mahkota555

Kadishut Jatim Survey Take Off Paralayang Trawas, Anang Ashanty Tanam Sukun di Hutan Pringgodani

Kadishut Jatim Survey Take Off Paralayang Trawas, Anang Ashanty Tanam Sukun di Hutan Pringgodani
Kepala Desa Trawas saat berdiskusi dengan Kadishut Jatim dan jajaran
Majalahglobal.com, Mojokerto – Sejak Sabtu pagi, Desa Trawas sudah sibuk. Cangkul beradu tanah. Tenda didirikan. Spanduk dibentangkan di pintu masuk Hutan Pringgodani. Persiapan itu, kata Kepala Desa Trawas, Wulyono berlangsung dua hari penuh. Puncaknya Senin kemarin (22/6/2026).

 

Hari itu Hutan Pringgodani tidak hanya menjadi hamparan pinus biasa. Ia berubah menjadi panggung kecil pertemuan antara birokrasi, publik figur, dan harapan warga Trawas akan masa depan desanya.

 

Pertemuan Tiga Lapis Birokrasi Kehutanan

Yang hadir bukan pejabat sembarangan. *Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur* turun langsung ke lapangan. Mendampingi *Kepala Administrasi Perhutani Malang*. Turut hadir *Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Nganjuk* yang membawahi 3 kabupaten di lingkup kerjanya.

 

Kehadiran tiga lapis birokrasi ini memberi sinyal: agenda di Trawas bukan seremoni biasa. Ada yang ingin dilihat, diukur, dan ditimbang ulang oleh pemerintah provinsi. Pertanyaannya kemudian mengerucut ke satu titik: apa yang membuat Trawas layak didatangi sejauh itu?

 

Sukun, Anang, dan Pesan Hijau

Jawabannya muncul saat rombongan tiba di area tanam. *Anang Hermansyah dan Ashanty* sudah menunggu. Pasangan artis itu datang bukan untuk konser, tapi untuk menanam.

 

30 pohon sukun ditanam satu per satu di tanah Pringgodani. Sekop bergantian di tangan Anang dan Ashanty. Keringat membasahi dahi, tapi gerakan mereka konsisten. Warga yang menyaksikan mengabadikan lewat ponsel. Anak-anak berkerumun, ikut memadatkan tanah di sekitar bibit.

 

“Kami mengucapkan terima kasih atas kunjungan Mas Anang dan Bunda Ashanty,” ujar Wulyono.

 

Pemilihan pohon sukun bukan tanpa alasan. Jenis ini cepat tumbuh, tajuknya rindang, dan buahnya bisa jadi sumber pangan alternatif. Di tengah isu perubahan iklim, penanaman sukun menjadi simbol kecil: desa juga bisa berkontribusi pada mitigasi lingkungan, meski hanya dengan 30 bibit.

 

Dari Seremoni ke Evaluasi Potensi Paralayang

Usai sesi tanam, fokus bergeser. Kadishut Jatim berjalan ke bibir bukit. Di sana terbentang take off paralayang Desa Trawas. Lokasi ini sebenarnya sudah dikenal. Gubernur Jawa Timur pernah meresmikannya pada 2020. Tapi sejak itu, pengembangannya berjalan pelan.

 

Senin kemarin menjadi momen evaluasi ulang. Kadishut berdiri lama di titik lepas landas. Memandang kontur bukit, arah angin, dan bentang alam Mojokerto dari ketinggian. Catatan kecil ia gores di buku lapangan.

 

“Inti dari kunjungan ini adalah melihat potensi pembuatan take off paralayang Desa Trawas,” kata Wulyono.

 

Bagi pemerintah provinsi, Trawas punya dua modal: hutan dan ketinggian. Dua modal itu kalau dikelola tepat bisa menjadi paket wisata yang saling menguatkan. Wisatawan datang menanam, lalu terbang. Atau sebaliknya.

 

Refleksi: Dua Hari Kerja, Satu Tujuan Jangka Panjang

Persiapan Sabtu-Minggu mungkin melelahkan bagi panitia dan warga. Tapi Senin kemarin membuktikan, kerja dua hari itu punya gema lebih panjang.

 

30 pohon sukun hari ini akan menjadi tajuk penahan angin dan erosi lima tahun ke depan. Kunjungan Anang-Ashanty hari ini bisa jadi magnet media yang membuat orang luar Mojokerto bertanya: “Trawas di mana?”

 

Dan survey take off paralayang hari ini adalah langkah awal sebelum anggaran, desain, dan izin bicara. Jika 2020 adalah tahun peluncuran simbolis, maka 2026 bisa menjadi tahun penentuan: apakah Trawas hanya punya landasan, atau benar-benar punya industri paralayang.

 

Wulyono tidak berjanji muluk. Ia hanya memastikan desa siap bekerja sama. “Kami siap mendukung,” katanya singkat.

 

Langit Trawas sore itu cerah. Angin cukup kencang untuk sekadar menguji arah. Belum cukup untuk terbang. Tapi cukup untuk mengingatkan: bahwa setiap lepas landas besar, selalu dimulai dari persiapan panjang di tanah. (Jay/Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *