mahkota555

Ulama dan Umara Duduk Bersama di Jatim, Ada Agenda Besar Soal Bencana di Baliknya

SURABAYA – Upaya membangun ketangguhan masyarakat Jawa Timur dalam menghadapi potensi bencana alam terus diperkuat. Tidak hanya mengandalkan pendekatan teknis, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Jawa Timur atau BPBD Jatim kini menggandeng kekuatan spiritual dan kultural.

 

Hal itu terwujud melalui kunjungan silaturahim Lembaga Advokasi, Koordinasi, dan Penanggulangan Bencana Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur atau LAK-PB MUI Jatim ke kantor BPBD Jatim.

 

Pertemuan tersebut menjadi momentum strategis bertemunya dua kekuatan, yakni peran ulama yang diwakili LAK-PB MUI Jatim dan peran umara yang diwakili BPBD Jatim. Keduanya bersepakat untuk berkolaborasi membangun kesiapsiagaan bencana yang lebih komprehensif di Jawa Timur.

 

Ada tiga poin utama yang menjadi fokus pembahasan dalam pertemuan tersebut. Ketiganya dirancang untuk saling melengkapi antara kesiapan teknis di lapangan dan pendekatan keagamaan yang dekat dengan masyarakat.

 

Poin pertama adalah peningkatan kapasitas relawan berbasis komunitas. BPBD Jatim dan LAK-PB MUI Jatim sepakat merancang agenda pelatihan kebencanaan bersama. Fokus utama pelatihan ini ditujukan untuk membentuk relawan pesantren, dai tanggap bencana, serta pemuda ulama yang memiliki standar operasional prosedur yang jelas.

 

Standar tersebut meliputi kemampuan dalam pencarian dan pertolongan pertama, hingga manajemen logistik saat kondisi darurat terjadi. Dengan begitu, relawan dari kalangan pesantren dan komunitas keagamaan tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga terlatih secara teknis.

 

Poin kedua adalah advokasi dan literasi mitigasi berbasis keagamaan. Penguatan literasi kebencanaan akan disampaikan melalui pendekatan dakwah yang sejuk dan mudah diterima masyarakat. Narasi kebencanaan akan dikemas sedemikian rupa agar masyarakat memahami bahwa upaya mitigasi merupakan bagian dari ikhtiar untuk menjaga jiwa.

 

Dalam khazanah keislaman, konsep tersebut dikenal sebagai Hifzh an-Nafs, yakni menjaga keselamatan jiwa sebagai salah satu tujuan utama syariat. Dengan pendekatan ini, pesan kesiapsiagaan diharapkan lebih membumi dan menyentuh kesadaran masyarakat.

 

Poin ketiga adalah koordinasi tanggap darurat dan distribusi bantuan. Kedua lembaga sepakat menyusun skema koordinasi posko bersama saat terjadi bencana alam. Skema ini disusun untuk memastikan pendistribusian bantuan, layanan dukungan psikososial, serta pendampingan spiritual bagi para korban dapat berjalan cepat dan tepat sasaran.

 

“Sinergi antara BPBD Jatim dan LAK-PB MUI Jatim menjadi fondasi penting dalam mewujudkan Jawa Timur yang tangguh bencana, menggabungkan kesiapan teknis dengan kekuatan spiritual masyarakat,” ujar Ketua LAK PB MUI Provinsi Jawa Timur, H. Hambali, SE.

 

Melalui silaturahim ini, LAK-PB MUI Jatim dan BPBD Jatim berkomitmen untuk menindaklanjuti hasil pertemuan dalam bentuk program kerja nyata. Salah satu program yang akan segera disusun adalah kurikulum pelatihan mitigasi bencana berbasis pondok pesantren dan komunitas keagamaan di seluruh wilayah Jawa Timur.

 

Kolaborasi ini diharapkan mampu melahirkan model penanggulangan bencana yang khas Jawa Timur, yakni tangguh secara teknis, kuat secara spiritual, dan dekat dengan kultur masyarakat.

 

(Jay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *