KOTA MOJOKERTO – Di tengah kondisi kemarau panjang yang membuat suhu udara terasa menyengat dan panas di Kota Mojokerto, Pemerintah Kota Mojokerto menggelar ikhtiar spiritual. Ratusan jamaah mengikuti salat istisqa untuk memohon turunnya hujan di Lapangan Sasana Praja Abhipraya, Jumat (23/10/2026).
Salat sunah untuk meminta hujan ini tidak hanya menjadi ritual ibadah, tetapi juga menjadi momen untuk meningkatkan keimanan, introspeksi, dan memperbaiki diri bersama.
Wakil Wali Kota Mojokerto, Rachman Sidharta Arisandi yang akrab disapa Cak Sandi, dalam sambutannya mengingatkan bahwa hujan merupakan rahmat Allah SWT yang tidak dapat dihadirkan hanya dengan mengandalkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia.
Karena itu, menurutnya, salat istisqa menjadi momentum untuk menengadahkan tangan dengan penuh kerendahan hati, memohon pertolongan dan ampunan-Nya.
Ia mengutip Surah Nuh ayat 10–11 yang mengingatkan umat manusia untuk senantiasa memohon ampun kepada Allah SWT, yang dengan rahmat-Nya dapat menurunkan hujan sebagai keberkahan bagi kehidupan.
“Memohon hujan juga merupakan momentum untuk memperbaiki diri. Kita tidak pernah mengetahui doa siapa yang Allah kabulkan. Maka, jangan pernah merasa paling suci dan paling dekat dengan Allah,” tutur Cak Sandi di hadapan jamaah.
Dalam kesempatan tersebut, Cak Sandi juga mengajak seluruh pihak, khususnya jajaran pemerintahan di lingkungan Pemkot Mojokerto, untuk melakukan introspeksi terhadap amanah yang diemban. Menurutnya, ikhtiar memohon rahmat Allah harus disertai dengan perilaku yang adil, kejujuran, serta kepedulian dalam memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Sebagai pemerintah, kami menyadari bahwa doa harus disertai dengan ikhtiar nyata melalui pengelolaan air, perawatan lingkungan, dan kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana. Hujan adalah rahmat yang kita mohonkan kepada Allah, tetapi menjaga bumi ini adalah amanah yang dititipkan kepada kita,” jelasnya.
Melalui pelaksanaan salat istisqa ini, Pemerintah Kota Mojokerto berharap hujan yang membawa keberkahan segera turun, menyuburkan bumi, mencukupi kebutuhan air bersih masyarakat, serta menjauhkan wilayah Kota Mojokerto dari berbagai musibah akibat kemarau panjang, seperti kekeringan dan kebakaran.
*Penulis: Jayak Mardiansyah*










