Sikka – Lebih dari 20% kasus Omicron di Indonesia saat ini adalah merupakan kasus penularan lokal, bahkan berbagai pihak memprediksi bahwa puncak kenaikan kasus Covid-19 akan terjadi pada pertengahan Februari 2022 hingga Maret 2022. Hal ini disampaikan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), melalui press release yang diterima media ini, Senin (22/01/2022).
Dalam rilis dijelaskan, pada awal tahun 2022 kasus Covid-19 di Indonesia meningkat signifikan dari tahun sebelumnya. Berdasarkan data harian dari Satgas Covid-19 pada 23 Januari 2022, angka penambahan kasus Covid-19 yaitu 2.925 kasus. Sementara untuk kasus varian Omicron sendiri terkonfirmasi 1.629 kasus.
Meningkatnya Varian Omicron ini akan lebih banyak lagi bila ditambah dengan kasus yang masuk kategori “Probable” yang sedang menunggu hasil pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS). Pada tanggal 22 Januari 2022 dilaporkan 2 kasus kematian pada pasien Omicron di Indonesia. Hingga hari ini, terjadi peningkatan seluruh kasus Covid-19 yang sangat signigikan jika dibandingkan dengan data 1 Januari 2022.
Peningkatan ini diduga diakibatkan oleh varian baru Covid-19 yaitu varian Omicron. Varian Omicron memiliki kemampuan penularan dan memperbanyak diri yang lebih tinggi dibandingkan dengan varian-varian sebelumnya.
Data menunjukkan bahwa sebagian besar kasus Omicron merupkana kasus tanpa gejala. Kasus tanpa gejala ini sebagian besar ditemukan pada individu yang telah divaksinasi lengkap. Hal ini menunjukan bahwa vaksinasi bermanfaat untuk mencegah terjadi gejala pada individu yang telah divaksin.
Jika kasus terus meningkat dan dan tidak terkendali maka, ada kemungkinan sistem kesehatan Indonesia akan kewalahan. Oleh sebab itu pemerintah dan masyarakat harus maksimal dalam melakukan upaya-upaya penanganan Covid-19 ini, terutama pada pencegahan penularan. Menyikap kondisi ini, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mendorong dan merekomendasikan;
Masyarakat yang layak untuk divaksin segera menjalani vaksinasi Covid-19 lengkap (dua dosis) di sentra pelayanan vaksinasi terdekat; Seluruh masyarakat selalu menerapkan protokol kesehatan yakni, memakai masker; menjaga jarak; mencuci tangan; tidak bepergian jika tidak mendesak termasuk perjalanan ke luar negeri; menghindari kerumunan dan membatasi mobilitas.
Selanjutnya, semua pihak harus waspada dengan mengatahui gejala Covid-19 varian Omicron. Keluhan klinis dari varian Omicron yang terbanyak adalah, batuk kering; nyeri tenggorok, tenggorokan gatal (merupakan keluhan tersering), Merasa kelelahan atau mudah lelah, Hidung tersumbat/pilek, Demam, Nyeri kepala,dan gejala lainnya, namun jarang terjadi seperti, mual dan muntah, sesak napas, demam dan diare.
Gejala varian ini terkesan ringan, namun terdapat berbagai data yang menyebutkan bahwa gejala dapat menjadi berat seperti demam tinggi dan sesak napas berat pada kelompok lanjut usia, kelompok masyarakat dengan komorbiditas (penyakit kronik lainnya), dan anak-anak sehingga memerlukan perawatan di rumah sakit. Untuk itu perlu kewaspadaan khusus untuk ketiga kelompok ini.
Lebih lanjut, jika ada yang mengalami gejala seperti yang disebutkan diatas, segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan terdekat, melakukan isolasi mandiri di rumah, memperketat dan tetap disiplin pada protokol kesehatan, mengkomsumsi vitamin, mencukupi kebutuhan gizi, memperbanyak istirahat, dan tidak menunda-nunda untuk memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Berikutnya, setiap individu masyarakat diharapkan mampu menjadi agen edukasi tentang Covid-19 terkait varian Omicron, gejala dan keluhan cara pencegahan, dan tata cara isolasi mandiri; selai itu pemerintah agar memaksimalkan aktivitas 3T, segera mengejar target cakupan vaksinasi primer dan Booster, serta memetakan dan mempersiapkan tempat-tempat isolasi terpusat. Masyarakat diminta untuk tidak panic namun, tetap waspada terhadap Covid-19 varian Omicron. (Frans Dhena)










