“Misteri Ilahi Di Rengasdengklok”

Penulis : Yongki

Suatu cobaan berat di masa-masa yang sulit mengguyur Indonesia. kala itu kita masih menjadi bangsa inlander. Pusat kejayaan para raja – raja dipadamkan oleh penjajah yang tersisa hanyalah gelap dan sunyi. Jika ada kebisingan pasti itu suara tembakan meriam yang menghantam benteng pertahanan para pahlawan. Ancaman penangkapan selalu membayangi mereka. Jika ada kebisingan pasti itu suara jeritan Marhaen yang sedang kelaparan. Ngeri sekali kawan seperti Halilintar memercikkan api di hamparan langit hitam. Nusantara yang biasanya begitu hidup, tiba-tiba diselimuti kesunyian. Ucapan ini bukanlah karangan.

Kematian tokoh-tokoh bangsa paling legendaris itu telah mengakibatkan kerusuhan yang mengerikan. Nasib marhaen yang miskin diledekin oleh penjajah yang kaya. Kita bakar saja rumah mereka “sahut salah seorang dari mereka sambil tertawa” dan tawa si-penjajah itu menerkam lorong-lorong penderitaan. Marhaen yang miskin dan melarat itu telah menjadi bukti dari kebiadaban mereka. Kalau kita tidak membalas mereka akan melakukannya lagi di kemudian hari.

Kita harus berubah nasib, 350 tahun yang lalu mereka menganggap kita budak, sekarang pikiran itu harus diubah. Kita tidak boleh diam saja, Kebiadaban mereka sudah seharusnya dijawab dengan Revolusi. Ya kita harus mencapai revolusi kemerdekaan. Saya setuju!!! “ucapan yang lantang ini datang dari seorang pemuda”. Bagus kita mulai dari mana? “Tanya pemuda yang lainya”. Maka tibalah kita pada Rengasdengklok. Cerita malam itu memanglah menjadi cerita penting. Suatu ilham datang kepada para pemuda, mereka yang pada akhirnya sanggup memecahkan misteri Ilahi.

Baca Juga :  Filosofi Ketupat Lebaran di Indonesia Khususnya di Pulau Jawa

Kerinduan untuk merdeka yang membakar semangat para pemuda itu. Pukul 3 menjelang subuh, terdengar suara dari balik semak-semak dan serombongan pemuda berpakaian seragam masuk secara diam-diam ke rumah sang Proklamator Bung Karno. Waktunya sudah tiba. Mereka sangat menaruh harapan semoga saja kegelisahan itu cepat berlalu dan kemerdekaan bukanlah hadiah dari Jepang. Setiap kali pula mereka menggelengkan kepala dengan sedih, tapi sinar mata mereka ber-api – api memancarkan kemarahan dan ketidaksabaran sekaligus.
Peristiwa malam itu berlangsung begitu cepat, tapi peristiwa itu pula yang menjadi cikal bakal kemerdekaan. Laksamana Maeda adalah orang yang memiliki wawasan luas, seorang idealis yang taat beragama. Dia menaruh simpati pada perjuangan para pejuang Indonesia. Terutama di saat – saat yang menentukan ini. Setelah puluhan tahun berdoa, berencana, dan berharap, ternyata peristiwa Mahabesar itu berlangsung jauh dari bayangan kita. Pernyataan singkat yang tidak menggetarkan perasaan, dengan mana kami menuntut kembali tanah tumpah darah kami. Isi pernyataan itu hanyalah :

Baca Juga :  Filosofi Ketupat Lebaran di Indonesia Khususnya di Pulau Jawa

“Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya
Jakarta 17 – 08 – 1945
Atas nama bangsa Indonesia
Sukarno Hatta”

Babak terakhir dari perjuangan besar itu, untuk mana para pejuang telah mempersembahkan jiwa dan raga, sekarang telah selesai.
Merdeka!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *