Majalahglobal.com, Mojokerto – Minggu pagi (5/7/2026) suasana di Makam Umum Banjarsari, Kedunglengkong, Dlanggu, Mojokerto, tampak berbeda dari hari biasanya. Puluhan warga duduk bersila di antara nisan. Suara lantunan ayat-ayat Al-Qur’an menggema pelan.
Di tengah kesibukan dunia yang terus bergerak cepat, menjaga konsistensi ibadah memang bukan perkara mudah. Namun pemandangan ini sudah berlangsung selama 25 periode. Paguyuban Rutinan Khotmil Qur’an Banjarsari membuktikan, istiqamah bukan sekadar wacana.
Bagi mereka, kegiatan ini bukan hanya rutinitas berkumpul dan membaca Al-Qur’an. Lebih dari itu, ini adalah cara warga menjaga hubungan dengan Allah, sekaligus bentuk kepedulian kepada ahli kubur yang terbaring di tempat tersebut.
*”Amalan Paling Dicintai Allah”*
Konsep istiqamah memiliki tempat istimewa dalam Islam. Salah satu dalil utamanya adalah hadist yang diriwayatkan Aisyah RA.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.”
> *HR. Bukhari no. 6464 dan Muslim no. 783*
Hadist ini menjadi napas Paguyuban Khotmil Qur’an Banjarsari. Shalat dhuha dua rakaat setiap hari, membaca satu halaman Al-Qur’an tiap pagi, atau bersedekah rutin, nilainya jauh lebih besar di sisi Allah dibanding ibadah besar yang hanya dilakukan sekali lalu berhenti.
Penanggung Jawab Kegiatan, Hadi Purwanto, S.T., S.H., M.H., menyampaikan hal itu di sela kegiatan Khotmil Qur’an periode ke-25.
“Allah tidak melihat seberapa besar ibadah kita dalam satu waktu. Yang Allah lihat adalah apakah kita mampu menjaganya terus-menerus. Istiqamah itu berat, tapi pahalanya mengalir,” ujarnya.
Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan, amalan yang sedikit tapi dilakukan terus-menerus lebih mudah dijaga dari riya, lebih menyelamatkan dari rasa bosan, dan pahalanya tidak pernah putus.
*Beriman dan Istiqamah, Satu Paket yang Tak Terpisahkan*
Istiqamah bukan sekadar anjuran. Ia adalah perintah.
Dalam hadist riwayat Muslim, seorang sahabat meminta nasihat terbaik kepada Rasulullah ﷺ. Jawaban beliau singkat namun mengena:
> “Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.”
> *HR. Muslim no. 38*
Menurut Hadi Purwanto, kalimat itu menempatkan iman dan istiqamah sebagai satu kesatuan.
“Beriman tanpa bukti konsistensi dalam amal, ibarat pohon tanpa akar. Pasti roboh ketika diterpa ujian,” jelasnya.
Al-Qur’an pun menguatkan pesan ini. Allah berfirman:
> “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka…”
> *QS. Fussilat: 30*
Para mufasir menafsirkan “meneguhkan pendirian” sebagai istiqamah dalam tauhid, ketaatan, dan menjauhi maksiat. Bagi mereka dijanjikan ketenangan hidup di dunia dan surga di akhirat.
*Meneladani Rasul dan Menjaga Amanah untuk Ahli Kubur*
Jika ingin melihat contoh nyata istiqamah, maka teladan terbaik adalah Rasulullah ﷺ. Aisyah RA menuturkan:
> “Rasulullah ﷺ apabila melakukan suatu amalan, beliau melakukannya secara kontinu.”
> *HR. Muslim no. 783*
Sepanjang hidupnya, Nabi tidak pernah meninggalkan shalat malam kecuali karena uzur. Beliau rutin berpuasa Senin-Kamis, rutin berdzikir pagi dan petang. Tidak banyak, tetapi tidak pernah putus.
“Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk menjaga api, bukan menyulut ledakan. Sedikit tapi terus, itu jauh lebih selamat,” kata Hadi Purwanto.
Senada dengan itu, Penanggung Jawab Kegiatan, Ustadz Mukid, mengingatkan bahwa kegiatan ini juga merupakan amanah untuk ahli kubur.
“Hari ini kita sudah masuk periode ke-25. Perjalanan ini tidak mudah. Ada halangan dari luar maupun dari dalam. Kalau kita tidak setia dan istiqamah, kasihan dengan ahli kubur kita yang menunggu doa,” ungkapnya.
Ia menggambarkan orang yang telah meninggal seperti orang tenggelam di lautan. Yang mereka harapkan hanyalah “pelampung” berupa doa dari keluarga yang masih hidup.
“Tidak ada niatan lain kecuali untuk mendapatkan ridho Allah dan peduli dengan ahli kubur kita,” tegasnya.
*Mulai dari yang Kecil, Jaga Sampai Akhir*
Ustadz dan para ulama sepakat, musuh terbesar istiqamah adalah tiga hal: semangat berlebihan di awal, target terlalu tinggi, dan tidak adanya sistem.
Banyak orang gagal bukan karena tidak mampu, tetapi karena langsung menargetkan hal besar. Shalat tahajud 12 rakaat tiap malam, lalu tiga hari kemudian berhenti total.
“Padahal prinsip Islam adalah memulai dari yang kecil, lalu menjaganya. Itu yang diajarkan Nabi,” pungkas Hadi Purwanto.
Di akhir tausiahnya, Ustadz Mukid mengisahkan pengorbanan Abu Bakar Ash-Shiddiq saat hijrah bersama Rasulullah ﷺ. Saat itu Abu Bakar rela kakinya digigit ular berbisa demi tidak membangunkan Rasul yang sedang tidur. Dengan izin Allah, Rasulullah mengusap kaki Abu Bakar dan sembuhlah lukanya.
“Kisah ini mengajarkan kita tentang cinta, pengorbanan, dan konsistensi dalam berjuang. Sekecil apa pun sedekah dan kebaikan kita akan terlihat. Semoga semua yang terlibat dalam Khotmil Qur’an ini dibalas kebaikan berlipat oleh Allah SWT,” tutupnya.
*Filosofi Bubur Asyura: Jadilah Bermanfaat Seperti Kelapa*
Menariknya, kegiatan kali ini juga dirangkai dengan peringatan bulan Asyura. Penanggung Jawab Jemaah, K.H. Hasan Mathori, menjelaskan makna di balik tradisi bubur Asyura.
“Allah menjadikan Nabi Adam di bulan Asyura. Bulan Asyura merupakan bulan musibah. Bubur Asyura itu mempunyai filosofi. Warnanya putih dan merah. Putih menggambarkan air mani pria dan merah melambangkan darah wanita. Kemudian kelapanya untuk mengaduk agar menjadi hal yang baik,” ujarnya.
Ia mencontohkan kelapa sebagai simbol.
“Kelapa itu ditanam di puncak gunung masih hidup. Semua bagian dari kelapa itu bermanfaat. Jadilah seperti kelapa yang selalu bermanfaat bagi sesama,” katanya. (Jay/Adv)
