Kepala Kanwil Ditjenpas Lampung Minta Jajaran Ubah Mindset: Razia Lapas Harus Tegas, Maksimal, dan Tetap Humanis
BANDAR LAMPUNG, majalahglobal.com — Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Lampung, Dr. M. Hilal, A. Md., IP., S.H., M.Si., meminta seluruh jajaran pemasyarakatan mengubah pola pikir dalam menjalankan tugas, khususnya dalam pengawasan dan pelaksanaan razia di lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan negara (rutan).
Menurut Hilal, ketegasan dalam menjaga keamanan dan ketertiban harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap hak dan martabat warga binaan sebagai manusia.
Arahan tersebut disampaikan Hilal saat memberikan pengarahan kepada puluhan pejabat manajerial dan nonmanajerial di lingkungan Kanwil Ditjenpas Lampung di Aula Kanwil Ditjenpas Lampung, Kamis (10/9/2026).
Pengarahan itu digelar setelah pelantikan pejabat Eselon V di lingkungan Ditjenpas Lampung. Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk menyamakan persepsi jajaran, khususnya para kepala seksi (kasi) dan kepala subseksi (kasubsi), dalam membaca berbagai persoalan pemasyarakatan di Lampung sekaligus menentukan langkah penyelesaiannya.
“Kenapa saya undang para kasi dan kasubsi hari ini supaya mindset sama, dari mulai kepala kasi sebagai middle manager, supaya mereka punya pemahaman yang sama dulu. Ada masalah apa di Lampung ini, kemudian apa yang harus kita lakukan dan apa yang harus kita siapkan,” ujar Hilal.
Ia menekankan, kesamaan pemahaman di tingkat manajerial penting agar setiap pejabat tidak hanya mampu mengidentifikasi persoalan, tetapi juga dapat menentukan langkah, menyiapkan solusi, serta menyusun tahapan penyelesaian secara terukur.
Hilal optimistis berbagai persoalan pemasyarakatan di Lampung dapat ditekan apabila seluruh jajaran memiliki cara pandang dan komitmen yang sama.
“Saya yakin persoalan ini perlahan dan pasti selesai. Meskipun setiap manusia hidup punya persoalan, tapi kita minimize persoalan itu,” katanya.
Razia Lapas Harus Maksimal dan Humanis
Dalam pengarahan tersebut, Hilal juga memberikan penekanan khusus terkait pelaksanaan razia rutin di lapas dan rutan.
Ia meminta kepala satuan kerja memastikan kegiatan penggeledahan dilaksanakan secara maksimal, terukur, dan tetap mengedepankan pendekatan yang manusiawi.
Salah satu pola yang diarahkan adalah pelaksanaan razia secara bertahap dengan target satu kamar dalam satu hari, sehingga pemeriksaan dapat dilakukan secara lebih fokus dan optimal.
“Satu hari satu kamar dirazia, tapi dimaksimalkan. Razia dengan manusiawi, pelaku kriminal juga manusia,” tegas Hilal.
Menurutnya, pelaksanaan penggeledahan tidak boleh menghilangkan sikap hormat terhadap warga binaan. Ketegasan petugas, kata dia, tetap harus dibarengi dengan etika dan penghormatan terhadap ruang pribadi maupun aktivitas keagamaan warga binaan.
Ia mencontohkan, petugas harus memperhatikan hal-hal sederhana ketika melakukan pemeriksaan, termasuk ketika harus menaiki tempat tidur warga binaan yang juga digunakan sebagai tempat beribadah.
“Satu hari satu kamar dirazia, tapi dimaksimalkan, harus sopan, alas kaki copot kalau naik ke tempat tidur, karena itu tempat sholat. Hargai juga dia sebagai manusia,” ujarnya.
Hilal meminta seluruh petugas mengubah cara pandang terhadap warga binaan. Menurutnya, pendekatan kemanusiaan bukan berarti mengurangi ketegasan dalam penegakan aturan, melainkan menjadi bagian dari pelaksanaan tugas pemasyarakatan yang bermartabat.
“Ubah mindset, anggap mereka itu saudara kita,” katanya.
Tegas terhadap Pelanggaran
Meski menekankan pendekatan humanis, Hilal memastikan tidak ada toleransi terhadap pelanggaran yang terjadi di lingkungan pemasyarakatan.
Setiap pelanggaran, kata dia, tetap harus ditindak sesuai ketentuan yang berlaku. Karena itu, perubahan pola pikir dan pendekatan humanis harus berjalan bersamaan dengan pengawasan, evaluasi, dan penegakan disiplin.
“Akan dilakukan evaluasi, perubahan itu pasti ada. Harapannya kawan-kawan sadar, tindakan ada. Dengan penyadaran pikiran lebih lempeng, kalau ada pelanggaran tetap kita tindak,” tegasnya.
Hilal juga meminta seluruh jajaran menjadikan berbagai persoalan yang sebelumnya terjadi di lingkungan pemasyarakatan Lampung sebagai bahan evaluasi dan pembelajaran agar tidak kembali terulang.
“Saya berharap apa yang terjadi di Kotabumi menjadi yang terakhir,” ujarnya.
Jaga Amanah dan Soliditas
Selain persoalan keamanan dan pengawasan, Hilal mengingatkan para pejabat serta seluruh pegawai untuk menjaga amanah, nama baik institusi, dan membangun kerja sama yang solid.
Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan tugas pemasyarakatan tidak dapat dilakukan secara individual, tetapi membutuhkan koordinasi, komunikasi, dan kolaborasi seluruh jajaran.
“Jaga amanah dengan baik, jaga institusi, tetap semangat, harus bisa bekerja sama antarpegawai,” pesannya.
Menutup arahannya, Hilal mengajak seluruh jajaran menjadikan tugas pemasyarakatan sebagai bentuk pengabdian yang dilaksanakan dengan ketulusan, tanggung jawab, kehati-hatian, serta landasan moral dan spiritual.
“Lakukan pekerjaan dengan hati, sepenuh hati, sekuat hati, hati-hati dengan niat ibadah kepada Allah SWT,” pungkas Hilal.
Oleh: Andi Raya
081272255678










