Batang Hari, majalahglobal.com – Selasa siang itu, udara di Muara Bulian terasa lebih lembap dari biasanya. Namun di dalam sebuah bangunan bercat terang milik Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Muara Bulian, suasana justru terasa berbeda.
Bukan ruangan sidang. Bukan pula ruangan interogasi.
Itu adalah Ruang Makan Merdeka. Sebuah tempat yang sengaja diberi nama merdeka, meski para penghuninya sedang menjalani masa pembinaan karena berhadapan dengan hukum.
Pukul 12.00, puluhan remaja berbaris rapi. Piring-piring sudah tersaji. Tidak ada yang langsung menyentuh sendok. Semua menunggu satu aba-aba.
Di barisan depan, seorang remaja melangkah maju. Suaranya sedikit bergetar, tetapi jelas. Ia menyampaikan laporan kesiapan makan siang.
Di hadapannya, berdiri seorang perempuan berkerudung. Ia bukan petugas. Ia adalah Zulva Fadhil, istri Bupati Batang Hari, yang hari itu datang bukan sebagai Ketua Tim Penggerak PKK semata, melainkan sebagai tamu yang diminta menerima penghormatan itu.
Zulva tersenyum. Ia mengangguk. Lalu, ia duduk. Bukan di kursi khusus. Bukan di meja terpisah. Ia duduk di antara mereka.
Satu meja. Satu menu. Satu suasana.
Makan yang Bukan Soal Lauk
Bagi banyak orang, makan siang adalah rutinitas. Bagi anak-anak di dalam LPKA, makan siang adalah pelajaran.
Di tempat ini, makan tidak dimulai sebelum ada apel. Apel bukan untuk menakut-nakuti. Apel adalah latihan. Latihan untuk menghargai makanan, menghargai orang lain, dan menghargai tata krama yang mungkin sempat mereka lupakan di luar sana.
Zulva mengaku, ia tidak menyangka akan merasakan kehangatan seperti itu.
“Saya merasa senang dan bangga dapat hadir serta merasakan langsung suasana kebersamaan di LPKA Muara Bulian. Bagi saya, kegiatan seperti ini memiliki makna yang luar biasa karena kita tidak hanya berbagi makanan, tetapi juga berbagi perhatian, kepedulian, dan kebahagiaan,” kata Zulva.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi anak-anak yang duduk di sekelilingnya, kalimat itu mungkin terdengar seperti pengakuan: bahwa mereka masih dianggap ada.
Bahwa masa lalu mereka tidak membuat mereka kehilangan hak untuk ditemani makan siang.
Zulva berharap, pertemuan singkat itu bisa menjadi bahan bakar. Bukan bahan bakar untuk melupakan kesalahan, melainkan untuk memperbaiki diri dan menata ulang masa depan yang sempat goyah.
Cara Lain Membina
Kepala LPKA Kelas II Muara Bulian, J. Kasogi Surya Fattah, tidak melihat makan bersama sebagai acara seremonial belaka.
Bagi dia, makan bersama adalah strategi pembinaan yang paling manusiawi.
Di dalam sistem pemasyarakatan anak, pendekatan yang keras sering kali tidak bekerja. Yang bekerja justru adalah rasa dianggap sebagai keluarga.
“Kehadiran Ibu Zulva Fadhil dan para tamu undangan serta kesediaan mereka berbagi momen makan bersama menjadi pengalaman berharga sekaligus motivasi bagi anak-anak bahwa mereka tetap mendapatkan perhatian, kepedulian, dan dukungan dari berbagai elemen masyarakat,” ujar Kasogi.
Artinya, pembinaan tidak melulu soal kurungan dan aturan. Ada kalanya, pembinaan hadir dalam bentuk sesederhana: seseorang mau duduk, mendengarkan, dan makan bersama tanpa menjaga jarak.
Di meja makan itulah, sekat antara “pejabat” dan “anak binaan” seolah luruh. Yang tersisa adalah manusia yang saling menyapa.
Siapa Saja yang Hadir
Selain Zulva, sejumlah tokoh daerah turut hadir menyaksikan momen tersebut.
Tampak hadir Kepala BNN Kabupaten Batang Hari, AKBP Zuhairi, M.T., Ketua KONI Kabupaten Batang Hari, Tandri Saputra, S.E., M.M., serta Ketua Dharma Wanita Persatuan LPKA Muara Bulian, Ny. Lia Kasogi.
Kehadiran mereka, menurut pihak LPKA, adalah pesan penting: bahwa anak-anak ini tidak dibina sendirian oleh satu lembaga. Ada banyak pihak yang peduli.
Sebelum meninggalkan lokasi, Zulva sempat berbincang ringan dengan beberapa anak binaan. Tidak ada kamera yang merekam semua percakapan itu. Tidak ada naskah yang disiapkan.
Yang ada hanya tawa kecil di sela-sela makan siang.
Dan di Muara Bulian, siang itu, tawa tersebut terasa seperti sesuatu yang langka sekaligus berharga: bukti bahwa harapan masih bisa tumbuh, bahkan di tempat yang paling tidak diduga.
(Darmawan)










