JOMBANG – Air adalah nadi bagi pertanian. Ketika alirannya terhambat, produktivitas pun ikut tersendat. Persoalan klasik inilah yang coba dijawab melalui Program Optimalisasi Lahan (OPLAH) yang kini hadir di Desa Kedungmlati, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang.
Program tersebut tidak datang dengan janji abstrak, melainkan dengan dukungan infrastruktur yang konkret, yakni pembangunan sumur bor dan bantuan pompa sibel untuk menopang kebutuhan pengairan sawah warga.
Di Desa Kedungmlati, peran kelompok tani menjadi simpul penting yang menggerakkan program ini di lapangan. Ketua Kelompok Tani setempat, Budi, menjadi salah satu figur yang aktif memastikan bantuan sarana irigasi tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan oleh para petani.
Kehadiran sumur bor dan pompa sibel diharapkan menjadi jawaban atas kegelisahan petani selama ini, terutama ketika memasuki musim tanam di mana kebutuhan air meningkat tajam.
Selama ini, ketersediaan air menjadi faktor penentu yang tidak bisa ditawar. Tanpa pasokan yang cukup dan stabil, pengelolaan lahan menjadi tidak maksimal, pertumbuhan tanaman terganggu, dan risiko gagal panen pun membayangi.
Melalui OPLAH, konsep optimalisasi tidak dimaknai sempit sekadar membuka atau mengolah lahan. Lebih dari itu, program ini menitikberatkan pada penguatan infrastruktur penunjang budidaya. Sumur bor yang dibangun dan pompa sibel yang disalurkan diharapkan menjadi penopang utama bagi petani Kedungmlati untuk mengakses sumber air secara mandiri dan berkelanjutan.
Dampaknya tidak hanya dirasakan sesaat. Dalam jangka panjang, tata kelola air yang lebih baik akan membuka peluang bagi petani untuk mengatur pola tanam dengan lebih efektif, menjaga kontinuitas produksi, dan pada akhirnya meningkatkan hasil panen.
Namun, keberhasilan program ini tentu tidak hanya ditentukan oleh bantuan fisik semata. Peran serta kelompok tani menjadi kunci untuk memastikan pemanfaatan sarana dilakukan secara optimal, adil, dan terawat.
Pengelolaan pompa sibel secara kolektif dan pembagian air yang terorganisir diyakini mampu memperkuat solidaritas antarpetani. Semangat gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan desa diharapkan semakin tumbuh melalui pengelolaan infrastruktur bersama ini.
Lebih luas lagi, OPLAH merupakan bagian dari strategi besar untuk memperkuat ketahanan pangan. Dengan meningkatkan kapasitas petani dalam mengelola lahan dan air, diharapkan sektor pertanian desa menjadi lebih tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan, mulai dari anomali cuaca hingga fluktuasi kebutuhan air tanaman.
Kini, dengan mengalirnya air dari sumur bor dan pompa sibel di Desa Kedungmlati, Kecamatan Kesamben, harapan baru itu tumbuh. Lahan yang sebelumnya sulit terairi menjadi lebih optimal, aktivitas pertanian menjadi lebih terbantu, dan kesejahteraan petani perlahan-lahan didorong untuk meningkat.
Sinergi antara pemerintah, kelompok tani, dan masyarakat menjadi fondasi utama agar manfaat program ini tidak berhenti di tengah jalan. Dengan perawatan dan pengelolaan yang baik, bantuan tersebut diharapkan menjadi modal penting untuk mewujudkan pertanian yang produktif, berkelanjutan, sekaligus berkontribusi nyata bagi ketahanan pangan nasional. (Mhd/Adv)
