Mojokerto – Senin, 2 November 2026. Pagi itu, SDN Gading, Desa Gading, Kecamatan Jatirejo, Mojokerto, terasa berbeda.
Biasanya, pagi di sekolah itu diisi dengan baris-berbaris, menyanyikan lagu, lalu masuk kelas untuk belajar.
Pagi itu, ada antrean yang berbeda. Antrean anak-anak yang wajahnya tegang. Ada yang memegangi tangan temannya erat-erat. Ada yang berbisik, “Sakit tidak ya?” Ada yang berusaha sembunyi di belakang guru.
Hari itu adalah hari Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
Dan di tengah-tengah ketegangan itu, hadir seorang sosok yang membuat suasana menjadi lebih tenang: Babinsa Koramil 0815/15 Jatirejo, Sertu Roby.
Bukan Datang untuk Menjaga, Tapi untuk Menenangkan
Bagi sebagian orang, kehadiran TNI di sekolah mungkin identik dengan keamanan. Dengan seragam loreng dan sikap tegas.
Namun Senin itu, Sertu Roby datang dengan peran yang berbeda.
Ia tidak datang untuk menjaga. Ia datang untuk mendampingi.
Ia mendampingi tenaga kesehatan (Nakes) dalam pelaksanaan BIAS di SDN Gading, yang dilaksanakan oleh Bidan Desa Gading, Ulfa Febriana, http://A.Md.Keb., bersama Tim Kesehatan Puskesmas Jatirejo.
Kegiatan ini juga didukung penuh oleh Kepala SDN Gading, Sulistria Anjarsari, http://S.Pd., para guru, dan sekitar 72 warga yang turut hadir.
Dalam pelaksanaannya, Sertu Roby tidak hanya berdiri di pojok ruangan. Ia turut membantu kelancaran kegiatan, mulai dari penyiapan sarana dan prasarana, hingga memberikan dukungan kepada para siswa selama proses imunisasi berlangsung.
Dengan pendekatan yang humanis, ia berupaya menciptakan suasana nyaman agar anak-anak tidak merasa takut saat menerima imunisasi.
Ia mengajak anak-anak bercanda. Ia menepuk pundak mereka. Ia meyakinkan mereka bahwa suntikan itu hanya sebentar, dan setelah itu mereka akan menjadi lebih kuat.
Kehadiran Babinsa di tengah-tengah siswa itu menjadi bentuk perhatian dan dukungan TNI terhadap upaya pelayanan kesehatan di lingkungan sekolah.
63 Anak, 3 Kelas, 1 Tujuan: Sehat
Imunisasi kali ini menyasar 63 anak dari tiga kelas yang berbeda, dengan jenis imunisasi yang disesuaikan dengan usianya.
*Kelas I: 24 anak, Imunisasi DT*
Ini adalah imunisasi difteri dan tetanus, untuk anak-anak yang baru memulai perjalanan sekolahnya. Untuk mereka, ini mungkin adalah pengalaman pertama disuntik di sekolah, tanpa ditemani orang tua.
*Kelas II: 26 anak, Imunisasi TD*
Untuk kelas II, imunisasi TD diberikan sebagai penguat, agar perlindungan yang sudah didapatkan sebelumnya tetap terjaga.
*Kelas V: 13 anak, Imunisasi TD*
Untuk kelas V, yang sudah lebih besar dan lebih berani, imunisasi ini adalah pengingat bahwa menjaga kesehatan bukan hanya tugas anak kecil, tapi juga tugas mereka yang sudah remaja.
Total 63 anak. 63 jarum suntik. 63 momen di mana anak-anak belajar bahwa rasa takut bisa dikalahkan.
Pesan Sederhana dari Seorang Babinsa
Usai kegiatan, Sertu Roby menyampaikan pesan yang sederhana namun mengena.
Ia mengatakan, pendampingan tersebut merupakan bagian dari kepedulian Babinsa terhadap kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak usia sekolah.
“Sebagai Babinsa, kami selalu siap mendukung kegiatan positif di wilayah, termasuk program kesehatan bagi anak-anak sekolah. Harapannya, melalui imunisasi ini, anak-anak dapat memperoleh perlindungan kesehatan sehingga bisa tumbuh sehat, kuat, dan lebih bersemangat dalam belajar,” pungkasnya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya ada makna yang dalam.
Karena bagi Babinsa, menjaga wilayah bukan hanya soal menjaga keamanan. Menjaga wilayah juga berarti menjaga anak-anaknya agar tetap sehat. Menjaga agar generasi penerus desa bisa tumbuh kuat, bisa belajar dengan semangat, dan bisa menjadi kebanggaan desanya kelak.
Imunisasi yang Tidak Terlupakan
Kegiatan BIAS di SDN Gading itu akhirnya berakhir. Anak-anak kembali ke kelas dengan wajah lega, sebagian masih memegangi bekas suntikan, sebagian sudah tertawa lagi bersama teman-temannya.
Mereka mungkin akan lupa soal jenis imunisasi DT atau TD. Mereka mungkin akan lupa soal jumlah 24, 26, dan 13.
Tapi mereka tidak akan lupa satu hal: bahwa pada hari mereka takut disuntik, ada seorang Babinsa yang menemani mereka, yang membuat mereka merasa tidak sendirian.
Dan di situlah letak keberhasilan yang sebenarnya dari kegiatan ini. Bukan hanya soal 63 anak yang telah diimunisasi. Tapi soal 63 anak yang merasa bahwa sekolah adalah tempat yang aman, bahwa kesehatan adalah hal yang penting, dan bahwa mereka dijaga oleh banyak orang yang peduli kepada mereka.
*(Darmawan)*
