mahkota555

Khotmil Qur’an ke-26, Advokat Hadi Purwanto: Jangan Lupa Jasa Orang Tua dan Pahlawan

Khotmil Qur'an ke-26, Advokat Hadi Purwanto: Jangan Lupa Jasa Orang Tua dan Pahlawan
Pembacaan selawat
Majalahglobal.com, Mojokerto – Suasana khusyuk kembali terasa di Aula Makam Umum Dusun Banjarsari, Kedunglengkong, Dlanggu, Mojokerto. Minggu 2 Agustus 2026, Paguyuban Rutinan Khotmil Qur’an Makam Umum Banjarsari menggelar agenda rutin bulanan yang kini sudah masuk periode ke-26.
Khotmil Qur'an ke-26, Advokat Hadi Purwanto: Jangan Lupa Jasa Orang Tua dan Pahlawan
Advokat Hadi Purwanto saat foto bersama jemaah Khotmil Qur’an

Kegiatan yang dimulai pukul 12.00 WIB ba’da Dhuhur itu diisi dengan pengajian, doa bersama, dan kenduri. Lokasinya sengaja dipilih di Makam Eyang Tumenggung Soekarto Widjoyono atau Mbah Sentono, sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur.

 

Acara dibuka dengan lantunan ayat suci. Surat Al-Ashr ayat 1-3 kembali mengingatkan para jamaah.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasehati supaya menetapi kesabaran”.

 

Waktu Terus Berjalan, Jangan Sampai Rugi

 

Penanggung Jawab kegiatan, Advokat Hadi Purwanto, S.T., S.H., M.H., dalam sambutannya menyebut pemilihan ayat tersebut bukan kebetulan. Menurutnya, pesan dalam Surat Al-Ashr sangat relevan dengan kondisi masyarakat masa kini yang serba cepat dan sibuk.

 

“Waktu itu terus berjalan dan tidak bisa diputar kembali. Kalau kita hanya disibukkan urusan dunia tanpa diimbangi iman dan perbuatan baik, maka kita termasuk golongan yang merugi,” kata Hadi.

 

Ia lalu menjabarkan empat poin penting dalam ayat tersebut. Pertama beriman, kedua beramal saleh, ketiga saling mengingatkan dalam kebenaran, dan keempat saling menguatkan dalam kesabaran.

 

“Empat hal ini harus kita pegang erat-erat supaya hidup kita tidak kosong dan sia-sia,” ujarnya.

 

Teladani Orang Tua dan Pahlawan, Itu Juga Ibadah

 

Lebih lanjut, Hadi menyoroti pentingnya menghargai jasa orang tua serta para pahlawan. Ia menilai, kegiatan di area pemakaman ini bukan hanya sekadar rutinitas, tetapi juga momentum untuk berkaca dan meneladani perjuangan mereka.

 

“Kehadiran kita di sini bukan cuma untuk berdoa. Tapi juga untuk meneladani. Meneladani pengorbanan orang tua yang sudah membesarkan dan mendidik kita. Meneladani perjuangan para pahlawan yang sudah berjuang untuk negeri ini. Jika kita melupakan jasa-jasa mereka, maka kita termasuk orang yang merugi,” tegas Hadi.

 

Menurutnya, menghormati dan mendoakan para pendahulu merupakan salah satu bentuk amal saleh yang pahalanya terus mengalir.

 

“Zaman sekarang banyak orang yang terlalu sibuk dengan urusan pribadi sampai lupa silaturahmi dan lupa mendoakan leluhur. Padahal salah satu kunci keberkahan hidup itu datang dari menghargai orang-orang yang sudah mendahului kita,” tambahnya.

 

Hadi juga mengajak para peserta untuk mengevaluasi diri. Apakah kesibukan sehari-hari sudah dibarengi niat ibadah dan perbuatan bermanfaat.

 

“Kita sering merasa sibuk, tapi pertanyaannya, apakah kesibukan itu mendatangkan keberkahan. Apakah pekerjaan kita sudah diniatkan sebagai ibadah dan amal kebaikan. Ayat ini mengajak kita untuk introspeksi,” jelasnya.

 

5 Pelajaran dari Piala Dunia Versi Ustaz Mukid

Khotmil Qur'an ke-26, Advokat Hadi Purwanto: Jangan Lupa Jasa Orang Tua dan Pahlawan
Ustaz Mukid saat memberikan sambutan

Penasihat kegiatan, Ustaz Mukid, turut memberikan tausiyah. Ia mengajak jamaah untuk berlomba dalam kebaikan dan mencari ridho Allah.

 

“Kita datang ke majelis ini tujuannya satu, mencari ridho Allah. Jangan sampai semangat kita kalah dengan semangat nonton Piala Dunia. Kalau Piala Dunia datang, orang rela begadang tidak kenal waktu,” ucapnya.

 

Ustaz Mukid kemudian menarik 5 pelajaran dari ajang Piala Dunia. Pertama, tim yang ikut pasti punya mental juara. Kedua, kemenangan tidak diraih dalam semalam, butuh latihan bertahun-tahun dan disiplin tinggi. Sama seperti muslim, harus disiplin salat, tilawah, dan dzikir.

 

Ketiga, pemain hebat tidak bisa menang sendirian. Butuh kerja sama tim. Begitu juga kita, harus saling tolong dalam kebaikan dan ketakwaan. “Doa kita sangat dinantikan oleh para ahli kubur,” katanya.

 

Keempat, ada menang ada kalah. Dalam hidup, Allah juga menguji kita dengan rasa takut dan kekhawatiran. Kelima, pertandingan berakhir saat wasit meniup peluit. Dalam hidup, kita juga punya batas waktu. “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Yang kita bawa nanti hanya amal ibadah,” tuturnya.

 

Amanah Harus Dijaga, Jangan Lupakan Guru

Khotmil Qur'an ke-26, Advokat Hadi Purwanto: Jangan Lupa Jasa Orang Tua dan Pahlawan
K.H. Hasan Mathori saat menyampaikan ceramahnya

Penasihat Jamaah, K.H. Hasan Mathori, mengingatkan agar kegiatan ini dijalani dengan sabar dan ikhlas. Ia juga mengingatkan bahwa segala yang ada di dunia ini hanyalah titipan.

 

“Kita ini cuma diberi amanah harta oleh Allah. Kalau kita taat perintah-Nya, nikmat akan ditambah. Saat tiba waktunya zakat maal, tunaikan. InsyaAllah rezeki akan dilapangkan. Kalau tidak, bisa jadi datang ujian berupa sakit atau yang lainnya,” jelas Kiai Hasan.

 

Di akhir, ia berpesan agar tidak melupakan jasa guru. “Orang tua adalah guru pertama kita. Jasanya sangat besar. Begitu juga para pahlawan. Hormati jasa mereka supaya hidup kita berkah,” pungkasnya.

 

Kegiatan rutinan ini sudah berjalan 26 bulan tanpa putus. Panitia berharap, agenda ini bisa terus istiqomah dan menjadi inspirasi bagi wilayah lain untuk melakukan hal serupa. (Jay/Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *