Touring Edukatif ke PT GGP, Lapas Metro Siapkan Pengembangan Pembinaan Kemandirian Warga Binaan Lewat Budidaya Nanas
METRO, majalahglobal.com – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Metro terus berupaya mengembangkan inovasi program pembinaan kemandirian bagi warga binaan. Salah satu langkah yang dilakukan yakni melalui kegiatan touring edukatif yang dirangkaikan dengan studi tiru perkebunan nanas di PT Great Giant Pineapple (GGP), Sabtu (17/10/2026).
Kegiatan yang diikuti jajaran pegawai Lapas Kelas IIA Metro bersama jajaran Lapas Gunung Sugih tersebut bertujuan memperluas wawasan dan pengetahuan di bidang pertanian, khususnya budidaya nanas, yang berpotensi dikembangkan sebagai salah satu program pembinaan keterampilan produktif bagi warga binaan.
Rombongan mengunjungi PT GGP dan diterima langsung oleh manajer produksi serta manajer Quality Management System. Dalam kunjungan tersebut, peserta memperoleh penjelasan mengenai proses budidaya nanas, pengelolaan perkebunan, tahapan produksi, hingga penerapan standar mutu untuk menjaga kualitas produk.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab interaktif. Para peserta juga berkesempatan meninjau langsung area produksi dan pengemasan untuk memahami proses pengolahan hingga produk siap dipasarkan.
Melalui kunjungan tersebut, jajaran Lapas Metro mempelajari praktik pengelolaan pertanian secara terstruktur, mulai dari perawatan tanaman hingga pengendalian kualitas hasil panen. Pengetahuan ini diharapkan menjadi referensi dalam merancang program bimbingan kerja yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi warga binaan.
Kepala Lapas Kelas IIA Metro, Tetra Destorie, mengatakan bahwa kegiatan touring tersebut tidak hanya ditujukan sebagai sarana rekreasi, tetapi juga menjadi kesempatan untuk belajar, memperluas wawasan, dan menggali peluang inovasi pembinaan.
“Bagi kami, kegiatan ini bukan sekadar touring, melainkan kesempatan untuk belajar dari praktik yang telah diterapkan oleh PT GGP. Kami mendapatkan wawasan mengenai budidaya nanas, pengelolaan perkebunan, proses produksi, hingga standar mutu. Pengetahuan ini menjadi bekal berharga untuk kami kaji lebih lanjut dalam pengembangan program pembinaan kemandirian di Lapas Metro,” ujar Tetra Destorie.
Menurutnya, pembinaan kemandirian perlu terus dikembangkan melalui kegiatan yang memberikan keterampilan praktis dan memiliki potensi nilai ekonomi. Oleh karena itu, pengetahuan yang diperoleh dari studi tiru tersebut akan menjadi bahan pertimbangan dalam memperkaya program bimbingan kerja bagi warga binaan.
“Kami ingin pembinaan kemandirian tidak berhenti pada pemberian keterampilan dasar, tetapi juga membuka kesempatan bagi warga binaan untuk mempelajari proses produksi yang terencana, memahami kualitas hasil, dan memiliki bekal keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke masyarakat,” jelasnya.
Lebih lanjut, Tetra mengungkapkan bahwa pihaknya akan mengkaji peluang pengembangan budidaya nanas di lingkungan Lapas Metro dengan mempertimbangkan ketersediaan lahan, kondisi lingkungan, kebutuhan sarana, serta aspek teknis lainnya.
“Kami akan mengkaji kemungkinan pengembangan budidaya nanas di Lapas Metro sesuai dengan potensi lahan dan sumber daya yang tersedia. Apabila memungkinkan, program ini dapat menjadi alternatif kegiatan pembinaan kemandirian di bidang pertanian yang produktif dan berorientasi pada keterampilan serta nilai ekonomi. Harapannya, warga binaan memperoleh pengalaman kerja yang bermanfaat sebagai bekal untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah menjalani masa pidana,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pengembangan program kemandirian tersebut sejalan dengan upaya Lapas Metro untuk terus menghadirkan kegiatan pembinaan yang inovatif dan produktif, sebagaimana pengembangan usaha PAS Coffee yang telah dijalankan.
Selain berfokus pada pengembangan wawasan pertanian, kegiatan touring ini juga menjadi sarana mempererat hubungan dan sinergi ant jajaran pemasyarakatan. Kebersamaan antara pegawai Lapas Metro dan Lapas Gunung Sugih diharapkan dapat mendorong pertukaran pengalaman serta memperkuat kolaborasi dalam pelaksanaan tugas.
“Sinergi antar-UPT pemasyarakatan sangat penting. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat membangun kebersamaan, berbagi pengalaman, dan saling mendukung dalam meningkatkan kualitas pelaksanaan tugas, khususnya dalam memberikan pembinaan yang bermanfaat bagi warga binaan,” tutur Tetra.
Usai kegiatan studi tiru di PT GGP, rombongan melanjutkan perjalanan ke Taman Nasional Way Kambas untuk melihat kegiatan konservasi gajah. Peserta juga mengikuti aktivitas off-road sebagai bagian dari rangkaian kegiatan kebersamaan dan penguatan kekompakan pegawai.
Salah seorang pegawai, Indra, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, touring yang dipadukan dengan kunjungan edukatif memberikan pengalaman berbeda karena peserta tidak hanya menikmati perjalanan, tetapi juga memperoleh pengetahuan baru yang dapat diterapkan dalam pekerjaan.
“Kegiatannya sangat seru dan bermanfaat. Kami tidak hanya touring bersama, tetapi juga mendapatkan wawasan baru mengenai perkebunan nanas. Ditambah pengalaman off-road bersama rekan-rekan, kegiatan ini semakin mempererat kebersamaan dan kekompakan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Lapas Kelas IIA Metro berharap wawasan yang diperoleh dapat menjadi bahan pengembangan program pembinaan kemandirian yang lebih beragam, produktif, dan berkelanjutan, sehingga warga binaan memiliki keterampilan yang bermanfaat sebagai bekal untuk kembali berperan positif di tengah masyarakat.
Oleh: Andi Raya
081272255678










