LUMAJANG, Majalahglobal.com – Pagi di Desa Mojo, Kecamatan Padang, Kabupaten Lumajang, selalu dimulai dengan aroma yang khas. Bukan kopi, bukan embun, melainkan wangi tembakau yang dijemur di halaman rumah-rumah petani. Di desa inilah, sebuah komoditas lokal bernama tembakau Mojo tumbuh, dirawat, dan menjadi bagian dari denyut kehidupan warga.
Bagi orang luar, tembakau mungkin hanya sekadar tanaman perkebunan. Namun bagi warga Desa Mojo, tembakau adalah identitas. Namanya sendiri melekat pada nama desa.
Mas Roni, salah seorang petani yang telah puluhan tahun menggeluti tembakau Mojo, tidak ragu mengaitkan komoditas ini dengan tanah kelahirannya. Menurut dia, tembakau ini tidak bisa dipisahkan dari Mojo itu sendiri.
“Kalau menurut dongeng, susur Minak Jinggo dahulu jatuh di tanah Mojo,” kata Mas Roni, mengulang cerita yang ia dengar turun-temurun dari para tetua desa.
Sebuah kalimat pendek, namun menyimpan lapisan makna yang panjang. Minak Jinggo, tokoh yang kerap muncul dalam legenda Blambangan dan cerita rakyat Jawa Timur, tiba-tiba hadir dalam narasi tentang tembakau. Apakah benar ada kaitannya? Ataukah ini sekadar cara masyarakat memberi ruh pada komoditas yang menghidupi mereka?
Di sinilah kehati-hatian jurnalistik diperlukan. Cerita yang disampaikan Mas Roni adalah cerita tutur, bagian dari folklor lisan yang hidup di masyarakat. Ia menarik, layak didokumentasikan sebagai kekayaan budaya, namun belum dapat diverifikasi sebagai fakta sejarah. Untuk itu, penelusuran lebih dalam kepada sesepuh desa, tokoh adat, budayawan Lumajang, serta arsip lokal menjadi langkah penting agar cerita ini tidak berhenti sebagai dongeng semata.
*Dari Lahan ke Harapan*
Terlepas dari cerita asal-usulnya, tembakau Mojo adalah realitas pertanian yang nyata. Di Desa Mojo, tanaman ini menjadi salah satu komoditas unggulan yang dikenal luas.
Publikasi Universitas Jember (UNEJ) pada 2024 mencatat adanya program pemberdayaan petani tembakau Mojo. Fokusnya bukan hanya pada peningkatan hasil panen, tetapi juga edukasi tentang pengendalian hama dan penyakit tanaman, sebuah persoalan klasik yang kerap menghantui petani tembakau rakyat.
Perhatian serupa juga terlihat dari pemerintah kecamatan. Dalam laman resmi Kecamatan Padang, tembakau lokal Desa Mojo disebut sebagai bagian dari potensi pertanian yang terus didorong pengembangannya.
Artinya, tembakau Mojo tidak lagi sekadar urusan kebun belakang rumah. Ia telah menjadi komoditas yang mendapat perhatian dari akademisi dan pemerintah.
*Lebih dari Sekadar Komoditas*
Jika dilihat lebih jauh, tembakau Mojo mengajarkan satu hal: bahwa sebuah produk pertanian bisa memiliki dua wajah. Wajah pertama adalah ekonomi, sebagai sumber penghidupan. Wajah kedua adalah kultural, sebagai penanda identitas dan penjaga ingatan kolektif.
Dongeng tentang Minak Jinggo yang jatuh di tanah Mojo, apapun kebenarannya, telah berhasil membuat tembakau ini memiliki cerita. Dan di era di mana konsumen tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli cerita di baliknya, hal tersebut adalah modal yang sangat berharga.
Kini, tantangannya adalah bagaimana menjaga keduanya tetap hidup. Bagaimana petani tetap bisa sejahtera dari tembakau Mojo, sembari cerita lokal yang menyertainya tetap dirawat, diteliti, dan diceritakan kepada generasi berikutnya.
Karena pada akhirnya, tembakau Mojo bukan hanya tentang daun yang dijemur dan dirajang. Ia tentang Desa Mojo itu sendiri, tentang tanah yang memberi nama, dan tentang manusia yang memberi makna. (Red)










