BANYUWANGI – majalahglobal.com : Kali Ini Giliran Kotamadya Pasuruan, dan Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mendapat giliran datang ke Banyuwangi pada (3/8). Kedatangan mereka ini, diterima Asisten Administrasi, Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) di Launge Pelayanan Publik, Pemkab di dampingi Kabag Organisasi, Pemkab Banyuwangi. Mereka datang Ke Banyuwangi Untuk Belajar Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah(SAKIP) .
Pada Hakekatnya mereka semua sama-sama ingin belajar aplikasi SAKIP(Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah), tunjangan kinerja PNS dan tunjangan mobilitas pejabat PNS. Asistem Perekonomian dan Pembangunan, Nagekeo, NTT, Bernard Fansiena, mengatakan, “SAKIP Banyuwangi sangat bagus, bahkan satu-satunya kabupaten di Indonesia yang mendapat penilaian SAKIP terbaik dengan predikat A oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB).”
Bernad juga menambahkan, “Ini yang menginspirasi kami datang ke Banyuwangi. Kami benar-benar ingin tahu Banyuwangi kok dengan mudah mendapatkan predikat A plus atas SAKIP-nya. Sementara di kami masih mendapatkan nilai C plus. Nah , itulah yang membuat kami memutuskan untuk datang kemari.”
Asisten Administrasi Pembangunan dan Kesra, Agus Siswanto mengatakan, “Ada beberapa langkah kerja yang dilaksanakan Banyuwangi dalam rangka peningkatan implementasi SAKIP. Antara lain, komitmen pimpinan daerah dan pimpinan SKPD. Penguatan peran Bappeda dalam perencanaan, Inspektorat dalam evaluasi SAKIP dan Bagian Organisasi dalam pelaporan LAKIP.”
Agus pun menambahkan, “Kinerja SAKIP jelas dan terukur, serta program-program diefisienkan sesuai manfaat ke masyarakat. Salah satu programnya, penguatan administrasi keuangan desa, Pemkab Banyuwangi telah merancang manajemen keuangan desa yang bernama e-Village Budgeting (e-VB) dan e-Monitoring System (e-MS) yakni sebuah sistem pengawasan elektronik. Tim SAKIP Pemkab Banyuwangi selalu melakukan evaluasi terhadap kinerja SKPD. Bahkan Tim SAKIP intens berkonsultasi kepada Pemprov dan Kementerian PAN-RB.”
Kemudian Agus memaparkan, “Terkait tunjangan mobilitas pejabat, sebagai komitmen daerah untuk memberikan ganti mobil pejabat tidak boleh di bawa pulang dan merupakan aset daerah. Sementara, e-kinerja merupakan satu dari serangkaian inovasi pembenahan sistem kepegawaian di Banyuwangi dengan memaksimalkan IT. “Tunjangan e-kinerja adalah penghitungan kinerja ASN berbasis teknologi informasi. Sistem ini bisa menjamin output kinerja setiap ASN. Dengan sistem ini, tunjangan ASN diberikan mengacu pada kinerjanya, bukan aspek-aspek nonteknis. Siapa yang berprestasi, maka dia yang akan mendapatkan reward, demikian pula sebaliknya.”
Dan sampai saat ini Kota Banyuwangi yang berjuluk The Sunrise of Java ini, nyaris tiap hari, menjadi daerah tujuan kunjungan kerja dari berbagai kalangan pemerintahan. (Andi)
