Terpilih Kembali, Kepala Desa Kunjorowesi Susi Darsono Mohon Dukungan Warga untuk Atasi Kekeringan

Terpilih Kembali, Kepala Desa Kunjorowesi Susi Darsono Mohon Dukungan Warga untuk Atasi Kekeringan
Terpilih Kembali, Kepala Desa Kunjorowesi Susi Darsono Mohon Dukungan Warga untuk Atasi Kekeringan

Majalahglobal.com, Mojokerto – Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Kunjorowesi berlangsung aman dan damai. Ada dua calon Kepala Desa Kunjorowesi. Nomor urut 1 yakni Susi Darsono sedangkan Nomor urut 2 yakni Sukron Yusuf.

 

Camat Ngoro Sugeng Riyadi, S.I.P, M.M. mengatakan, di Desa Kunjorowesi ini ada 5036 Daftar Pemilih Tetap (DPT) sedangkan jumlah TPSnya ada 11 TPS.

 

“Bapak Susi Darsono mendapatkan suara 2881 sedangkan Bapak Sukron Yusuf mendapatkan suara 1423. Untuk suara sah ada sebanyak 4304 sedangkan suara tidak ada sebanyak 46. Jadi total jumlah pemilih yang menggunakan hak pilihnya ada 4350 sedangkan jumlah pemilih yang tidak hadir ada 686. Semoga Bapak Susi Darsono bisa semakin membuat Desa Kunjorowesi lebih maju lagi,” pesannya, Rabu (14/9/2022) di Kantor Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto.

Baca Juga :  Bupati Mojokerto dan Mardiasih Resmikan Jembatan Desa Sugeng dan Serahkan SPPT PBB P2

 

Sementara itu, Kepala Desa Kunjorowesi Terpilih, Susi Darsono mengucapkan syukur kepada Allah SWT dan terima kasih banyak kepada warga Desa Kunjorowesi tercinta.

 

“Alhamdulillah, akhirnya saya Susi Darsono bisa terpilih kembali menjadi Kepala Desa Kunjorowesi 3 periode berkat kerjasama warga Desa Kunjorowesi yang telah mendukung saya. Mudah-mudahan saya bisa melanjutkan pembangunan dan program di Desa Kunjorowesi yang pada periode sebelumnya masih belum tersentuh,” ungkapnya.

 

Terkait kekeringan di Desa Kunjorowesi, ia berterima kasih kepada BPBD Kabupaten Mojokerto yang telah membantu Desa Kunjorowesi untuk mendapatkan bantuan air bersih.

 

“Pemerintah Desa Kunjorowesi juga bakal terus menganggarkan penanggulangan kekeringan walau dengan anggaran terbatas. Karena memang anggaran bencana untuk desa itu tidak banyak. Yang banyak itu untuk BLT dan ketahanan pangan. Hal itu dikarenakan menyesuaikan dengan aturan dan mekanisme yang berlaku,” ujarnya. (Jay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *