mahkota555

Lima Air dari Seorang Ibu yang tak tergantikan

Lumajang – Setiap Hari Ibu, kita menulis ucapan.

 

Sebagian memberi bunga.

Sebagian lagi hanya mengirim pesan singkat: “Terima kasih, Bu.”

 

Namun jarang ada yang benar-benar berhenti sejenak untuk bertanya:

apa saja yang telah keluar dari tubuh seorang ibu, agar kita bisa sampai sejauh ini?

Jawabannya bukan metafora belaka.

Ia nyata, biologis, dan manusiawi.

 

Air Ketuban: Kehidupan yang Tak Pernah Kita Ingat

Jauh sebelum kita mengenal dunia, seorang ibu telah menyediakan tempat hidup pertama. Air ketuban menjaga kita dari benturan, dingin, dan ketakutan yang bahkan belum kita pahami.

Kita tidak pernah mengingatnya.

Namun tanpa air ketuban, Hari Ibu tak akan pernah ada.

 

Air Susu Ibu: Cinta yang Mengalir Diam-Diam

Ketika kita lahir, dunia belum ramah. Tubuh kita rapuh, sistem imun belum sempurna. Seorang ibu menjawab itu semua dengan Air Susu Ibu—cairan yang keluar dari tubuhnya sendiri.

ASI mengalir di tengah kurang tidur, nyeri, dan kelelahan.

Ia menjadi makanan pertama, pelindung pertama, dan penguat pertama dalam hidup kita.

 

Air Mata: Tangis yang Tak Selalu Kita Lihat

Ada air mata yang jatuh saat mendoakan anak. Ada pula yang jatuh diam-diam karena kekhawatiran yang tak sempat diucapkan.

Di Hari Ibu, jarang kita bertanya:

berapa banyak air mata yang pernah jatuh agar kita tetap bisa tersenyum?

 

Air Keringat: Kerja yang Sering Tak Dianggap

Keringat ibu mengalir di dapur, di sawah, di pasar, di pabrik, di kantor, dan di rumah yang tak pernah benar-benar sepi. Ia bekerja bukan karena kuat, tetapi karena tidak ada pilihan untuk berhenti.

Banyak dari kita tumbuh besar tanpa pernah menghitung keringat itu.

Padahal dari sanalah biaya hidup, sekolah, dan masa depan dirawat.

 

Air Darah: Harga yang Tak Pernah Diminta Kembali

Darah keluar dari tubuh ibu dalam siklus kehidupan—haid, melahirkan, dan nifas. Ia adalah harga biologis yang harus dibayar agar manusia terus ada.

Tidak ada tuntutan balasan.

Tidak ada syarat terima kasih.

Makna Hari Ibu

Hari Ibu bukan hanya tentang perayaan.

Ia adalah pengingat bahwa kehidupan kita dibangun di atas pengorbanan yang nyata—yang keluar dari tubuh seorang perempuan bernama ibu.

 

Lima air itu tidak bisa digantikan teknologi, peran sosial, atau siapa pun.

Ia hanya bisa diberikan oleh seorang ibu.

Penutup

Di Hari Ibu ini, mungkin kita tidak bisa membalas semuanya.

Namun setidaknya, kita bisa berhenti sejenak dan mengakui:

Dari tubuh seorang ibu, kehidupan mengalir.

Dan dari pengorbanannya, kita berdiri hari ini.

Selamat Hari Ibu.

 

Sumber rujukan:

World Health Organization (WHO) – Breastfeeding and Maternal Health

Cleveland Clinic – Amniotic Fluid

American Psychological Association (APA) – Emotion and Crying

Buku Obstetri & Ginekologi Dasar (Prawirohardjo).

Atz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *