Lumajang – Setiap Hari Ibu, kita menulis ucapan.
Sebagian memberi bunga.
Sebagian lagi hanya mengirim pesan singkat: “Terima kasih, Bu.”
Namun jarang ada yang benar-benar berhenti sejenak untuk bertanya:
apa saja yang telah keluar dari tubuh seorang ibu, agar kita bisa sampai sejauh ini?
Jawabannya bukan metafora belaka.
Ia nyata, biologis, dan manusiawi.
Air Ketuban: Kehidupan yang Tak Pernah Kita Ingat
Jauh sebelum kita mengenal dunia, seorang ibu telah menyediakan tempat hidup pertama. Air ketuban menjaga kita dari benturan, dingin, dan ketakutan yang bahkan belum kita pahami.
Kita tidak pernah mengingatnya.
Namun tanpa air ketuban, Hari Ibu tak akan pernah ada.
Air Susu Ibu: Cinta yang Mengalir Diam-Diam
Ketika kita lahir, dunia belum ramah. Tubuh kita rapuh, sistem imun belum sempurna. Seorang ibu menjawab itu semua dengan Air Susu Ibu—cairan yang keluar dari tubuhnya sendiri.
ASI mengalir di tengah kurang tidur, nyeri, dan kelelahan.
Ia menjadi makanan pertama, pelindung pertama, dan penguat pertama dalam hidup kita.
Air Mata: Tangis yang Tak Selalu Kita Lihat
Ada air mata yang jatuh saat mendoakan anak. Ada pula yang jatuh diam-diam karena kekhawatiran yang tak sempat diucapkan.
Di Hari Ibu, jarang kita bertanya:
berapa banyak air mata yang pernah jatuh agar kita tetap bisa tersenyum?
Air Keringat: Kerja yang Sering Tak Dianggap
Keringat ibu mengalir di dapur, di sawah, di pasar, di pabrik, di kantor, dan di rumah yang tak pernah benar-benar sepi. Ia bekerja bukan karena kuat, tetapi karena tidak ada pilihan untuk berhenti.
Banyak dari kita tumbuh besar tanpa pernah menghitung keringat itu.
Padahal dari sanalah biaya hidup, sekolah, dan masa depan dirawat.
Air Darah: Harga yang Tak Pernah Diminta Kembali
Darah keluar dari tubuh ibu dalam siklus kehidupan—haid, melahirkan, dan nifas. Ia adalah harga biologis yang harus dibayar agar manusia terus ada.
Tidak ada tuntutan balasan.
Tidak ada syarat terima kasih.
Makna Hari Ibu
Hari Ibu bukan hanya tentang perayaan.
Ia adalah pengingat bahwa kehidupan kita dibangun di atas pengorbanan yang nyata—yang keluar dari tubuh seorang perempuan bernama ibu.
Lima air itu tidak bisa digantikan teknologi, peran sosial, atau siapa pun.
Ia hanya bisa diberikan oleh seorang ibu.
Penutup
Di Hari Ibu ini, mungkin kita tidak bisa membalas semuanya.
Namun setidaknya, kita bisa berhenti sejenak dan mengakui:
Dari tubuh seorang ibu, kehidupan mengalir.
Dan dari pengorbanannya, kita berdiri hari ini.
Selamat Hari Ibu.
Sumber rujukan:
World Health Organization (WHO) – Breastfeeding and Maternal Health
Cleveland Clinic – Amniotic Fluid
American Psychological Association (APA) – Emotion and Crying
Buku Obstetri & Ginekologi Dasar (Prawirohardjo).
Atz










