapan ratusan siswa dan seluruh dewan guru, Qiandra tampil tanpa beban. Setiap pukulan, tangkisan, dan tendangan Tapak Suci ia keluarkan dengan penuh semangat dan senyum.
Keberhasilan itu, kata H. Samday, tidak lepas dari dukungan keluarga. “Ini semua karena support dari orang tua. Kami hanya mengarahkan. Yang latihan keras tetap Qiandra sendiri,” ucapnya bangga.
*Harapan ke Depan*
Bagi pihak sekolah, Qiandra menjadi contoh bahwa usia bukan penghalang untuk berprestasi dan menunjukkan bakat. Bagi H. Samday, ini baru awal. Ia berharap Tapak Suci bisa menjadi bekal Qiandra sampai dewasa.
“Sekarang targetnya bukan juara dulu. Tapi bagaimana Qiandra bisa istiqomah, punya mental baja, dan bisa jadi contoh teman-temannya,” pungkas H. Samday.
Dengan semangat dan dukungan yang ada, bukan tidak mungkin nama Hinda Qiandra Putri Azkadina Hidayat akan terus berkibar, dari panggung sekolah hingga kejuaraan yang lebih besar. (Jay)










