HOME // Berita Mojokerto // Uncategorized

Lahan Pertanian Kian Susut, Banjir Besar Ancam Kota Mojokerto

   Pada: Januari 16, 2015
MOJOKERTO  – MG : Tingginya alih fungsi tanah untuk perumahan, berimbas pada sempitnya lahan pertanian Kota Mojokerto. Dari tahun ke tahun, penyusutan lahan mencapai angka 10 persen. Jika terus dibiarkan, Kota Mojokerto bisa terancam banjir besar. Demikian diungkapkan Muraji, Kepala Bidang Pertanian di Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Mojokerto, kemarin (8/1).
    
“Sesuai laporan penggunaan lahan yang kita laporkan ke Badan Pusat Statistik dan Kementrian Pertanian tahun 2013 lalu, luas lahan pertanian kita kini tersisa 614 hektar saja. Angka tersebut bisa jadi semakin kecil, mengingat tiap tahun selalu ada pentusutan lahan sekitar 10 persen, ” ujarnya.
    
Muraji menjelaskan, dari 614 hektar lahan tani tersebut, 351 hektar diantaranya merupakan lahan irigasi dan 12 hektar lahan sisanya merupakan lahan tadah hujan. ” Dari total luas lahan itu, seluruhnya ditanami padi. Dengan intensitas menanam satu hingga tiga kali pertahunnya,” terangnya.
    
Penyusutan terbesar, lanjut Muraji, banyak terjadi di wilayah Kecamatan Prajurit Kulon. Ini terbukti dari sisa lahan yang hanya mencapai 251 hektar saja. Cepatnya penyusutan ini, menyusul arah kebijakan pembangunan Kota Mojokerto yang memploting wilayah dengan 10 kelurahan ini menjadi kawasan perkantoran dan pendidikan sejak tahun 2009 lalu.
    
“Yang drastis susutnya memang Kecamatan Pralon, kalau Kecamatan Magersari relatif stabil, jikalaupun ada penyusutan paling sekitar 10 persen saja,” jelas Muraji sembari menyebut luas lahan pertanian Kecamatan Magersari kini tersisa 363 hektar.
    
Muraji menambahkan, luas lahan yang masih tersisa 614 hektar ini terbilang masih normal. Pasalnya, dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Pemerintah Kota Mojokerto, lahan abadi yang harus disediakan hanya sekitar 104 hektar saja. “Saya kira pesatnya pembangunan infrastruktur yang menggeser lahan pertanian di kota masih wajar-wajar saja. Asalkan, lahan abadi yang dibuat sebagai penyeimbang ekosistem lingkungan tetap sesuai porsinya. Sebab jika tidak, bisa berakibat pada bencana banjir,” tukasnya.
    
Untuk itu, ungkap Muraji, Disperta Kota Mojokerto selalu berkomitmen untuk mengamankan lahan abadi ini. Terutama penyelamatan lahan abadi yang bukan menjadi aset pemkot. “Masih banyak kawasan lahan abadi yang menjadi milik perorangan, kita berkomitmen tetap mengamnkan lahan itu. Dengan cara mempertahankan lahan agar tidak beralih fungsi. Jika perlu kita akan membeli lahan itu agar aman menjadi aset Pemkot,” pungkasnya. (Jay)
Berita Majalah Global Edisi 040, Januari 2015 :

,

Curhat Risma siapkan baju dokter sampai bunuh lalat di posko DVI
Jokowi Sebut Perubahan di Jakarta Terlihat Tahun Ini
Jokowi dituding bohong besar, Premium seharusnya Rp 5.714/liter

Usai insiden Air Asia, Warga Pangkalanbun Ogah Makan Ikan Laut
Lahan Pertanian Kian Susut, Banjir Besar Ancam Kota Mojokerto
Komisi B DPRD Sidoarjo Minta Rekomendasi Revitalisasi Pasar Tulangan Dikaji Ulang
Satpol PP Surabaya Klarifikasi Temuan Ombudsman Terkait Pungli
Walikota Mojokerto Hadiri Hari Ulang Tahun LVRI
Pemkab Mojokerto Gelar Mutasi Pejabat Eselon II, III, IV
Membongkar Dapur Di Balik Tiket Murah AirAsia
Ahok Latih Pemuda Putus Sekolah Jadi Sopir Transjakarta
Risma Siapkan Dokumen Ahli Waris Untuk Keluarga Korban Air Asia
Kasus Tanah Kas Desa Gunung Gedangan Terus Bergulir





Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.