Saudi Arabia, majalah global.com – Saudi dan Uni Emirat Arab menolak proposal untuk memutuskan hubungan dengan Israel.
Arab Saudi yang dianggap sebagai pemimpin de facto dunia muslim bersama tetangganya Uni Emirat Arab menjadi bagian dari negara-negara yang memblokir proposal untuk memutuskan semua hibungan dengan Israel dalam pertemuan KTT Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang digelar di Riyadh, Arab Saudi, dua hari lalu.
Proposal yang diajukan Aljazair itu bertujuan memutus semua hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Tel Aviv serta menolak wilayah udara Arab untuk penerbangan Israel.
Negara-negara muslim yang memproduksi minyak harus “mengancam menggunakan minyak sebagai alat untuk menekan Israel” agar mencapai gencatan senjata di Gaza. Demikian dilaporkan The Times of Israel mengutip Ehud Ya’ari, pengamat isu Arab dari kantor berita Israel Channel 12.
Proposal tersebut ditolak oleh beberapa negara termasuk Arab Saudi, UEA, Yordania, Mesir, Bahdain, Sudan, Maroko, Mauritania, dan Djinouti, tambah laporan Ya’ari.
Dalam komunike resmi yang dikeluarkan setelah KTT Islam-Arab, tidak ada rincian yang dibagikan terkait dengan proposal tersebut.
Namun, dua delegasi yang menghadiri pertemuan puncak tersebut mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa Aljazair telah mengajukan proposal yang meminta pemutusan total hubungan dengan Israel.
Negara-negara Arab lainnya menentang permintaan tersebut karena mereka ingin menjaga saluran komunikasi tetap terbuka dengan Tel Aviv di tengah krisis yang sedang berlangsung, kata mereka.
Arab Saudi sebelumnya dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada 11 November, dan KTT Liga Arab pada 12 November.
Namun, mengingat krisis kemanusiaan di Gaza, Saudi memutuskan menjadi tuan rumah pertemuan puncak gabungan di Riyadh pada 11 November. (*)
