Simak : Sederet Fakta Penyebab Tewasnya Mahasiswi FKH Unair Bukan Karena Helium

Simak : Sederet Fakta Penyebab Tewasnya Mahasiswi FKH Unair Bukan Karena Helium
Simak : Sederet Fakta Penyebab Tewasnya Mahasiswi FKH Unair Bukan Karena Helium

Surabaya, majalahglobal.com – Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi kepada siapapun untuk melakukan tindakan serupa. Bagi Anda pembaca yang merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.
Penyebab kematian mahasiswi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unair berinisial CA (21) terungkap. Hasil laboraturium forensik (labfor) menyatakan korban tewas bukan karena menghirup gas helium, melainkan difluoromethane.

1. Hasil Labfor Kematian Mahasiswi FKH Unair
CA dipastikan tewas bukan karena helium melainkan difluoromethane. Penyebab kematian korban itu terungkap dari hasil labfor.

Kabid Labfor Polda Jatim Kombes Sodiq Pratomo menjelaskan difluoromethane merupakan senyawa yang digunakan pada freon AC mobil.

“Bukan gas helium. (Difluoromethane) Lebih dikenal sebagai freon,” kata Kabid Labfor Polda Jatim Kombes Sodiq Pratomo kepada detikJatim, Jumat (8/12/2023).

2. Hasil Pemeriksaan DNA
Dokter forensik juga memeriksa DNA milik CA. Hasilnya, tidak ditemukan profil DNA lain selain milik korban.

Baca Juga :  H+2 Lebaran, Gus Muhdlor Berikan Bantuan 5Kg Beras Untuk 700 Warga Terdampak Banjir

Dalam pemeriksaan hanya ditemukan profil DNA korban yang identik dengan pembanding berupa tulang korban. Artinya, korban dipastikan melakukan aksinya seorang diri.

3. Wujud Difluoromethane
Menurut Sodiq, difluoromethane berwujud gas tidak berwarna, berbau seperti eter, dan tidak beracun di bawah suhu normal. Meski begitu, senyawa ini bisa dengan cepat menyebabkan asphyxia.

4. Efek Samping Difluoromethane
Meski tidak beracun, ia mengungkapkan difluoromethane bisa menyebabkan sejumlah efek kesehatan. Terutama jika berada dalam kepadatan tinggi.

“Itu (difluoromethane) bila dalam kepadatan tinggi bisa menyebabkan disorientasi, pusing, mual, muntah, narcotisme, aritmia, tekanan darah rendah. Dalam kepadatan yang sangat tinggi bisa menyebabkan kematian akibat asphyxia. Saat kontak dengan kulit atau mata menyebabkan frostbit, dll. LC50: 4900 mg/m³ per 4 jam (dihirup tikus),” ujarnya.

Senyawa ini jika dihirup juga akan mengakibatkan kepadatan tinggi. Kondisi terburuknya menyebabkan kematian akibat asphykxia.

“Dengan menghirup terus dapat menyebabkan kepadatan tinggi sehingga menyebabkan kematian,” imbuhnya.

Diketahui, CA ditemukan tewas di dalam mobil dengan kondisi kepala terbungkus plastik di halaman parkir Apartemen Royal Bisnis, Tambak Oso, Sidoarjo, Minggu (5/11/2023).

Baca Juga :  KONI Kabupaten Mojokerto Gelar Turnamen Bola Voli Piala Bupati Mojokerto Cup 2024

Plastik itu dilakban pada bagian leher. Ditemukan juga tabung berisi helium di dalam mobil. Tabung itu mempunyai selang yang ujung satunya dimasukkan ke plastik yang menutupi kepala korban.

Polisi juga menemukan dua surat wasiat yang diduga ditulis korban. Dua surat yang ditulis dalam bahasa Inggris itu berisi curahan hati korban kepada keluarga hingga sahabat.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *