mahkota555

Catwalk Penuh Warna, Siswa SMAN 1 Mojosari Ubah Batik Karya Sendiri Jadi Busana Kearifan Lokal

Majalahglobal.com, Mojokerto – Jumat, 14 Agustus 2026 halaman SMAN 1 Mojosari berubah menjadi panggung. Siswa kelas 10 tampil memamerkan hasil karya mereka dalam Fashion Show Kokurikuler bertema “Kearifan Lokal”.

 

 

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau P5. Bedanya, batik yang dikenakan bukan beli di toko. Semua kain adalah hasil karya siswa sendiri yang sudah dibuat sejak 10 Agustus 2026.

 

Dari Kain Polos ke Busana Panggung

 

Proses dimulai saat siswa belajar membatik di kelas. Setelah kain jadi, mereka berkreasi merancang busana. Ada yang menjahitnya menjadi rok, ada yang dijadikan atasan, hingga aksesoris seperti slayer.

 

Bapak Sudirman, http://S.Pd. selaku pembina menyampaikan tujuan utama kegiatan ini.

“Fashion show kali ini bertemakan ‘kearifan lokal’ dengan tujuan membangkitkan semangat anak-anak dalam berkarya, berkreativitas sesuai slogannya SMAN 1 Mojosari, ‘Selalu Menuju Masa Depan’,” jelas Pak Dirman.

 

Ia juga menekankan pentingnya pelestarian budaya. Menurutnya, karya siswa bisa menjadi cara untuk menjaga batik, warisan Indonesia yang sudah diakui UNESCO.

“Acara berlangsung lebih meriah dan menunjukkan koordinasi yang baik. Ia berharap kegiatan tersebut dapat terus dipertahankan dan berkembang menjadi gelar karya yang semakin baik,” tambahnya.

 

Panitia Kerja Ekstra, Peserta Antusias

 

Persiapan teknis dilakukan sejak sehari sebelumnya. Achmad Aminatul Firdaus dari kelas 11.3 yang bertugas sebagai panitia OSIS menuturkan, “Persiapan dari panitia itu sudah dari kemarin. Jadi, dari kemarin sudah disiapkan tripleks, meja, kursi dan sebagainya. Paginya tinggal menata saja.”

 

Tantangan terbesar justru saat mengumpulkan peserta. “Tantangan terbesar panitia adalah memanggil para peserta dari 12 kelas. Jarak antarkelas yang cukup jauh membuat panitia perlu bekerja lebih keras agar seluruh peserta dapat berkumpul sesuai waktu yang ditentukan,” ujar Achmad.

 

Ia juga memberi catatan untuk kegiatan mendatang. “Untuk kegiatan berikutnya, Achmad berharap para peserta dapat lebih menaati aturan yang telah ditetapkan, terutama terkait tata rias. Ia menilai penggunaan make up yang lebih sederhana dan natural akan lebih sesuai dengan ketentuan kegiatan.”

 

Penonton: “Hasilnya Lumayan Bagus-Bagus”

 

Marsha Ayu Salsabila dari kelas 10.12 mengaku bangga bisa ikut. “Perasaan aku bahagia, gembira juga senang melihat kreativitas para siswa-siswi yang ada di sini, karena kreativitas ini bisa mengembangkan atau melestarikan seni batik yang ada di sini,” ungkapnya.

 

Hal serupa dirasakan Roby Al Karim kelas 10.9 yang menjadi penonton. “Kesan saya itu keren, mengingat kita baru belajar membatik di sini, tapi hasilnya lumayan bagus-bagus. Ada yang ramai, ada yang sederhana, simpel tapi bagus,” tuturnya. Saat ditanya satu kata untuk acara ini, ia menjawab: “Interesting”.

 

Fashion show kokurikuler kelas 10 SMAN 1 Mojosari akhirnya tidak hanya jadi ajang unjuk busana. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang belajar siswa untuk berkarya, berkreasi, sekaligus mencintai dan menjaga kearifan lokal melalui batik. (Jay/Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *