151 Siswa di Lumajang Dikumpulkan BNN, Ternyata Ini Alasan Seram di Baliknya

LUMAJANG – Aula Pondok Pesantren Khomsani Nur Klanting, Selasa pagi 11 Agustus 2026, mendadak ramai. Bukan karena pengajian rutin, melainkan karena 151 siswa-siswi dari MTs Diponegoro dan MA Khomsani Nur Klanting duduk rapi, menatap serius ke depan.

 

Di hadapan mereka, dua orang utusan Badan Narkotika Nasional Kabupaten Lumajang, Bapak Wahyudi dan Ibu Devi, berdiri dengan layar presentasi berisi gambar-gambar yang tak biasa mereka lihat di buku pelajaran.

 

Hari itu, BNN datang bukan untuk razia. Mereka datang untuk “membentengi”.

 

“Kami tidak ingin anak-anak kami menjadi korban berikutnya,” ucap Kepala MA Khomsani Nur Klanting saat membuka acara. Kalimat itu menggantung di udara aula.

 

Selama hampir 2 jam, para siswa diajak menyelam ke dunia gelap narkoba. Bukan dengan menakut-nakuti, tapi dengan data dan fakta. Jenis-jenis narkoba dibedah satu per satu. Dari yang terlihat seperti permen, sampai yang disamarkan dalam bentuk vape.

 

Lebih dari itu, Bapak Wahyudi dan Ibu Devi mengupas tuntas dampaknya. Bukan hanya kerusakan fisik seperti liver dan jantung. Tapi juga kerusakan mental, putusnya masa depan, dan hancurnya nama baik keluarga.

 

“Bayangkan, satu kali coba, bisa menghancurkan cita-cita 12 tahun sekolah kalian,” kata Ibu Devi, disambut hening oleh para peserta.

 

Yang membuat suasana berbeda adalah interaksinya. Sesi tanya jawab dibuka lebar. Tangan-tangan siswa terangkat. Ada yang bertanya tentang ciri-ciri teman yang terjerumus. Ada yang ingin tahu bagaimana cara menolak ajakan dengan halus tapi tegas. Diskusi berlangsung dua arah, cair, tapi tetap serius.

 

Bagi pihak madrasah, kegiatan ini bukan agenda seremonial. Ini adalah komitmen. Di tengah derasnya informasi dan pergaulan, madrasah memilih menggandeng BNN sebagai garda terdepan.

 

“Tujuan sosialisasi dengan menggandeng BNN ini adalah untuk membentengi generasi muda dari bahaya narkoba. Semoga anak-anak bisa paham tentang bahaya narkoba dan tidak sampai terjerumus, sehingga dapat menjadi generasi penerus bangsa yang bermanfaat,” ujar Kepala MA Khomsani Nur Klanting.

 

Antusiasme peserta menjadi bukti. Di akhir acara, banyak dari mereka yang maju ke depan, berfoto dengan pemateri BNN, dan berjanji menjadi “duta” anti narkoba di lingkungan masing-masing.

 

Kegiatan ini menandai satu hal: perang melawan narkoba tidak bisa hanya dilakukan aparat. Ia harus dimulai dari ruang kelas, dari masjid, dari pondok pesantren.

 

Sinergi antara dunia pendidikan dan BNN Kabupaten Lumajang ini menjadi bukti bahwa masa depan 151 anak di Klanting hari itu sedang diupayakan untuk tetap cerah. Bebas narkoba, berakhlak, dan siap jadi penerus bangsa.

 

Penulis: Atz

You cannot copy content of this page

Exit mobile version