HOME // Berita Ngawi // Uncategorized

Disparpura Kabupaten Ngawi gelar festival Cokekan budaya khas Ngawi diikuti 19 peserta

   Pada: Agustus 3, 2017
NGAWI – majalahglobal.com : Dalam rangkaian Peringatan Hari jadi Kabupaten Ngawi Ke 659 tahun 2017 yang bersamaan dengan Tahun Kunjungan Wisata atau lebih dikenal dengan istilah visit Ngawi year 2017 nampak jelas kiprah dari Bupati Ngawi beserta jajarannya dalam perjuangannya untuk mengemas Kabupaten Ngawi menjadi Ngawi Spektakuler. 
Tidak mau ketinggalan Dinas Pariwisata Pemuda Dan Olahraga (Disparpora) telah melakukan berbagai langkah nyata untuk mendongkrak keberadaan dunia wisata alam, wisata edukasi, wisata sejarah, wisata religi maupun wisata budaya. Berkaitan dengan Peringatan Hari Jadi ke 659 tahun 2017 Pemerintah Kabupaten Ngawi melalui Dinas Pariwisata Pemuda Dan Olahraga menggelar festival produk budaya asli Ngawi (26/7) yang sekaligus juga merupakan industri wisata yang sangat menarik yaitu yang dinamakn “cokekan”. 
Adapun yang dinamakan cokekan menurut Sukadi Kepala Bidang Kebudayaan Disparpora Kabupaten Ngawi adalah seperti seni karawitan namun dengan instrument yang minim atau terbatas. Cokekan hanya menggunakan gong sebul yang terbuat dari bambu yang cara membunyikannya dengan ditiup menggunakan bambu yang lebih kecil, hal tersebut dikorelasikan dengan nama Kabupaten Ngawi yang berasal dari kata “awi” yang berarti bambu. “Karena 20 pendaftar ternyata yang betul-betul bisa disebut cokekan hanya satu, maka yang setadinya merupakan lomba dialihkan sebagai parade atau festival” demikian papar Sukadi. 
Lebih lanjut dia menjelaskan dari 20 pendaftar ada satu yang tidak hadir sehingga yang tampil dalam festival hanyalah 19 peserta. Festival cokekan ternyata sangat besar animonya. Tidak hanya warga masyarakat dalam kota yang gemar menikmati alunan suara gamelan yang memiliki kekhasan tersendiri, tapi juga menikmati suara suarawati atau waranggono yang melantunkan lagu-lagu dolanan bahkan juga gending-gending maca pat. 
Selain para waranggono berpakaian adat Jawa dengan berkebaya dan sanggul, para pangrawitan juga mengenakan pakaian kejawen. Dalam kesempatan itu Bupati Ngawi Budi Sulistyiono mengatakan bahwa acara tersebut sebagai upaya untuk memperkenalkan budaya Jawa yang bernama cokekan kepada para remaja untuk melestarikannya. “Selain itu juga untuk memperkenalkan kepada masyarakat dunia secara luas mengenai budaya asli Ngawi”, demikian ujar Mbah Kung ( sapa akrab Bupati Ngawi). Yang pada malam itu juga ikut berjoget  logat jawa berbaur dengan masyarakat pengunjung. 
Dari 19 peserta menunjukkan kebolehannya di tempat-tempat sekitar Alun-Alun Merdeka, di tepian jalan atau di trotoar. Mereka mempatkan diri di pojok Taman Pintar, Depan Polres pojok selatan, utara Gedung DPRD, depan Kantor Pos, timur selo A, Selatan alun-alun sebelah timur, depan rumah kediaman Wabup, depan Knator Perhutani, depan Dinas Pariwisata, depan Dinas Pertanian, depan SDN Margomulyo 1, depan penjahit Pemuda, depan presiden Taylor, depan UPT Alun-alun, depan Gudang KPU, barat tribun Alun-alun, pojok barat SMKN 1, dan depan Gedung Pemda sebelah barat. (Tri)

,





Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.