mahkota555

Tak Hanya Sehat, Kota Mojokerto Dapat Bonus Rp2 Miliar Usai Jadi Juara Layanan Kesehatan Regional

Mojokerto – Nama Kota Mojokerto kembali harum di tingkat nasional. Pemerintah Kota Mojokerto dinobatkan sebagai daerah dengan Peringkat I Kategori Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan pada ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Tahun 2026 Batch II Regional Jawa dan Bali.

 

 

Penghargaan bergengsi dari Kementerian Dalam Negeri RI itu diserahkan langsung oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus kepada Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari. Acaranya berlangsung di Nusa Dua Convention Center, Bali, Jumat (28/8/2026).

 

Selain piagam, Kota Onde-Onde juga membawa pulang insentif fiskal sebesar Rp2 miliar.

 

Capaian ini bukan kebetulan. Sejak periode pertama hingga periode kedua kepemimpinan Ning Ita, sapaan akrab Wali Kota, kesehatan memang jadi prioritas utama.

 

Buktinya, Kota Mojokerto berhasil mempertahankan status Universal Health Coverage UHC selama 7 tahun berturut-turut. Artinya, hampir seluruh warga sudah terjamin layanan kesehatannya.

 

“Hingga Agustus 2026, kepesertaan BPJS atau JKN warga Kota Mojokerto yang aktif mencapai 97,31 persen. Ini bentuk komitmen kami memastikan masyarakat punya akses berobat,” kata Ning Ita.

 

Bagi 2,69 persen warga yang belum masuk JKN, Pemkot tidak tinggal diam. Mereka dijamin lewat skema Penerima Bantuan Iuran PBI yang iurannya ditanggung APBD Kota Mojokerto.

 

Bahkan saat sekitar 1.200 warga terdampak cleansing data PBI-JKN, Pemkot langsung bergerak cepat.

 

“Tidak perlu menunggu besok atau lusa, langsung kita cover supaya mereka tetap bisa berobat,” tegas Ning Ita.

 

Kuatnya akses itu ditopang infrastruktur yang memadai. Untuk melayani 142 ribu penduduk di 3 kecamatan, Kota Mojokerto punya 6 rumah sakit, 6 puskesmas, 11 puskesmas pembantu, dan 13 klinik pratama.

 

Rasio tenaga dokternya pun bagus. 1 dokter melayani kurang dari 1.000 warga. Jauh di bawah standar Kemenkes yang maksimal 1 dokter untuk 2.500 warga.

 

Komitmen anggaran juga nyata. Setiap tahun alokasi untuk kesehatan selalu di atas 20 persen. Padahal amanat minimalnya hanya 10 persen.

 

“Kesehatan ini urusan wajib pelayanan dasar yang kami dahulukan, selain pendidikan. Kalau masyarakat sehat, urusan pendidikan dan ekonomi juga ikut jalan,” ujar Ning Ita.

 

Di sisi inovasi, Pemkot punya program *Mojo Indah*. Program ini jadi wadah bagi OPD dan masyarakat untuk melahirkan ide-ide baru pelayanan publik, termasuk di bidang kesehatan.

 

Berkat konsistensi berinovasi, Kota Mojokerto juga sudah 5 tahun berturut-turut menyandang predikat Kota Terinovatif se-Indonesia dari Kemendagri.

 

Ning Ita menyebut penghargaan ini adalah hasil kerja kolektif. Ia mengucapkan terima kasih kepada Dinas Kesehatan, lebih dari 1.000 kader motivator, nakes, swasta, Baznas, akademisi, hingga media.

 

“Capaian hari ini saya persembahkan untuk semua yang sudah berkontribusi menguatkan layanan kesehatan di Kota Mojokerto,” pungkasnya.

 

Dalam ajang yang sama, Kemendagri juga memberi apresiasi untuk kategori lain seperti Implementasi 3 Juta Rumah, Akses Penduduk ke Layanan Kesehatan, serta Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Asri. (Jay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *