Halmahera Selatan – Lapas Kelas III Labuha memanas. Kepala Lapas dan sejumlah warga binaan terlibat bentrok pada Minggu (20/9/2026) sore.
Insiden itu terjadi di Lapas Kelas III Labuha, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Sejumlah narapidana dilaporkan bentrok dengan Kalapas Kelas III Labuha, Jumadi.
Berdasarkan keterangan resmi yang diterima redaksi, Rabu (30/9/2026), Kalapas Labuha, Jumadi, mengaku menjadi sasaran amukan warga binaan. Ia menyebut dirinya diserang dan dipukuli.
Jumadi menduga penyerangan itu buntut dari persoalan lama. Ia mengakui pernah melakukan pemukulan terhadap dua warga binaan selama bertugas di Lapas tersebut.
“Saya diserang dan dihantam. Ini soal dendam napi saja ke saya. Saya selama bertugas di Lapas Labuha, cuma pukul dua orang. Saya pukul untuk mendidik atau membina,” ucap Jumadi usai kejadian.
Pernyataan itu kini jadi sorotan dan disebut perlu didalami oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku Utara. Terlebih bentrokan melibatkan pimpinan lapas dan warga binaan.
Merespons insiden tersebut, Tim Kanwil Ditjenpas Malut langsung turun ke Lapas Kelas III Labuha. Tujuannya untuk meredam situasi dan menggali keterangan dari warga binaan yang terlibat.
Kabid Pelayanan dan Pembinaan Kanwil Ditjenpas Maluku Utara, Yunus Maraden, menegaskan akan melakukan pemeriksaan untuk mengungkap fakta di balik bentrokan.
Menurut Yunus, ada persoalan lingkungan yang juga tengah melanda Lapas Labuha. Yakni dampak musim kemarau panjang yang memicu krisis air bersih.
“Dampaknya banyak, termasuk air. Ternyata sumur tidak hidup, sehingga mereka (napi) hanya berharap dari pompa air,” kata Yunus.
Kondisi itu, lanjut Yunus, berpengaruh terhadap psikologis warga binaan. Suhu panas ditambah pasokan air terbatas membuat situasi di dalam lapas jadi lebih sensitif dan mudah tersulut.
Bahkan sebelum bentrok pecah, pihak Lapas Labuha sempat menggelar doa bersama dengan warga binaan sebagai ikhtiar menghadapi kemarau.
Namun, cuaca panas dan keterbatasan air disebut jadi pemicu emosi warga binaan gampang meledak.
“Memang kondisi lagi panas yang membuat mereka gampang tersulut emosi. Jadi tidak ada niatan untuk membuat semua itu menjadi bermasalah. Itu spontanitas,” ujar Yunus.
Tak hanya soal warga binaan, Kanwil Ditjenpas Malut juga menyoroti kinerja petugas. Pola komunikasi petugas dengan warga binaan disebut perlu dievaluasi.
Yunus menilai cara penyampaian dan tutur kata petugas sangat memengaruhi respons psikologis warga binaan, apalagi saat situasi sedang sensitif.
“Mungkin cara penyampaian atau tutur kata petugas dinilai sangat memengaruhi respons psikologis warga binaan, khususnya dalam situasi yang sensitif,” pungkasnya.
Kasus ini kini dalam perhatian Kanwil Ditjenpas Maluku Utara. Pemeriksaan lanjutan dilakukan untuk mengurai terang penyebab bentrokan, termasuk memastikan rangkaian kejadian dan dugaan persoalan antara Kalapas dan warga binaan sebelum insiden. (Kandi)
