mahkota555

Advokat Hadi Purwanto Gelar Majelis Sholawat di Kantor LBH Djawa Dwipa, Dua Kiai Ini Bongkar Cara Memuliakan Anak Yatim

Advokat Hadi Purwanto Gelar Majelis Sholawat di Kantor LBH Djawa Dwipa, Dua Kiai Ini Bongkar Cara Memuliakan Anak Yatim
Advokat Hadi Purwanto didampingi istrinya dan Ustaz Mukid
Majalahglobal.com, Mojokerto – Ada pemandangan tak biasa di Kantor LBH Djawa Dwipa, Jalan Banjarsari No. 59, Desa Kedunglengkong, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, Rabu (7/10/2026) malam. Lantunan sholawat dari Group Sholawat Al Haddad Djawa Dwipa menggema hingga ke jalan desa, puluhan anak yatim duduk di shaf terdepan, dan ratusan warga yang hadir larut dalam pengajian yang digelar Advokat Hadi Purwanto, S.T., S.H., M.H. Dalam kegiatan tersebut juga terlihat Kapolsek Pacet AKP Umam dan Waka Humas SMKN 1 Dlanggu Kabupaten Mojokerto Huddy.
Advokat Hadi Purwanto Gelar Majelis Sholawat di Kantor LBH Djawa Dwipa, Dua Kiai Ini Bongkar Cara Memuliakan Anak Yatim
Kantor LBH Djawa Dwipa bersama Grup Selawat Al Haddad Djawa Dwipa

Mengusung tajuk Giat Sholawat & Ngaji Bareng serta Santunan Anak Yatim yang TERBUKA UNTUK UMUM, kegiatan ini mengusung tema Surat Al-‘Ashr sebagai landasan spiritual. Dimulai pukul 19.30 WIB, acara ini dikemas sebagai ikhtiar memadukan hukum, dakwah, dan kemanusiaan.

Advokat Hadi Purwanto Gelar Majelis Sholawat di Kantor LBH Djawa Dwipa, Dua Kiai Ini Bongkar Cara Memuliakan Anak Yatim
Advokat Hadi Purwanto saat memberikan santunan ke anak yatim

Advokat Hadi Purwanto menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan komitmen untuk menebar benih manfaat dan kebaikan dari kantor hukum.

 

“Kami ingin mengembalikan makna kantor hukum bukan hanya sebagai tempat mengadu masalah, tetapi sebagai tempat menebar benih manfaat dan kebaikan. Hukum itu soal keadilan, dan keadilan yang paling dekat adalah memuliakan anak-anak yatim dan menghidupkan sholawat,” ujar Hadi.

Advokat Hadi Purwanto Gelar Majelis Sholawat di Kantor LBH Djawa Dwipa, Dua Kiai Ini Bongkar Cara Memuliakan Anak Yatim
Kapolsek Pacet dan Waka Humas SMKN 1 Dlanggu saat berdoa

Menurut Hadi, pemilihan Surat Al-‘Ashr sebagai spirit acara adalah fondasi etika advokat.

 

“Bagi kami, Surat Al-‘Ashr adalah fondasi. _Wal ‘Ashr, innal insaana lafii khusr, illalladzina aamanu wa ‘amilus sholihati wa tawaashau bil haqqi wa tawaashau bish shabr._ Demi masa, manusia dalam kerugian kecuali yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Itu prinsip advokat. Kami beriman pada konstitusi, beramal saleh melalui bantuan hukum, dan menasihati dalam kebenaran di dalam maupun di luar persidangan. Santunan yatim ini adalah bagian dari amal saleh itu. Kami tidak ingin ada sekat antara hukum dan kemanusiaan,” tegasnya.

 

Ia menambahkan, sholawat menjadi cara menjaga integritas hati dalam profesi.

 

“Sholawat adalah cara kami menjaga hati agar tetap jernih dalam membela kebenaran. Kami undang seluruh masyarakat, tanpa melihat latar belakang. Ini terbuka untuk umum. Datang, kita bersholawat bersama, ngaji bersama, dan memuliakan anak yatim bersama. Semoga menjadi agenda rutin bulanan LBH Djawa Dwipa,” tutup Hadi.

Advokat Hadi Purwanto Gelar Majelis Sholawat di Kantor LBH Djawa Dwipa, Dua Kiai Ini Bongkar Cara Memuliakan Anak Yatim
Ustaz Mukid saat memberikan tausiyah

Selanjutnya, Ustaz Mukid yang mewakili keluarga besar Hadi Purwanto menyampaikan tausiyah pembuka. Ia mengawali dengan ucapan terima kasih banyak atas kehadiran jamaah dan permohonan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan selama acara.

 

“Majelis ini dibentuk karena mengikuti Rasulullah SAW. Di mana Kanjeng Nabi itu suka mengumpulkan sahabatnya. Mengumpulkan untuk makan-makan dan memberikan ceramah,” ungkap Ustaz Mukid.

 

Lebih lanjut, Ustaz Mukid menguraikan tentang keistimewaan Rasulullah SAW yang menurutnya berbeda dari manusia pada umumnya dalam aspek penciptaan.

 

“Rasulullah SAW itu manusia tidak seperti manusia. Dalam hal penciptaannya sudah berbeda dengan kita. Ada istilah diciptakan dan dilahirkan. Ada nabi yang diciptakan seperti Nabi Adam yang tidak punya bapak dan tidak punya ibu. Itu namanya rasul yang diciptakan,” jelasnya.

 

Ia menjelaskan, Rasulullah SAW memiliki dua dimensi kemuliaan.

 

“Rasulullah SAW itu diciptakan dan dilahirkan. Diciptakan dalam hal nurnya Nabi Muhammad sebelum Nabi Adam dan dilahirkan dari seorang ibu,” ujarnya.

 

Ustaz Mukid kemudian mengutip kisah haru saat wahyu pertama turun.

 

“Ketika Rasulullah SAW menerima Wahyu di Gua Hira, Rasulullah menangis, saya rindu kepada orang yang mencintaiku,” paparnya.

 

Menurutnya, kerinduan itu bersifat timbal balik yang melampaui zaman.

 

“Kita tidak pernah menemui Rasulullah tapi hati kita bergetar saat mendengar nama Rasulullah SAW. Apa yang kita rindukan dan apa yang kita cintai, jauh lebih dulu Rasulullah SAW yang merindukan umatnya,” terang Ustaz Mukid.

Advokat Hadi Purwanto Gelar Majelis Sholawat di Kantor LBH Djawa Dwipa, Dua Kiai Ini Bongkar Cara Memuliakan Anak Yatim
K.H. Hasan Mathori saat menyampaikan ceramah

Tausiyah penutup yang paling menyentuh disampaikan K.H. Hasan Mathori. Ia mengingatkan jamaah tentang ujian dalam memuliakan anak yatim.

 

“Setan itu biasanya menggoda anak yatim agar orang tuanya dan tetangga tidak senang dengan anak yatim. Kalau anak yatim nakal, coba dibelikan sesuatu dan berikan nasihat. Allah melarang kita menyentak anak yatim. Biasanya orang tua yang tidak kuat dengan anak yatimnya sendiri,” ungkap K.H. Hasan Mathori.

 

Ia menekankan bahwa anak yatim membutuhkan pengawasan dan kasih sayang yang konsisten.

 

“Anak yatim itu butuh kasih sayang. Kalau punya rezeki berikan dia rezeki dan jika belum punya sampaikan permohonan maaf dan doakan anak yatim. Anak yatim wajib diawasi. Jangan sampai anak yatim kelaparan. Ayolah dirangkul. Semua orang Islam itu saudara. Jika tetangga kanan kiri masih tidak bisa makan maka tidak akan bisa kita mendapatkan keberkahan,” jelasnya.

 

K.H. Hasan Mathori juga menyampaikan keutamaan besar merawat kelompok rentan.

 

“Merawat janda tua dan anak yatim fadilahnya sama seperti salat dan puasa dari pagi sampai malam,” ujarnya.

 

Dalam ceramahnya yang bersifat refleksi sosial-keagamaan, K.H. Hasan Mathori menyampaikan pandangannya tentang definisi kemiskinan dan pentingnya menjaga martabat warga. Pernyataan berikut disampaikan sebagai kutipan ceramah agama, bukan sebagai tuduhan kepada pihak tertentu.

 

“Orang miskin itu orang yang tidak mau mengakui kemiskinannya. Merahasiakan kekurangannya. Jadi pengemis di pinggir jalan itu bukan orang miskin,” ucapnya.

 

“Tulisan khusus masyarakat miskin yang ditempelkan di rumah-rumah itu, dalam pandangan beliau sebagai materi dakwah, perlu dievaluasi secara bijak agar lebih mengedepankan empati dan tidak berpotensi melukai martabat warga. Itu disampaikan sebagai refleksi untuk kebaikan bersama,” lanjut K.H. Hasan Mathori dalam tausiyahnya.

 

Ia juga menyampaikan refleksi tentang amanah sumber daya alam dalam perspektif keislaman.

 

“Jika negara cerdas, tambang, emas, minyak, timah, udara, air itu kan sumber daya alam. Orang itu punya hak terkait sumber daya alam tersebut termasuk orang yang belum mampu. Itu amanah yang harus dikelola untuk kemaslahatan umat,” terangnya.

 

Kiai Hasan menutup dengan kiasan yang mengajak jamaah meningkatkan kepekaan sosial.

 

“Kalau belum makan 3 hari belum termasuk orang miskin,” ucapnya, sebagai penekanan bahwa standar kepedulian kita harus jauh lebih tinggi.

 

Acara ditutup dengan doa bersama dan penyerahan santunan. Hingga pukul 22.00 WIB, jamaah masih bertahan untuk bersalaman dengan para kiai dan Advokat Hadi Purwanto. (Jay/Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *