{"id":93356,"date":"2024-03-11T19:28:39","date_gmt":"2024-03-11T12:28:39","guid":{"rendered":"https:\/\/majalahglobal.com\/?p=93356"},"modified":"2024-03-11T19:28:39","modified_gmt":"2024-03-11T12:28:39","slug":"mengenang-ramli-abdul-wahid-anak-desa-tak-bertuan-jadi-profesor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/majalahglobal.com\/2024\/03\/11\/mengenang-ramli-abdul-wahid-anak-desa-tak-bertuan-jadi-profesor\/","title":{"rendered":"Mengenang Ramli Abdul Wahid: Anak Desa Tak Bertuan Jadi Profesor"},"content":{"rendered":"<p>Mengenang Ramli Abdul Wahid: Anak Desa Tak Bertuan Jadi Profesor<\/p>\n<p>Oleh: Abdul Aziz<br \/>\nPenasehat PW. Persatuan Islam (PERSIS) Sumut<\/p>\n<p>Sumatera Utara menyimpan banyak khazanah berharga dari Beragam aspek, mulai dari aspek budaya dan adat istiadat sampai aspek religi.<br \/>\nDalam aspek religi, Islam telah lama menjadi agama masyarakat Sumatera Utara sebelum kehadiran agama Kristen.<br \/>\nIslam disebut-sebut masuk dari Timur Tengah dan India melalui jalur Barus sebelum menyebar ke Aceh dan Jawa.<br \/>\nLambat Laun, Islam menggantikan kepercayaan masyarakat setempat yang masih bercorak Animisme dan Dinamisme.<br \/>\nOleh sebab itu, agama Islam menjadi agama tertua di Sumatera Utara,<br \/>\ndisebarkan dan dikembangkan oleh ulama-ulama kharismatik Sumatera Utara yang mendapat pendidikan keagamaan di penjuru dunia.<\/p>\n<figure id=\"attachment_93357\" aria-describedby=\"caption-attachment-93357\" style=\"width: 1200px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-93357 size-full\" src=\"https:\/\/majalahglobal.com\/media\/IMG-20240311-WA0000-1.jpg\" alt=\"Mengenang Ramli Abdul Wahid: Anak Desa Tak Bertuan Jadi Profesor\" width=\"1200\" height=\"1600\" srcset=\"https:\/\/majalahglobal.com\/media\/IMG-20240311-WA0000-1.jpg 1200w, https:\/\/majalahglobal.com\/media\/IMG-20240311-WA0000-1-768x1024.jpg 768w, https:\/\/majalahglobal.com\/media\/IMG-20240311-WA0000-1-1152x1536.jpg 1152w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-93357\" class=\"wp-caption-text\">Mengenang Ramli Abdul Wahid: Anak Desa Tak Bertuan Jadi Profesor<\/figcaption><\/figure>\n<p>Kekayaan Islam Sumatera Utara dapat dilihat dari ratusan ulama yang berasal dari beragam suku.<br \/>\nKebanyakan mereka mendapat sentuhan intelektual langsung dari ulama-ulama Timur Tengah sebagai konsekuensi dari perjalanan mereka dari Tanah Deli menuntut ilmu menuju Makkah, Madinah, India, Pakistan, Baghdad, Yaman, Sudan dan Libya.<\/p>\n<p>Beberapa ulama tersebut mendirikan pesantren dan madrasah, sebagian lagi mempelopori pendirian universitas seperti Universitas Islam Sumatera Utara dan Universitas Al Washliyah.<\/p>\n<p>Mereka mewariskan khazanah ilmiah yang kini menjadi manuskrip &#8211; manuskrip keislaman yang monumental.<\/p>\n<p>Ulama-ulama Sumatera Utara kontemporer bahkan merupakan merupakan murid-murid terbaik dari ulama-ulama Sumatera Utara tempo dulu seperti, Ustadz Adnan Lubis, Muhammad Arsyad Thalib Lubis, Nukman Sulaiman, Bahrum Djamil, dan tentu saja Ramli Abdul Wahab yang berguru dengan banyak ulama termasuk dengan Tok H.M.Arsyad Haitami tamatan Makkah.<\/p>\n<p>ANAK DESA TAK BERTUAN<\/p>\n<p>Ramli Abdul Wahid lahir di desa Sungai Lendir pada tanggal 12 Desember 1954, Sungai Lendir bukanlah desa yang tergambar di benak orang banyak, tapi desa yang banyak dipahami sebagai kota kecil atau paling tidak desa urban.<br \/>\nSebab di desa ini pada waktu itu, terdapat kedai-kedai kopi, tukang jahit, toko kelontong, toko pakaian, tukang sepeda dan tauke (tokeh-tokeh) kelapa.<br \/>\nTokeh kelapa artinya tokeh-tokeh pembeli kopra untuk dikeringkan, setelah kering di jemur, dijual ke pabrik minyak di Tanjung Balai.<br \/>\nSedikitnya, di Sungai Lendir terdapat lima okeh kelapa, yaituTokeh Ipen, Tokeh Jafar, Tokeh Sidik, Tokeh Zainuddin, dan Tokeh Soleh.<br \/>\nOrang-orang yang tergolong banyak kebun kelapa dipastikan hidupnya makmur.<br \/>\nDitandai membangun rumah atap seng, memiliki radio dan sepeda pasneling.<\/p>\n<p>Mengaji Kepada Tok H.M Arsyad Haitami.<\/p>\n<p>Waktu sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Al Washliyah di Manggo, Sei Kepayang Kedai Pendek, Ramli kecil mengaji kepada Tok H.M. Arsyad Haitami tamatan Makkah, beliau sudah sepuh namun daya ingatnya masih kuat.<\/p>\n<p>Awalnya kami belajar tauhid, membaca kitab yang kami baca di kelas empat Ibtidaiyah Madrasah Al Washliyah Manggo, tapi hanya berjalan satu bulan.<br \/>\nKetika saya tinggal sendiri, Tok H.M. Arsyad menghadapkan pertanyaan kepada saya .kenang Ramli.<br \/>\n&#8220;Kau nak tinggal satu orang, di hadapan mu sekarang ada tiga hal.<br \/>\nPertama adalah ilmu, kedua adalah perempuan, ketiga adalah uang.<br \/>\nSekarang kau pilih satu, tak boleh tiga, dan tak boleh dua.<br \/>\nKalau pilih dua saja, tidak akan berhasil.<br \/>\nMesti satu saja. Kalau kau pilih ilmu, Atok siap mengajarimu kapan saja,&#8221; demikian tegasnya.<\/p>\n<p>Lama saya terdiam. Memang di hati saya adalah ilmu. Tapi, saya juga sudah mulai suka melihat perempuan dan keinginan sedikit cari uang. Melihat saya kebingungan, dia pun menegaskan,&#8221; Kalau mau uang, mulai saja berdagang atau berkebun dari sekarang.<br \/>\nKalau mau perempuan, mengaji terganggu. Kalau mau ilmu, Atok siap mengajar mu.&#8221;Kalimat, mau ilmu&#8221; sebenarnya sudah di ujung lidah.<br \/>\nTapi saya khawatir kalau kemudian, saya tidak mampu bertahan.<br \/>\nAkhirnya, saya ucapkan, &#8220;Tok saya mau ilmu.&#8221;<\/p>\n<p>Begitu habis ucapan saya, langsung Dia mengangkat tangan berdoa. Sungguh panjang doanya isinya agar saya sehat, panjang umur, dibukakan pikiran saya menerima ilmu, dan menjadi ulama di masa mendatang.<br \/>\nPelajaran yang dibaca adalah kitab tauhid, Kifayah al-&#8216;Awwam, kita Syarah Matn al-Ajrumiyah, Mukhtasar Jiddan, dan terjemah Surat Yasin. Semua silabus ini tamat.Tok H.M. Arsyad Haitami benar-benar ikhlas mengajar. H. Ramli Abdul Wahid, dalam buku Anak Desa Tak Bertuan Jadi Profesor(CV. Manhaji 2014).<\/p>\n<p>Alhamdulillah, doa Tok H.M. Arsyad Haitami sudah dikabulkan Allah.<br \/>\nUsai dari Ibtidaiyah, melanjutkan ke Tsanawiyah Sei Tulang Raso, serta Aliyah Perguruan Gubahan Islam di Tanjung Balai.<br \/>\nPada tahun 1975 melanjutkan ke IAIN Sumut, namun sebelum ujian semester 2 berangkat ke Mesir.<br \/>\nPada tahun 1976 masuk di Fakultas Dakwah, Jam&#8217;iyah ad-Dakwah Al-Islamiyah, Tripoli, Libya.<br \/>\nDari Libya ke Sidney, dari Sydney ke Fiji Island, untuk mengajar dan menjadi guru, dan Head of Departement of Arabic and Islamic Studies di Ba Muslim College, Fiji Islands, South Pasific.<br \/>\nPulang ke Indonesia mengajar di IAIN Sumatera Utara dan berbagai Perguruan Tinggi.<br \/>\nTahun 1989 melanjutkan studi S2, dan S3 di Pasca Sarjana IAIN (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat.<br \/>\nSelesai S3 tahun 1997.<\/p>\n<p>Gelisah Melihat Gelar Akademik Palsu.<\/p>\n<p>Masyarakat Indonesia sekarang, terutama kalangan orang kaya dan pejabat sedang dilanda demam gelar akademik.<br \/>\nBanyak muncul nama yang disertai dengan gelar MA.,MM.,MBA.,dan DR. secara&#8221;mendadak&#8221;. Sebelumnya yang empunya nama tidak dikenal sebagai orang yang menekuni pendidikan tinggi, tiba-tiba muncul namanya dengan berbagai macam gelar akademik bergengsi.<br \/>\nPadahal, pengalaman mengikuti pendidikan S2 saja bukanlah pekerjaan yang mudah. Bukan saja kebutuhan finansial yang relatif besar, juga membutuhkan kemampuan berpikir, ketersediaan waktu, dan suasana yang kondusif.<br \/>\nDoktor Honoris Causa pun tak setiap orang orang berhak menerimanya.<br \/>\nDoktor (HC) hanya diberikan kepada orang yang telah memberikan kontribusi yang signifikan di bidang pemikiran atau seni seperti Mahmud Syaltut, T.M. Hasbi Ashar Shiddieqy, Soekarno, M. Natsir, Abdurahman Wahid, Amien Rais, KH Zainuddin MZ dan para komponis besar.<\/p>\n<p>Prof.Dr. Drs. H. Ramli Abdul Wahid, LC, MA:<br \/>\nDimata Rekan-rekan.<\/p>\n<p>Ramli Abdul Wahid adalah sosok ulama dan pendidik berkarakter.<br \/>\nSosok akademisi sekaligus pendidik. Sebagai akademisi beliau telah banyak berkontribusi dalam forum ilmiah baik sebagai pemakalah dan narasumber pada level nasional dan internasional.<br \/>\nPuluhan karya artikel beliau dimuat dalam jurnal nasional maupun internasional diantaranya History of Man&#8217;s Search for God dimuat dalam Muslim Voice Vol.6 No.12 Fiji, Metode mencari Hadis: Teori dan Penerapan dimuat dalam Jurnal Ushuluddin IAIN Sumatera Utara No. 10 tahun 1994.<br \/>\nSebagai pendidik, sosok Prof. Ramli tidak diragukan lagi, karena sejak tahun 1984 beliau telah menjadi dosen di Universitas Al Washliyah.<\/p>\n<p>Sebagai Wakil Ketua Dewan Fatwa Pengurus Besar Al Washliyah, penguasaan hadis dari berbagai aspek dan dimensi, menjadikan Prof. Ramli sebagai ulama yang sangat dinanti, terutama tentang fatwa-fatwa solutif, dalam menghadapi persoalan-persoalan kontemporer, persoalan aliran-aliran sesat yang menjadi keahlian beliau terus menjadi berita aktual dan tengah menghantui atmosfir tauhid bangsa Indonesia.<\/p>\n<p>KHATIMAH<\/p>\n<p>Perkenalan kami dengan H. Ramli Abdul Wahid beliau secara berkala mengisi pengajian di Masjid Nurul Ikhwan, Medan Johor apabila usai pengajian kami saling menyapa, apalagi bila beliau menerbitkan tulisan dalam bentuk buku, kami diskusi ringan.<br \/>\nPendidik handal itu telah di panggil kehadirat Allah SWT pada tanggal 02 Mei 2022.<br \/>\nSelamat jalan sang maestro bidang hadis, pendidik handal, guru kita tunai sudah baktimu untuk negeri.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mengenang Ramli Abdul Wahid: Anak Desa Tak Bertuan Jadi Profesor Oleh: Abdul Aziz Penasehat PW&#8230;.<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":93358,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11333,12861],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-93356","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-provinsi-sumatra-utara","category-berita-sumatra-utara"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/93356","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=93356"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/93356\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":93359,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/93356\/revisions\/93359"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/media\/93358"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=93356"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=93356"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=93356"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/newstopic?post=93356"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}