MOJOKERTO – Menjadi kepala sekolah di era sekarang bukan hanya soal tanda tangan dan administrasi. Di tangan orang yang tepat, jabatan itu bisa menjadi ruang untuk menghadirkan perubahan.
Hal itulah yang tercermin dari sosok Silfi Ariani, Kepala SMAN 3 Mojokerto. Perempuan 48 tahun ini tidak datang dengan gimmick. Ia datang dengan rekam jejak.
Sejak diamanahi memimpin SMAN 3 Mojokerto pada tahun 2024, sederet capaian mulai terlihat. Sekolah ini tidak hanya meraih predikat sekolah Adiwiyata dan sekolah digital, tetapi juga didapuk menjadi sekolah percontohan dalam mengadopsi praktik pendidikan ala Singapura. Belum lagi deretan prestasi akademik dan nonakademik, serta penguatan nilai-nilai moderasi beragama di lingkungan sekolah.
“Bagi saya, memimpin SMAN 3 merupakan tantangan tersendiri. Setiap sekolah memiliki karakteristik dan persoalannya masing-masing. Namun, bagi saya, semua itu adalah tantangan yang harus dihadapi dan dicarikan solusinya,” ungkap pengurus pusat alumni Universitas Jember ini, (18/10/2026).
*Dari Bangil, dengan Didikan Keras Tentang Pendidikan*
Capaian itu tidak datang tiba-tiba. Silfi tumbuh dalam keluarga sederhana di Kota Bangil, Kabupaten Pasuruan. Di lingkungan di mana banyak anak pejabat justru tidak bersekolah, ayahnya memiliki prinsip yang berkebalikan.
Silfi kecil selalu didorong untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin.
“Di lingkungan saya banyak anak pejabat, tetapi tidak semuanya bersekolah. Sementara itu, bapak saya justru sangat ingin saya sekolah. Beliau merasa tidak bisa meninggalkan harta untuk saya, sehingga pendidikan diharapkan menjadi bekal agar saya bisa mandiri,” tuturnya.
Dorongan itulah yang mengantarkannya meraih gelar sarjana di Universitas Jember setelah lulus dari SMA Negeri 1 Bangil. Tak berhenti di situ, ia melanjutkan magister Pendidikan Biologi di Universitas Negeri Surabaya, hingga akhirnya menempuh pendidikan doktoral di bidang Teknologi Pendidikan di universitas yang sama.
Semangat belajar itu pula yang membawanya terpilih menjadi salah satu dari 20 kepala sekolah terbaik se-Jawa Timur untuk mengikuti program short course Leadership for East Javanese Officials di Singapura beberapa bulan lalu. Ia juga berkesempatan belajar di Thailand untuk melihat langsung pengelolaan sekolah yang maju.
“Kegiatan itu merupakan bagian dari tugas pascasarjana saya. Namun, hal yang paling berkesan adalah bagaimana inovasi dan kebijakan dapat mendorong kemajuan sebuah lembaga pendidikan,” jelasnya.
*Sembilan Tahun yang Tidak Biasa*
Perjalanan karier Silfi sudah dimulai sejak masih mahasiswa. Selain aktif di organisasi kemahasiswaan, ia mengajar sebagai tutor di berbagai lembaga bimbingan belajar (LBB).
Setelah lulus, ia mengabdi sebagai ASN dan mendapat amanah yang tidak biasa: memimpin SMA Yadika Bangil, Pasuruan, selama sembilan tahun. Padahal, lazimnya kepala sekolah di sekolah tersebut hanya menjabat dua hingga tiga tahun.
“Biasanya, kepala sekolah di SMA Yadika menjabat sekitar dua sampai tiga tahun. Namun, alhamdulillah, saya mendapat kepercayaan untuk memimpin selama sembilan tahun. Saat itu, saya dinilai mampu membawa perubahan bagi sekolah,” tuturnya.
Pengalaman itu menjadi modalnya ketika kemudian dipercaya memimpin SMAN 1 Trawas selama tiga tahun. Di sana, ia mendorong terobosan sebagai Sekolah Penggerak sekaligus sekolah percontohan program Double Track. Di bawah kepemimpinannya, sekolah juga berhasil memperoleh bantuan infrastruktur yang cukup besar.
Kini, di SMAN 3 Mojokerto, ia melanjutkan jejak itu. Bukan dengan gebrakan yang berisik, melainkan dengan pendekatan dari hati, kepedulian, dan konsistensi.
Dari Bangil ke Mojokerto, jejaknya menunjukkan satu hal: sekolah berprestasi tidak lahir dari gedung megah semata, melainkan dari pemimpin yang mau tinggal, mendengar, dan bekerja lama di tempat yang sama. (Jay)










