Majalahglobal.com, Surabaya_ – Minggu siang, 7 Juni 2026. Gedung Graha Adi di Jalan Balas Klumprik, Wiyung, Surabaya, penuh sesak. Bukan karena seminar hukum atau bedah buku. Hari itu, ruang itu menjadi saksi janji suci.

Moch. Imron Afandi, S.H., M.H., advokat yang kerap vokal mengkritisi kebijakan publik, resmi mengucap ijab kabul. Di hadapannya duduk Hamidah Apriani Eka Putri, S.Ak., perempuan yang memilih jalur sunyi di dunia angka dan pajak, tapi bersuara lantang lewat integritas.

Sehari berselang, Senin 8 Juni 2026, giliran Dusun Kalipang, Desa Wahas, Balongpanggang, Gresik, yang menjadi tuan rumah. Prosesi _ngunduh mantu_ digelar di kediaman mempelai pria. Dua kota, dua resepsi, satu cinta.
*Akad di Surabaya, Resepsi di Gresik*
Pernikahan ini menyatukan dua keluarga besar. Hamidah, putri dari drh. Kambali dan Sri Wahyuni, S.Pd., warga asli Banyu Urip Lor, Sawahan, Surabaya. Kini berdomisili di Perumahan Wringin Asri, Menganti, Gresik.
Imron, putra dari Kastari dan Rati, lahir dan besar di Dusun Kalipang, RT 002/RW 002, Desa Wahas, Balongpanggang, Gresik.
Akad nikah berlangsung khidmat. Di hadapan keluarga, kerabat, dan sahabat, doa dan restu dipanjatkan. Wajah keduanya memancarkan kebahagiaan yang sama: memulai lembaran baru sebagai pasangan suami istri.
Keesokan harinya, tradisi _ngunduh mantu_ di Gresik berlangsung hangat. Tetangga, kerabat, dan sahabat berdatangan. Tawa, doa, dan ucapan selamat mengiringi keduanya.
*Sang Pengantin Pria: Advokat, Penulis, dan Pengkritik*
Jika ditanya siapa Imron, jawabannya panjang.
Perjalanan pendidikannya dimulai dari SD Negeri Wahas, SMP Negeri 2 Balongpanggang, hingga SMA Negeri 1 Dwarblandong, Mojokerto. Gelar sarjana hukum ia raih di Universitas Gresik. Tak berhenti di situ, ia melanjutkan Magister Ilmu Hukum di Universitas Wijaya Putra Surabaya.
Tapi yang membuat namanya dikenal bukan hanya gelarnya. Imron adalah advokat profesional. Ia juga penulis, wartawan, dan aktivis.
Sosoknya kerap muncul mengkritisi kebijakan publik yang dinilai tidak berpihak pada rakyat. Salah satu tulisannya yang jadi sorotan berjudul _”Perlindungan Hukum Pegawai Non Pegawai Negeri Sipil yang Tidak Diangkat Menjadi PNS Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2023 tentang ASN”_.
Sebuah tulisan yang mengangkat keresahan jutaan tenaga honorer di Indonesia.
Di luar itu, Imron aktif di berbagai organisasi, komunitas, media, hingga LSM. Baginya, hukum bukan hanya di ruang sidang, tapi juga di ruang publik.
*Sang Pengantin Wanita: Kartini Modern di Balik Laporan Pajak*
Berbanding terbalik, Hamidah memilih bekerja dalam senyap tapi berdampak.
Perempuan asal Surabaya ini menamatkan SD GIKI 1, SMP Negeri 4 Surabaya, dan SMA Negeri 3 Surabaya. Ia melanjutkan kuliah D3 Akuntansi lalu S1 Akuntansi di STIESIA Surabaya.
Sejak masih kuliah, Hamidah sudah meniti karier di bidang perpajakan. Kini ia bergabung dengan CV. Lanjari Mitra Konsultindo di Sidoarjo. Meski sudah memenuhi syarat membuka praktik mandiri, ia memilih tetap di perusahaan.
“Lingkungan kerja memberikan proses pembelajaran, pengalaman, dan wawasan dalam berpraktik sebagai konsultan pajak yang berintegritas,” ujarnya.
Setiap hari, rutinitasnya adalah perjalanan Gresik – Surabaya – Sidoarjo. Ramah, santun, dan dekat keluarga. Banyak yang menyebutnya Kartini modern. Bukti bahwa perempuan Indonesia kini bisa setara, tanpa sekat.
*Disatukan Ayat Ar-Rum: “Agar Kamu Merasa Tentram”*
Di undangan pernikahan mereka, tertera penggalan Surah Ar-Rum ayat 21. Tentang penciptaan pasangan agar manusia memperoleh ketenangan, kasih, dan sayang.
Mungkin itu yang dirasakan keduanya. Imron yang hidupnya bergulat dengan pasal dan demonstrasi, menemukan penyeimbang di Hamidah yang teliti dengan angka dan regulasi pajak.
Resepsi berlangsung penuh keakraban. Para tamu tak hanya memberi selamat, tapi juga doa agar rumah tangga keduanya menjadi _sakinah, mawaddah, wa rahmah, till jannah_.
*Lebih dari Sekadar Pernikahan*
Bagi banyak orang, ini bukan hanya penyatuan dua insan. Ini juga penyatuan dua dunia: dunia advokasi yang gaduh dan dunia konsultan pajak yang rapi. Dunia aktivis jalanan dan dunia profesional kantoran.
Tapi di pelaminan itu, semua sekat runtuh. Yang tersisa hanya dua orang yang sepakat berjalan bersama.
Selamat menempuh hidup baru, Hamidah dan Imron. Semoga setiap langkah rumah tangga yang dibangun membawa berkah, cinta, dan kebahagiaan.
_“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya…”_ – Q.S Ar-Rum: 21. (Imron)










