Majalahglobal.com, Mojokerto – Sejarah penjajahan dan tantangan bangsa di era kemerdekaan kembali menjadi sorotan. Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA, mengingatkan agar masyarakat Indonesia tidak euforia dan melupakan makna kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah dan air mata.
Pernyataan itu disampaikannya dalam Pelantikan Pengurus DPC NasDem se-Kabupaten Mojokerto, Sabtu (8/8/2026/ di Istana Afia. Menurut Kiai Asep, perjuangan para pendahulu bangsa tidak bisa disamakan dengan kondisi saat ini. Ia mencontohkan kekejaman penjajahan Belanda yang dialami rakyat.
“Kita waktu dijajah diperlakukan sebagai binatang. Belanda dua kali mengumpulkan di tengah lapangan. Saat sampai di tengah lapangan ditembaki penjajah Belanda,” ujarnya.
Ia menyebut peristiwa itu menjadi salah satu faktor yang menumbuhkan keberanian bangsa Indonesia untuk melawan. Puncaknya, kata dia, adalah peristiwa 10 November yang menelan banyak korban.
“30.000 masyarakat Indonesia yang meninggal saat 10 November. Dan akhirnya kita merdeka. Sayang sekali jika kita merdeka lalu euforia dan lupa dengan kemerdekaannya,” katanya.
*Soroti Ketergantungan Ekonomi dan Gaya Hidup*
Lebih lanjut, Kiai Asep menyoroti bentuk penjajahan baru yang menurutnya terjadi melalui ketergantungan ekonomi dan gaya hidup. Ia menyebut Amerika Serikat dan Jepang sebagai contoh negara yang memiliki pengaruh besar terhadap Indonesia.
“Amerika menjajah kita habis-habisan. Puluhan ton emas Freeport setiap bulan dikirim ke Amerika. Masyarakat Indonesia senang beli KFC dan McD juga membuat Amerika semakin kaya,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, ia juga menyinggung peran negara lain dalam rantai perdagangan Indonesia. “Jepang dengan teknologi mobilnya. Dan Singapura juga menjajah kita. Setiap bahan baku dari Indonesia harus melalui makelar yakni Singapura dulu,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi bahan evaluasi bersama agar Indonesia bisa benar-benar berdaulat di bidang ekonomi.
*Tolak Tawaran Jadi Komisaris BUMN*
Dalam kesempatan yang sama, Kiai Asep juga menyinggung kondisi Badan Usaha Milik Negara atau BUMN. Ia menilai masih ada BUMN yang merugikan negara dan membebani rakyat kecil melalui pajak.
“Rakyat kecil kasihan masih dipungut pajak. Harusnya BUMN yang menghasilkan negara. Saya pernah ditawari menjadi komisaris BUMN namun saya tolak meskipun gajinya ratusan juta per bulan,” katanya.
Ia menyebut kondisi BUMN yang terus merugi sebagai “penyakit” yang harus segera dibenahi. “Menurut saya itu penyakit, karena BUMN itu terus merugi,” ucapnya.
Kiai Asep menegaskan dirinya lebih memilih hidup sederhana dan fokus mengurus pesantren. “Saya lebih nyaman dengan kehidupan saya,” ujarnya.
*Dukung Program Sosial Pemerintah Daerah*
Di akhir pernyataannya, Kiai Asep juga menyinggung perannya dalam mendukung program sosial di Kabupaten Mojokerto. Ia mengaku turut membantu operasional kegiatan Bupati Mojokerto.
“Operasional Bupati Mojokerto saya yang nanggung. Makanya Bupati Mojokerto sering bersedekah di saat kunjungan-kunjungan,” katanya.
Ia berharap, dengan semangat berpartai dan berorganisasi, cita-cita para leluhur untuk Indonesia yang maju, adil, dan makmur dapat tercapai.
“Tujuan berpartai, tujuan bernasdem adalah bagaimana kita menciptakan keinginan leluhur Indonesia untuk maju, adil, dan makmur,” pungkasnya. (Jay/Adv)
