Sinergi Cegah Pneumonia, Dinkes PPKB Kota Mojokerto di Bawah Komando dr. Achmad Rheza Sukses Pertahankan Angka Kematian Nol Persen

Sinergi Cegah Pneumonia, Dinkes PPKB Kota Mojokerto di Bawah Komando dr. Achmad Rheza Sukses Pertahankan Angka Kematian Nol Persen
Jumlah Pneumonia di Kota Mojokerto
Majalahglobal.com, Mojokerto – Di balik langit Kota Mojokerto yang tampak biasa, ada ancaman kesehatan yang senyap namun mematikan. Pneumonia atau radang paru, yang selama ini lekat sebagai pembunuh balita, menunjukkan tren yang mengkhawatirkan di Bumi Majapahit.

 

Data terbaru yang dihimpun Dinas Kesehatan Kota Mojokerto mengungkap sebuah paradoks. Jika pada 2024 tercatat 143 kasus pneumonia, angka itu justru naik menjadi 163 kasus sepanjang 2025. Namun, memasuki periode Januari hingga September 2026, kasusnya anjlok drastis menjadi hanya 41 kasus.

 

Penurunan tajam itu bukan kebetulan. Ada sebuah benang merah yang akhirnya terkuak.

 

Hal itu diungkapkan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kota Mojokerto, dr. Achmad Rheza, http://Sp.OG., Subsp. FER.

 

Berdasarkan evaluasi jajarannya, terdapat korelasi yang bermakna antara kebiasaan warga membakar sampah rumah tangga dengan peningkatan risiko kejadian pneumonia, khususnya pada kelompok paling rentan: balita dan lansia.

 

“Karena partikel mikro yang mudah terhirup dan masuk ke saluran pernapasan. Asap pembakaran mengandung senyawa iritan. Paparan asap terus menerus merusak mukosa saluran pernapasan,” ujar dr. Rheza saat dikonfirmasi, Senin (20/10/2026).

 

Secara geografis, sebaran kasus ini pun berpindah. Pada 2024, kantong kasus tertinggi berada di Kelurahan Balongsari. Namun pada 2025 dan hingga September 2026, titik panas bergeser ke Kelurahan Magersari.

 

Kabar baiknya, dari ratusan kasus tersebut, angka kematian berhasil ditekan di angka 0 persen. Dan 100 persen kasus pneumonia yang ditemukan, semuanya berhasil ditangani oleh tenaga kesehatan.

 

Menurut dr. Rheza, capaian ini bukan tanpa strategi. Ada gerakan terpadu yang dijalankan pihaknya untuk memutus rantai pneumonia.

 

Pertama adalah Kampanye Literasi Pneumonia. Petugas tidak lagi menunggu di Puskesmas, melainkan turun dengan media edukasi interaktif. Orang tua diajari cara paling sederhana namun krusial: menghitung napas cepat pada anak. Jika napas balita terlihat cepat dan sesak, itu adalah tanda bahaya yang harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan (faskes).

 

Kedua, penguatan Tatalaksana Terpadu Balita Sakit (MTBS) Terintegrasi. Alur pelayanan balita sakit di seluruh Puskesmas dioptimalisasi. Kapasitas kader posyandu dan tenaga kesehatan diperkuat agar mampu mengidentifikasi gejala sejak dini dan berani memberikan dosis pertama antibiotik tepat waktu sebelum dirujuk.

 

Ketiga, yang tak kalah penting, adalah Penguatan Akses Air Bersih dan Sanitasi yang terintegrasi dengan program penurunan stunting. Perbaikan kualitas udara di dalam ruangan dengan mengurangi paparan asap rokok dan bahan bakar tradisional, serta peningkatan gizi dan ASI eksklusif, menjadi benteng pertahanan.

 

Lantas apa yang harus dilakukan warga?

 

dr. Rheza memberikan tiga pesan kunci pencegahan yang bisa dilakukan mulai dari rumah.

 

Pertama, hentikan pembakaran sampah. Warga diminta beralih ke metode pengelolaan sampah terpadu, memilah sampah organik dan anorganik, serta memanfaatkan layanan pengangkutan sampah oleh petugas kebersihan.

 

Kedua, jaga sirkulasi udara. Jangan biarkan asap dari luar masuk ke dalam area tempat tinggal, terutama jika di dalam rumah ada anak kecil atau orang tua.

 

Ketiga, berdayakan pengolahan sampah. Sampah organik bisa dikomposkan, sementara sampah anorganik bisa disalurkan ke bank sampah lokal yang kini ada di setiap kelurahan.

 

“Pneumonia bisa dicegah. Namun kuncinya bukan hanya di obat dan Puskesmas, melainkan pada kesadaran untuk tidak menciptakan asap beracun dari halaman rumah sendiri,” pungkas dr. Rheza. (Jay/Adv)

Exit mobile version