BATANG HARI – Pagi itu, 1 Oktober 2026, Alun-alun Batang Hari tidak seperti biasanya. Sejak pukul 07.00 WIB, lautan manusia dari berbagai elemen bangsa telah bersatu dalam barisan yang rapi. Ada TNI/Polri dengan tegapnya, Aparatur Sipil Negara dengan seragam korpri, tokoh masyarakat, mahasiswa, hingga pelajar SD, SMP, SMA yang khidmat.
Mereka berkumpul bukan untuk upacara biasa. Mereka memperingati Hari Kesaktian Pancasila.
Upacara dipimpin langsung oleh Bupati Batang Hari, Muhammad Fadhil Arief. Di hadapan ribuan peserta, bupati yang akrab disapa MFA itu tidak membaca teks sambutan dengan datar. Ia berbicara dari hati.
“Hari ini kita berkumpul bukan sekadar berdiri tegak dan mengikuti prosedur,” ujar Fadhil dengan suara lantang, menggema lewat pengeras suara alun-alun.
“Kita melihat sejarah: Pancasila yang menjadi jiwa bangsa ini pernah nyaris terguncang. Namun kita melewatinya. Hingga hari ini, Indonesia tetap tegak, utuh, dan berdaulat.”
Suasana hening. Semua menyimak.
Bupati Fadhil kemudian menarik benang merah sejarah itu ke hari ini. Menurutnya, ancaman terhadap Pancasila tidak lagi berbentuk rongrongan fisik seperti di masa lalu. Wajahnya telah berubah.
“Dulu rongrongannya jelas, kita lihat dalam sejarah. Kini wujudnya berbeda: ada yang menyebarkan intoleransi, memupuk kebencian, memecah belah lewat isu-isu yang tak bertanggung jawab. Diam-diam menggerogoti persatuan kita,” tegasnya.
Ia pun menitipkan pesan khusus kepada generasi muda Batang Hari. Di era media sosial, di mana informasi bisa memecah belah dalam hitungan detik, Pancasila harus menjadi kompas.
Jaga toleransi. Kuatkan gotong royong. Hormati keberagaman.
“Tugas kita sekarang jelas menjaga, menghayati, dan mengamalkan Pancasila di setiap langkah kehidupan. Jangan biarkan siapa pun memisahkan kita. Bersama kita kuat, bersama kita maju,” pungkas MFA, yang disambut tepuk tangan panjang peserta upacara. (Darmawan)
