Majalahglobal.com, Mojokerto – Sore di Pendopo Balai Desa Leminggir, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, itu menghadirkan pemandangan yang tidak biasa, Kamis (1/10/2026).
Di satu sisi, di balik meja beralas batik, jajaran pemerintah desa dan kecamatan. Di sisi lain, di kursi-kursi plastik biru menghadap ke depan, belasan pemuda dan pemudi berambut pirang, berkulit putih, dari Amerika Serikat. Mereka adalah 16 calon relawan Peace Corps Indonesia angkatan ID18.
Mereka akan menghabiskan tiga bulan ke depan bukan sebagai turis, melainkan sebagai warga Desa Leminggir.
Pertemuan lintas benua itu dibuka oleh Sekretaris Kecamatan Mojosari, Sugiantoro.
Dengan batik biru, Sugiantoro berdiri, mengambil mikrofon, dan menyampaikan sapaan pertama sebagai tuan rumah wilayah.
“Selamat datang,” ujar Sugiantoro.
Ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para calon relawan dan kepada para pendamping yang telah jauh-jauh membawa program ini hingga ke Mojokerto. Ia berharap seluruh proses Pre-Service Training ini berjalan aman, tertib, dan lancar.
Namun, sebagai Sekretaris Kecamatan Mojosari, Sugiantoro menitipkan pesan yang berat dan mendasar, sebuah etika universal bagi siapa pun yang datang ke desa orang.
“Saya berpesan agar kesempatan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kenali lingkungan setempat, hormati adat istiadat budaya masyarakat, bangun komunikasi yang positif dan jadilah bagian dari masyarakat selama menjalankan proses pelatihan maupun nantinya dalam pelaksanaan tugas,” tutur Sugiantoro.
Setelah Sekcam, giliran tuan rumah yang sebenarnya yang berbicara. Ia adalah Kepala Desa Leminggir, H. Khusaeni, S.H.
Jika pesan Sekcam adalah tentang etika, maka pesan Kades Khusaeni adalah tentang rasa aman.
Dengan senyum yang hangat, Khusaeni memperkenalkan diri dan istrinya, Ibu Sri Indah Setiawati, kepada para relawan. Ia tahu, keraguan pasti ada di benak 16 anak muda Amerika itu – bagaimana rasanya tinggal di rumah orang asing, di desa asing, di negara asing.
Karena itu, Khusaeni tidak bicara soal program. Ia bicara soal perasaan.
“Berbahagialah, jangan ada rasa takut, jangan ada rasa minder atau berkecil hati,” ujar Khusaeni, kalimat yang menjadi kunci sambutannya sore itu.
Ia berterima kasih kepada para orang tua angkat di Desa Leminggir yang telah dengan ikhlas membuka pintu rumahnya. Ia menjelaskan bahwa Leminggir bukanlah desa yang baru pertama kali menerima bule. Sudah lebih dari empat tahun, desa ini menjadi langganan desa dampingan Peace Corps. Warganya sudah terbiasa.
“Kami selaku pimpinan desa dan beserta jajaran pemerintah dan seluruh warga masyarakat sangat antusias menerima rekan-rekan dari Amerika,” tegasnya. (Jay/Adv)










