KEDIRI – Sejak kemarin malam, ribuan pengunjung keluar masuk areal petilasan Sri Aji Jayabaya yang berlokasi di Desa Menang, Kecamatan Pagu. Areal ini terbuka untuk umum, dan selalu ramai pengunjung, khususnya di bulan Suro.
Menurut laporan Babinsa Menang, Sertu Andik, saat hari biasa pengunjung hanya sekitar puluhan atau ratusan, namun ketika bulan Suro terjadi peningkatan jumlah pengunjung. Pengunjung tidak hanya berasal dari Kediri saja, tetapi banyak yang dari luar Kediri, bahkan luar Jawa Timur. minggu (1/9/2019)
Dijelaskan Mbah Gino, juru kunci petilasan Sri Aji Jayabaya, ritual kirab dilakukan pada satu suro, namun sebelumnya atau kemarin malam, berbagai ritual sudah dilakukan. Sambil membawa pusaka tombak Kyai Bima, dan paying Songsong Buwono, iring-iringan bergerak dari balai Desa Menang menuju pamoksan Sri Aji Jayabaya, dan berakhir di sendang Tirta Kamandanu.
Saat tiba di areal pamoksan Sri Aji Jayabaya, upacara ritual dilakukan, dan upacara itu tidak lepas dari hubungan manusia dengan sesama manusia, manusia dengan alam disekitarnya, manusia dengan Yang Kuasa. Hubungan manusia dengan alam itu sendiri tidak bisa dipisahkan dari segala sesuatu yang tidak Nampak tetapi ada atau bisa disebut gaib atau astral.
Tombak Kyai Bima, dikatakan Mbah Gino, adalah simbol dari kebesaran Kerajaan Khadiri, dan kirab ini sudah dilakukan secara rutin tiap tahun, sejak tahun 1974. Tujuan utama dari kirab ini tidak lain mempertahankan sekaligus memelihara tradisi atau budaya leluhur yang adi luhung.
Lokasi pamoksan ini, diyakini tempat moksanya Sri Aji Jayabaya, sekaligus terlepasnya antara raga dan rohnya, yang menandai lepasnya sifat-sifat keduniawian menuju yang tidak terpikirkan, dan yang tidak tergambarkan.
Jarak antara pamoksan dengan sendang Tirta Kamandanu hanya sekitar 1 kilometer, dan kedua lokasi ini sangat luas. Namun, lantaran iring-iringan kirab membutuhkan waktu lebih dari satu jam perjalanan.
Kirab ini berakhir di sendang Tirta Kamandanu, dan iring-iringan pembawa pusaka masuk melewati Gapura Paduraksa. Sedangkan gapura utama ada disisi lain, disebut Kori Agung.
Di sudut sendang, terdapat arca Brahma bertangan empat dan berukuran besar. Keempat tangannya memegang teratai, kitab, gada dan genitri. Sedangkan arca Siwa berada di lokasi tempat pemandian, dan arca tersebut berbelakangan dengan arca Ganesha.
Berdasarkan pengamatan di lokasi, banyak pohon berukuran besar tumbuh dikedua lokasi tersebut. Ketika upacara ritual dilakukan, banyak pengunjung yang berteduh dibawah pohon.
Prosesi upacara berlangsung sakral, tidak sembarang orang yang mengikuti jalannya tata upacara ini. dari pembawa bokor bunga, dan caos dhahar, hingga berakhirnya seluruh upacara. (Jayak)
