mahkota555

Dulu Hancur Diterjang Banjir, Kini Jembatan Garuda Beton Kedunggempol 37 Meter Siap Pakai

MOJOKERTO – Senyum lega akhirnya muncul di wajah warga Desa Kedunggempol, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Setelah bertahun-tahun memutar jauh karena jembatan putus, kini akses antar dusun kembali dibuka.

 

 

Jembatan Perintis Garuda Beton Tahap V yang menghubungkan Dusun Balongcangak dengan Dusun Kedungudi telah rampung 100 persen dan siap digunakan warga.

 

*37 Meter, Kapasitas 5 Ton untuk 2.388 Jiwa*

Jembatan sepanjang 37 meter dengan lebar 3 meter itu mulai dibangun sejak 8 Juni 2026. Pembangunan dilakukan untuk mengganti jembatan lama yang rusak parah akibat banjir.

 

Seluruh tahapan pekerjaan sudah tuntas. Mulai dari pembongkaran jembatan lama, pemasangan gelagar baja WF, pengecoran lantai beton, pembangunan tembok penahan tanah TPT, pengecatan, hingga pemasangan prasasti.

 

Jembatan ini dirancang dengan kapasitas hingga 5 ton. Keberadaannya ditargetkan memberi manfaat bagi sedikitnya 2.388 jiwa atau 827 kepala keluarga di wilayah tersebut.

 

*Warga: Aktivitas Kini Lebih Mudah dan Aman*

Momen peninjauan jembatan berlangsung haru. Warga bersama pemerintah desa dan personel TNI berjalan bersama di atas jembatan baru. Deretan bendera Merah Putih dipasang di sepanjang jembatan, menambah semarak rasa syukur.

 

Salah satu warga, Siswati (56), tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.

“Kami sangat senang dan berterima kasih. Dulu jembatan ini rusak karena banjir sehingga kalau mau ke dusun sebelah harus memutar jauh. Sekarang sudah ada jembatan yang bagus, aktivitas warga jadi lebih mudah, cepat, dan aman,” ungkapnya.

 

*Bukti Gotong Royong TNI dan Rakyat*

Pembangunan jembatan ini tidak lepas dari keterlibatan personel TNI dan partisipasi aktif masyarakat. Dengan semangat gotong royong, pengerjaan bisa selesai tepat waktu.

 

Sinergi itu menjadi bukti bahwa kolaborasi antara TNI dan rakyat mampu menghadirkan infrastruktur nyata yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

 

Kini, anak sekolah tak perlu lagi memutar jauh. Petani bisa lebih cepat mengangkut hasil panen. Dan warga bisa menyeberang dengan tenang, tanpa takut jembatan ambruk diterjang banjir lagi. (Jay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *