mahkota555

Peringati Hari Ibu, Kades Brangkal Bacakan Puisi, Beri Hadiah dan Jelaskan Sejarah Hari Ibu

Peringati Hari Ibu, Kades Brangkal Bacakan Puisi, Beri Hadiah dan Jelaskan Sejarah Hari Ibu
Hari Ibu, Puluhan Ibu-ibu di Desa Brangkal mendapatkan hadiah dari Kepala Desa Brangkal
Majalahglobal.com, Mojokerto – Peringati hari ibu, Kepala Desa (Kades) membacakan puisi, memberikan hadiah dan menjelaskan sejarah hari ibu.
Peringati Hari Ibu, Kades Brangkal Bacakan Puisi, Beri Hadiah dan Jelaskan Sejarah Hari Ibu
Kepala Desa Brangkal, Nur Ely Suryani

Kepala Desa (Kades) Brangkal, Nur Ely Suryani mengucapkan selamat hari ibu kepada seluruh ibu di Desa Brangkal.

“Siapapun orangnya dan sehebat apapun orangnya semua karena jasa seorang ibu. Ibu merupakan sosok yang mulia dalam agama Islam. Dalam salah satu hadis, Rasulullah menyebutkan bahwa seseorang harus mencurahkan rasa kasih sayang kepada ibunya 3 kali lipat dari ayahnya,” pesan Nur Ely Suryani, Jumat (22/12/2023) di Pendopo Desa Brangkal, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Peringati Hari Ibu, Kades Brangkal Bacakan Puisi, Beri Hadiah dan Jelaskan Sejarah Hari Ibu
Prosesi pemberian hadiah

Dijelaskannya, ia mempunyai sebuah puisi untuk Ibu Kusnan.

“Tetes darah, keringat dan air matamu cukup sudah menorehkan prasasti-prasasti indah di hidupku. Menggenapi di setiap celah ruang dan waktu. Gumam doa tulus nan sederhanamu untuk menata asa demi anak-anakmu,” ungkapnya.

“Anakmu telah menjadi saksi pada hamparan permadani indah beranda surga. Maafkan kami bila belum sempurna baktiku padamu saat renta usia menjemputmu. Ibu maafkan kami anak-anakmu. Selamat jalan ibu. Yakinlah suatu saat bersama takdir, nanti kita akan tersenyum bersama semerbak harum surga,” tambahnya.

Peringati Hari Ibu, Kades Brangkal Bacakan Puisi, Beri Hadiah dan Jelaskan Sejarah Hari Ibu
Foto bersama

Selain itu, Kepala Desa Brangkal juga menjelaskan mengenai sejarah Hari Ibu di Indonesia uang bermula dari penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia pertama di Yogyakarta pada 22 Desember 1928.

“Peringatan Hari Ibu sebenarnya sudah dilakukan sejak era pemerintahan Presiden Sukarno. Pada saat itu sebagian besar komunitas merupakan bagian dari organisasi pemuda pejuang pergerakan bangsa,” jelasnya.

Masih kata Ely, atas prakarsa para perempuan pejuang pergerakan kemerdekaan pada 22-25 Desember 1928, diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia. Salah satu hasilnya adalah dengan terbentuknya organisasi federasi yang mandiri dengan nama Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPPI).

“Melalui PPPI, terjalin kesatuan semangat juang kaum perempuan untuk bersama kaum laki-laki berjuang meningkatkan harkat dan martabat. Terutama untuk bangsa Indonesia untuk merdeka, dan berjuang bersama-sama kaum perempuan,” terangnya.

Dikatakannya, selain itu juga untuk menjadikan perempuan Indonesia maju. Namun, di tahun 1929 Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPPI) berganti nama menjadi Perikatan Perkoempoelan Istri Indonesia (PPII).

“Kemudian, tahun 1935 diadakan Kongres Perempuan Indonesia II di Jakarta. Di samping berhasil membentuk Badan Kongres Perempuan Indonesia, kongres tersebut juga menetapkan fungsi utama Perempuan Indonesia,” paparnya.

Lebih lanjut dikatakannya, sebagai Ibu Bangsa yang berkewajiban menumbuhkan dan mendidik generasi baru yang lebih menyadari dan lebih tebal kebangsaannya. Setelah itu, pada tahun 1938 Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung menyatakan bahwa tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.

“Selanjutnya, di tahun 1946 Badan ini menjadi Kongres Wanita Indonesia disingkat KOWANI yang terus berkiprah sesuai aspirasi dan tuntutan zaman. Peristiwa besar yang terjadi pada tanggal 22 Desember tersebut, kemudian dijadikan tonggak sejarah bagi Kesatuan Pergerakan Perempuan Indonesia,” tandasnya. (Jay/Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *