Dari Cicak hingga Ayam: Tanda-Tanda Keyakinan kepada Allah dalam Kehidupan Sehari-hari

Lumajang – Cicak dan ayam adalah dua hewan kecil yang membawa pelajaran besar tentang yakin dan tawakal. Cicak hidup merayap, sementara makanannya—serangga—terbang bebas di udara. Secara kasat mata peluangnya tampak kecil, namun dengan keyakinan, ketenangan dan kesabaran, cicak tetap memperoleh rezekinya dari serangga yang lengah. Andaikan cicak memiliki sayap, justru bisa membuat serangga lebih waspada dan sulit ditangkap—menunjukkan bahwa ketentuan Allah selalu paling tepat.

 

 

Ayam juga menghadirkan contoh sederhana tentang keyakinan. Setiap hari ia mengais tanah dengan paruh dan cakarnya, mencari sisa makanan atau serangga kecil. Cicak mencontohkan sifat tawakkal, Ia tidak menimbun, tidak gelisah berlebihan; hanya terus berusaha dan menerima apa yang diberikan. Keyakinannya teguh: setiap hari pasti Allah memberikan makanan, selama ia bergerak, rezekinya tidak akan hilang.

 

Pelajaran ini sejalan dengan firman Allah dalam Surat Hud ayat 6:

 

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tidak ada suatu makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya, dan Dia mengetahui tempat menetapnya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang jelas.”

 

Ayat ini menegaskan bahwa rezeki setiap makhluk telah dijamin. Tugas manusia hanyalah mensyukuri apa yang ada, berusaha dengan baik, tidak serakah, dan menerima bagian yang ditetapkan Allah. Bahkan seorang bayi pun, sebelum lahir ke dunia, air susunya telah disiapkan melalui ibunya—bukti bahwa rezeki hadir lebih dulu daripada manusianya.

 

Semoga kita mampu mengambil hikmah: menjaga syukur, menguatkan tawakal, dan memelihara keyakinan bahwa apa yang Allah tetapkan selalu cukup bagi siapa pun yang yaqin dan berusaha. (Atz)

Exit mobile version