SIDOARJO,majalahglobal.com – Budidaya bonsai kini tengah digandrungi oleh banyak masyarakat, bahkan bonsai bisa di kreasikan dari batok kelapa. Dan menariknya lagi batok kelapa dapat di sulap menjadi bonsai kelapa yang bernilai seni tinggi, bahkan di hargai hingga puluhan juta rupiah.
Salah satunya adalah Kepala Desa Banjarwungu, yang mana membuat bonsai kelapa adalah salah satu bentuk rutinitas beliau di kala waktu senggang. Sudah banyak koleksi berbagai macam bonsai kelapa yang ada di rumahnya. Bahkan sudah menyiapkan beberapa batok kelapa pilihan untuk di jadikan bonsai batok kelapa.

Tidaklah mudah dalam membuat bonsai batok kelapa, butuh ketelatenan dan keuletan dalam membuatnya. Mulai dari pertumbuhan tunasnya, akarnya, daunnya, hingga menjadi apa saja bentuknya sesuai yang di harapkan.
Membuat kreasi batok kelapa merupakan bentuk kreativitas yang nantinya bisa menarik warga masyarakat Banjarwungu, khususnya bagi kalangan muda sehingga bisa menarik perhatian kepada mereka, untuk bisa membudidayakan bonsai batok kelapa.
Saat di wawancarai media majalah global pada hari Jumat (15/7/2022), Kepala Desa Banjarwungu Imam Supi’i, SE, menyampaikan dengan senang hati terkait dengan hobbynya yaitu membuat bonsai kelapa.
Imam Supi’i, SE, selaku Kepala Desa Banjarwungu Tarik Sidoarjo memaparkan bahwa dalam memilih bibit yang baik adalah bibit kelapa harus benar-benar sudah tua, dan harus ada air kelapanya,”terangnya.
” Dari sekitar lingkungan juga bisa kita dapatkan bibit kelapa, tetapi di sekitar wilayah sudah jarang tumbuhan kelapa, dan saya mendapatkan bibit kelapa ini dari luar daerah, seperti di daerah Pacitan”.
“Untuk step awal pembuatan bonsai kelapa yaitu yang pertama, kelapa dikupas dulu sampai bersih, tetapi jangan sampai serabut yang bakal tumbuh tunas dihilangkan, kemudian diletakkan pada media yang sudah kita siapkan”.

Imam Supi’i, SE, selaku Kepala Desa Banjarwungu Kecamatan Tarik Kabupaten menambahkan bahwa proses pembuatan bonsai kelapa (bonkla) dari mulai bisa di lihat indah, dan seni bonklanya ada, kurang lebih 12 bulan. Dan untuk tingkat kesulitannya adalah ketika menyayat tapis ( kalau tidak berhati hati dan bersabar, akan menggores pelepahnya),”imbuhnya.
Kepala Desa Banjarwungu Imam Supi’i,SE, berharap dengan keberangkatan dari suatu hobby ini, nantinya dikemudian hari bisa menjadi nilai ekonomi,”tutupnya.(Ldy)










