MOJOKERTO – Selasa pagi (14/7/2026), Aula Makodim 0815/Mojokerto di Jalan Majapahit tidak seperti biasanya. Deretan Babinsa dengan seragam loreng duduk rapi di depan laptop. Di depan mereka berdiri perwira bintang satu dengan map tebal. Bukan latihan perang. Ini latihan data.
Tim Pusat Teritorial TNI Angkatan Darat (Pusterad) datang jauh-jauh ke Mojokerto. Misi mereka satu: memastikan data teritorial yang dipegang Babinsa di lapangan benar-benar valid, bukan sekadar “perkiraan”.
“Jangan sampai karena 1 data salah, bantuan pemerintah nyasar. Jangan sampai karena data tidak mutakhir, kita salah mengambil keputusan,” buka Kolonel Inf Yudi Diliyanto, Kasubdit Siskam Info Sdirpit Pusterad yang mewakili Ketua Tim Brigjen TNI Heri Dwi Subagyo.
Kegiatan bertajuk _Target Info Data Teritorial Satkowil_ ini memang tidak glamor. Tapi di baliknya ada urusan besar: Pembinaan Teritorial atau Binter.
*Dari Jalanan ke Spreadsheet*
Selama ini, Babinsa dikenal sebagai “prajurit pengumpul informasi”. Mereka hafal berapa jumlah warga, berapa hektar sawah, siapa tokoh masyarakat, sampai titik rawan banjir di desa binaannya.
Masalahnya, data itu selama ini sering ditulis di buku, di WhatsApp grup, atau diingat di kepala. Padahal era sekarang, satu klik data bisa jadi dasar kebijakan Bupati, Dandim, bahkan Panglima.
“Penyusunan dan pembaruan data teritorial merupakan bagian yang sangat penting dalam mendukung pelaksanaan pembinaan teritorial di satuan kewilayahan,” tegas Kolonel Yudi di hadapan para Perwira Staf, Danramil, dan Babinsa.
Karena itu, Pusterad tidak hanya memberi materi. Mereka langsung “uji petik”. Perwakilan Babinsa dipanggil satu-satu. Ditanya: bagaimana cara input data? Dari mana sumbernya? Bagaimana memutakhirkan kalau ada warga pindah?
Tim ingin memastikan sistem pengelolaan data teritorial benar-benar jalan, bukan hanya jadi arsip.
*Sinergi Kunci Validasi Data*
Yang menarik, di ruangan itu tidak hanya ada TNI. Hadir juga unsur DPMD dan BPBD Kabupaten Mojokerto. Danrem 082/CPYJ Kolonel Inf Batara, Kasrem Letkol Arh Imam Musahirul, hingga Kasdim 0815/Mojokerto Mayor Inf Suwadi juga ikut memantau.
Alasannya sederhana. Data teritorial tidak bisa dikerjakan TNI sendirian.
“Keberhasilan pengelolaan data teritorial sangat ditentukan oleh sinergi antara aparat kewilayahan dengan pemerintah daerah serta seluruh komponen masyarakat,” ujar Kolonel Yudi.
Bayangkan, Babinsa tahu di RT 03 ada 5 KK miskin baru. DPMD punya data DTKS. BPBD punya peta rawan bencana. Kalau tiga data ini digabung dan valid, maka bantuan bisa tepat sasaran.
Kasdim Mayor Inf Suwadi mengamini. Menurutnya, kegiatan ini penting untuk meningkatkan profesionalisme aparat kewilayahan.
“Melalui pengarahan dan uji petik yang diberikan Tim Pusterad, kami berharap para Perwira Staf, Danramil, dan Babinsa jajaran Kodim 0815/Mojokerto semakin memahami pentingnya pengelolaan data teritorial serta terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh komponen masyarakat dalam memperoleh data yang faktual,” pungkasnya.
*Perang Berikutnya Dimulai dari Data*
Usai 3 jam materi dan tanya jawab, kegiatan ditutup. Tertib, lancar, aman. Tapi tugas belum selesai. Dari Mojokerto, Tim Pusterad langsung bertolak ke Kodim 0814/Jombang. Targetnya sama.
Di era sekarang, medan pertempuran tidak hanya di hutan atau perbatasan. Ia juga ada di dalam database.
Dan TNI menyadari, untuk memenangkan “perang” kesejahteraan rakyat, pelurunya adalah data yang akurat. Penembaknya adalah Babinsa. Dan penanggung jawabnya adalah sinergi semua pihak.
Karena pada akhirnya, negara tidak bisa membangun dari data yang salah. (Jay)
