Dulu Becek dan Licin, Kini Mulus: Rp150 Juta dari Provinsi Jatim Ubah Wajah Dua Dusun di Pelem Pacitan

Pacitan, majalahglobal.com – Pagi itu, di sebuah dusun di Desa Pelem, Kecamatan Pringkuku, Pacitan, suara mesin molen bercampur dengan tawa warga.

 

 

Bukan ada hajatan. Bukan ada proyek besar milik kontraktor dari kota.

 

Yang sedang terjadi adalah sesuatu yang sudah lama ditunggu: jalan lingkungan mereka akhirnya dicor.

 

Selama bertahun-tahun, warga Dusun Krajan 1 dan Dusun Jangklot harus berdamai dengan jalan yang tidak bersahabat. Saat musim hujan, jalan menjadi licin dan becek. Saat musim kemarau, debu beterbangan setiap kali motor melintas.

 

Bagi orang luar, itu mungkin hanya jalan setapak. Bagi warga Pelem, itu adalah jalur kehidupan. Jalur anak berangkat sekolah. Jalur petani mengangkut hasil panen. Jalur ibu-ibu pergi ke pasar. Jalur ambulans saat ada warga yang sakit.

 

Kini, jalur itu berubah.

 

Melalui Bantuan Keuangan Khusus (BKK) dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2026, Desa Pelem akhirnya bisa mewujudkan apa yang selama ini hanya menjadi usulan dalam musyawarah dusun: jalan rabat beton.

 

Dua Dusun, Satu Harapan yang Sama

 

Pembangunan kali ini tidak hanya menyasar satu titik. Ada dua lokasi yang dikerjakan secara bersamaan.

 

*Pertama, Dusun Krajan 1.*

Di dusun ini, jalan sepanjang 201 meter kini telah dicor dengan lebar 2,60 meter dan ketebalan 12 cm. Anggaran yang digelontorkan sebesar Rp75.000.000.

 

*Kedua, Dusun Jangklot.*

Tidak kalah penting, di dusun ini jalan sepanjang 210 meter juga telah dicor dengan lebar 2,50 meter dan ketebalan 12 cm. Anggarannya sama: Rp75.000.000.

 

Jika ditotal, ada 411 meter jalan baru yang kini membentang di Desa Pelem, dengan total anggaran Rp150.000.000.

 

Angka yang mungkin terlihat kecil bagi proyek di kota besar. Namun bagi desa, angka itu adalah perubahan besar.

 

Bukan Sekadar Cor Beton

 

Bagi Kepala Desa Pelem, Jarno, pembangunan ini bukan sekadar soal menuang semen dan meratakan beton.

 

Ini soal martabat warga. Soal bagaimana warga desa juga berhak merasakan jalan yang nyaman, aman, dan layak.

 

“Alhamdulillah, program ini sangat membantu dan sangat bermanfaat bagi masyarakat Desa Pelem. Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur atas dukungan dan bantuan yang telah diberikan. Dengan adanya pembangunan rabat beton ini, akses jalan masyarakat menjadi lebih baik dan diharapkan dapat memperlancar berbagai aktivitas sehari-hari,” ujar Jarno.

 

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya, ada rasa syukur yang tidak dibuat-buat. Karena ia tahu betul, tanpa bantuan dari provinsi, desa dengan keterbatasan anggaran seperti Pelem akan kesulitan untuk membangun jalan sepanjang itu dalam waktu singkat.

 

Jarno pun tidak ingin pembangunan ini berhenti sebagai proyek semata. Ia mengajak warganya untuk ikut menjaga.

 

Jalan yang sudah bagus, kata dia, harus dirawat bersama. Jangan sampai baru sebulan dicor, sudah rusak karena dilalui kendaraan yang melebihi kapasitas, atau karena tidak ada yang peduli dengan saluran air di pinggirnya.

 

Jalan Mulus, Ekonomi Ikut Bergerak

 

Apa dampak dari 411 meter jalan beton ini?

 

Bagi petani, artinya hasil panen bisa diangkut lebih cepat, tanpa takut motor tergelincir atau mobil pikap terjebak lumpur.

 

Bagi anak sekolah, artinya mereka bisa berangkat lebih pagi dengan lebih aman, tanpa sepatu yang penuh lumpur.

 

Bagi pedagang kecil, artinya pembeli dari dusun tetangga bisa datang dengan lebih mudah.

 

Bagi warga yang sakit, artinya akses menuju puskesmas menjadi lebih cepat.

 

Inilah yang sering dilupakan: pembangunan infrastruktur desa bukan hanya soal fisik. Di balik beton yang mengeras, ada roda ekonomi yang ikut bergerak.

 

Pemerintah Desa Pelem berharap, dengan konektivitas antar dusun yang semakin baik, mobilitas warga akan semakin lancar, dan aktivitas sosial maupun ekonomi masyarakat bisa tumbuh lebih cepat.

 

Komitmen yang Tidak Berhenti di Sini

 

Pembangunan di Krajan 1 dan Jangklot bukanlah akhir. Bagi Pemerintah Desa Pelem, ini adalah awal.

 

Desa berkomitmen untuk terus mengoptimalkan setiap program bantuan yang datang dari pemerintah, baik dari provinsi maupun kabupaten, demi pemerataan pembangunan.

 

Karena bagi Pelem, pembangunan yang adil bukan berarti semua dibangun sekaligus, melainkan dibangun satu per satu, sesuai kebutuhan yang paling mendesak, dan dirasakan manfaatnya langsung oleh warga.

 

Dan hari ini, di dua dusun itu, manfaat itu sudah bisa dirasakan: jalan yang dulu becek, kini sudah mulus. Jalan yang dulu membuat warga was-was, kini membuat warga tersenyum.

 

*(Mhd/Adv)*

Exit mobile version