mahkota555

Khotmil Qur’an ke-23 di Makam Banjarsari Mojokerto, Warga Lestarikan Syiar Agama dan Bakti kepada Leluhur

Khotmil Qur'an ke-23 di Makam Banjarsari Mojokerto, Warga Lestarikan Syiar Agama dan Bakti kepada Leluhur
Penanggung Jawab Kegiatan, Hadi Purwanto, S.T., S.H., M.H. saat doa bersama
Majalahglobal.com, Mojokerto – Ratusan warga memadati kompleks Makam Eyang Tumenggung Soekarto Widjoyono di Dusun Banjarsari, Desa Kedunglengkong, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, Minggu (3/5/2026).
Khotmil Qur'an ke-23 di Makam Banjarsari Mojokerto, Warga Lestarikan Syiar Agama dan Bakti kepada Leluhur
Foto bersama

Mereka mengikuti Khotmil Qur’an ke-23 yang digelar Paguyuban Rutinan Khotmil Qur’an Makam Banjarsari. Kegiatan bertajuk “Khotmil Qur’an dan Doa Bersama kepada Leluhur dan Ahli Kubur” itu menjadi ajang syiar agama sekaligus wujud bakti kepada orang tua dan leluhur yang telah wafat.

Khotmil Qur'an ke-23 di Makam Banjarsari Mojokerto, Warga Lestarikan Syiar Agama dan Bakti kepada Leluhur
Grup Selawat Al Haddad Djawa Dwipa

Penanggung Jawab Kegiatan, Hadi Purwanto, mengatakan ziarah kubur merupakan syiar agama yang dicontohkan Rasulullah SAW.

 

“Nabi bersabda, dulu aku melarang kalian ziarah kubur, sekarang berziarahlah, karena mengingatkan pada akhirat,” ujar Hadi mengutip hadis riwayat Muslim.

Khotmil Qur'an ke-23 di Makam Banjarsari Mojokerto, Warga Lestarikan Syiar Agama dan Bakti kepada Leluhur
Kebersamaan Doa Bersama

Menurut Hadi, ziarah bukan bentuk penyembahan terhadap kuburan. “Ini syiar. Mengajarkan anak bahwa hidup ada akhir, mati ada hisab. Sekaligus bukti kita tidak durhaka dan tidak lupa asal-usul,” kata dia.

 

Hadi menegaskan, bakti kepada orang tua atau birrul walidain tidak berhenti meski orang tua telah meninggal dunia.

 

“Caranya dengan mendoakan, melunasi utang, menyambung silaturahmi teman orang tua, dan bersedekah atas nama mereka,” ucap Hadi.

Khotmil Qur'an ke-23 di Makam Banjarsari Mojokerto, Warga Lestarikan Syiar Agama dan Bakti kepada Leluhur
Ketulusan Grup Selawat Al Haddad Djawa Dwipa

Ia mengutip hadis riwayat Muslim bahwa amal manusia terputus setelah meninggal kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak sholeh.

 

“Doa kita ke leluhur itu seperti kiriman paket pahala. Mereka senang di alam barzah, kita mendapat pahala bakti,” kata Hadi.

 

Hadi menambahkan, tradisi nyekar merupakan kearifan lokal yang sejalan dengan syariat Islam. “Selama tidak ada ritual syirik atau meminta-minta ke kuburan, maka ini syiar Islam Nusantara yang indah,” ujarnya.

 

Sementara itu, Penasihat Jemaah K.H. Hasan Mathori menerangkan, rezeki yang berkah harus diupayakan dengan ikhtiar sungguh-sungguh dan doa.

 

“Kegiatan ini berisi shalawat, Khotmil Qur’an, kalimat thayyibah, dan doa bersama. Orang yang rutin ikut kegiatan seperti ini biasanya bertambah rezekinya,” kata Hasan.

 

Ia mengingatkan agar tidak meninggalkan amalan tersebut saat rezeki melimpah. “Bisa menciderai Allah. Allah bisa mencabut rezeki hamba-Nya yang Ia kehendaki,” ucapnya.

 

Hasan menegaskan, keberkahan rezeki terlihat saat seseorang diberi keselamatan dari ujian seperti sakit atau musibah.

 

“Pertahankan doa. Doa adalah senjata umat Islam untuk mendoakan diri sendiri dan keluarga. Penyakit yang paling dibenci adalah rasa malas dan bosan. Hindari hal itu agar terus mendapat keberkahan Allah,” kata dia. (Jay/Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *