Khotmil Qur’an ke-29 di Makam Banjarsari, Advokat Hadi Purwanto Bicara Pengingat Mati, Ustaz Mukid Bicara Pahala Taman Surga, Kiai Mathori Bicara Hutang Bakti Orang Tua

Khotmil Qur'an ke-29 di Makam Banjarsari, Advokat Hadi Purwanto Bicara Pengingat Mati, Ustaz Mukid Bicara Pahala Taman Surga, Kiai Mathori Bicara Hutang Bakti Orang Tua
Kolase foto Khotmil Qur'an ke-29 di Makam Umum Banjarsari
Majalahglobal.com, Mojokerto – Ada pemandangan tak biasa di Dusun Banjarsari, Desa Kedunglengkong, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, Minggu (1/11/2026) pagi. Di saat warga lain masih asyik rebahan, puluhan jemaah justru duduk bersila di antara gundukan nisan Makam Umum.
Advokat Hadi Purwanto saat foto bersama keluarga besarnya

Mereka bukan ziarah kubur biasa. Mereka ikut Khotmil Qur’an ke-29 Pengajian Rutin Adem Pikir. Acara yang sudah jalan istiqomah lebih dari dua tahun ini memang sengaja digelar di pemakaman, bukan di masjid.

Penanggung Jawab Kegiatan, Advokat Hadi Purwanto

Penanggung Jawabnya, Advokat Hadi Purwanto, S.T., S.H., M.H., buka-bukaan alasan kenapa harus di kuburan.

 

“Kenapa kok terus di makam umum? Kenapa tidak di balai desa saja yang ada karpetnya? Jawabannya simple, syiar itu harus hidup di mana saja. Justru di sini hati kita paling gampang luluh, paling gampang adem pikir,” kata Hadi.

 

Pengacara yang tiap hari wara-wiri di pengadilan itu membeberkan 3 filosofi.

 

Pertama, soal pengingat mati. Menurutnya, makam adalah madrasah terbaik.

 

“Di sinilah finish kita semua. Secantik, seganteng, sekaya, setinggi apapun jabatan, gelar saya S.T., S.H., M.H. pun ujungnya balik ke tanah ukuran 2×1 meter. Saya tiap hari lihat orang berantem harta, berantem waris, gak saling sapa bertahun-tahun. Tapi kalau sudah di sini, semua gak ada artinya. Makam ini rem paling pakem buat ambisi manusia zaman sekarang,” beber Hadi.

 

Kedua, soal bakti ke leluhur. Ia menegaskan, datang ke makam bukan untuk meminta, tapi mendoakan.

 

“Mbah-mbah kita ada di sini. Sesepuh Desa Kedunglengkong ada di sini. Kalau bukan kita yang doakan, siapa lagi? Kita datang bukan minta ke kuburan, tapi mendoakan ahli kubur. Ini Islam rahmatan lil alamin. Sekalian ngerawat silaturahmi warga yang sudah luntur gara-gara HP,” ujarnya.

 

Ketiga, soal mengubah stigma. Makam yang angker harus jadi berkah.

 

“Selama ini makam itu identik sepi, gelap, kotor, bikin anak kecil takut. Padahal ini aset desa. Kalau sering dikunjungi buat ngaji, buat doa, insya Allah jadi bersih, terang, dan berkah. Menghidupkan yang mati menjadi hidup,” pungkasnya.

Ustaz Mukid saat memberikan ceramah

Pesan kedua datang lebih nyelekit. Penasihat Kegiatan, Ustaz Mukid, menyentil soal rasa malas.

 

“Kayak-kayaknya kita gak suka sesuatu padahal itu baik buat kita. Sebaliknya, kayak-kayaknya kita suka sesuatu padahal itu gak baik buat kita. Contohnya ya pengajian siang-siang gini, kelihatannya gak enak, padahal baik,” ujar Ustaz Mukid.

 

Ia menekankan, majelis ilmu adalah taman surga.

 

“Majelis ilmu itu taman-taman surga. Roudoh itu taman di antara taman-taman surga. Jadi yang duduk di sini, apapun hajatnya, insya Allah dikabulkan Allah SWT. Mau anak sholeh, hutang lunas, sawah subur, badan sehat, minta di sini,” ungkapnya.

 

Ustaz Mukid juga maklum kalau jemaah ngantuk. Bahkan ia kasih bocoran pahala yang bikin kaget.

 

“Kegiatan ini baik buat orang beriman. Kayak-kayaknya pertama capek, karena siang itu waktu tidur. Ngantuk wajar, saya ceramah siang juga ngantuk,” selorohnya.

 

“Meskipun ngantuk, tidur, pahalanya sama kayak orang yang melek mendengarkan bacaan Alquran dan sholawat. Gak ada bedanya kalau sudah duduk di majelis ilmu. Malaikat tetap catat,” tegasnya.

 

Ia pun ngajak jemaah jadi marketing akhirat.

 

“Yang belum hadir, ayo dijawil. Pengurus sudah jawil pakai surat undangan. Panjenengan boleh jawil lewat ucapan, lewat WA. Satu orang ngajak kebaikan, pahalanya sama kayak yang diajak tanpa ngurangi pahala yang diajak. Ngajak 10 orang, dapat 10 pahala dobel. Bisnis yang gak bakal rugi. Yang penting sudah diajak, mau atau tidak itu urusan Allah SWT. Tugas kita cuma ngajak,” bebernya.

 

“Rangkaian tadi sudah sholawatan, habis ini lanjut tahlil dan Khotmil Qur’an,” imbuhnya.

K.H. Hasan Mathori saat menyampaikan nasihat

Puncaknya, tausiyah paling keras disampaikan Penasihat Jemaah, K.H. Hasan Mathori. Bahasannya soal hati dan orang tua.

 

“Monggo sebelum ngaji kita bersihkan hati dulu pakai sholawat. Hati itu kayak gelas. Kalau gelas kotor, diisi air jernih pun jadi kotor. Kalau hati sudah bersih, suka sama yang ngajar, gak paham pun jadi paham karena barokah,” kata Kiai Hasan.

 

Ia langsung mengunci dengan satu kalimat.

 

“Mari niat dapat ridho Allah. Kita gak bakal dapat ridho Allah kalau berani sama orang tua. Kunci surga itu ada di orang tua,” tegasnya.

 

Ia lalu melontarkan statement yang bikin makam mendadak hening.

 

“Orang paling rugi se-rugi-ruginya manusia adalah yang masih punya kedua orang tua tapi masih punya hutang. Hutang bakti. Orang tuanya masih hidup tapi gak pernah diurus, gak pernah dikasih makan, gak pernah dimintai maaf. Itu rugi besar,” ucapnya.

 

“Perempuan itu kelemahannya dari uang. Laki-laki tidak dihargai istrinya jika tidak punya pekerjaan dan tidak punya uang. Ini realita. Makanya laki-laki harus kerja keras, tapi jangan lupa orang tuanya,” sambungnya.

 

Kiai Hasan cerita, ada anak yang tiap pagi dan sore belikan makanan buat orang tuanya, disuapi, padahal hidupnya pas-pasan. Akhirnya rezekinya malah dilimpahkan Allah, jadi barokah dan sukses.

 

“Sebaliknya, kalau gak peduli orang tua, pelit sama orang tua, hidupnya bakal gali lubang tutup lubang. Punya uang banyak tapi gak pernah cukup, masalah terus, gak dapat berkah,” tegasnya.

 

Lantas bagaimana kalau orang tua sudah meninggal?

 

“Kalau orang tua sudah mati bagaimana? Kita takziah ke makamnya itu sama saja mendoakan orang tua dan orang tua bakal doakan kita. Ziarah itu bukan syirik, itu mendoakan. Mumpung orang tua belum meninggal, ayo segera minta maaf dan berubah lebih baik. Jangan gengsi peluk orang tua,” tutupnya dengan suara bergetar.

 

Minggu pagi itu, tiga pesan tuntas di makam: pengingat mati dari advokat, pahala taman surga dari ustaz, dan bakti orang tua dari kiai. Ditutup tahlil dan Khotmil Qur’an bersama. Adem pikir, sesuai namanya. (Jay/Adv)

Exit mobile version