{"id":89601,"date":"2024-02-01T22:29:40","date_gmt":"2024-02-01T15:29:40","guid":{"rendered":"https:\/\/majalahglobal.com\/?p=89601"},"modified":"2024-02-01T22:29:40","modified_gmt":"2024-02-01T15:29:40","slug":"analisis-semantik-leksikal-kosakata-pada-tenun-ikat-tradisonal-desa-wairkoja-kabupaten-sikka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/majalahglobal.com\/2024\/02\/01\/analisis-semantik-leksikal-kosakata-pada-tenun-ikat-tradisonal-desa-wairkoja-kabupaten-sikka\/","title":{"rendered":"Analisis Semantik Leksikal Kosakata pada Tenun Ikat Tradisonal Desa Wairkoja Kabupaten Sikka"},"content":{"rendered":"<h3>Oleh Trisnawati Bura, M.Pd\u00a0 dan Sitti Amina, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Maumere. Email : <a href=\"mailto:trisnabura@gmail.com\">trisnabura@gmail.com<\/a>, <a href=\"mailto:sittiamina993@gmail.com\">sittiamina993@gmail.com<\/a><\/h3>\n<p>Pendahuluan<\/p>\n<p>Kain tenun ikat tradisional desa Wairkoja adalah salah satu kekayaan warisan budaya daerah kabupaten Sikka tepatnya di desa Wairkoja yang mencerminkan adat istiadat, kebudayaan, dan kebiasaan budaya dalam kehidupan masyarakat, khususnya kaum wanita\u00a0 yg pekerjaan nya suka menenun di lakukan secara manual dengan memanfaatkan alat tenun\u00a0 bukan mesin (ATM).<\/p>\n<p>Atau dengan alat tenun\u00a0 gedongan yang lebih mendasar perkembangan lain tenun ikat sebagai wisata budaya, yg di kenakan setiap kali ada peristiwa keluarga, budaya, sosial, dan keagamaan masyarakat menggunakan kai\u00a0 tersebut sebagai identitas dari suatu daerah.<\/p>\n<p>Abstract<\/p>\n<p>This research aims to describe lexical meaning, components of meaning, types of meaning, and semantic roles that can be seen from tools, motifs, materials and results. Lexical semantics investigates the meaning of the language&#8217;s lexemes. Therefore, the meaning contained in such a lexeme is called lexical meaning. Lexeme is a term commonly used in semantic studies which refers to meaningful language units.<\/p>\n<p>This research uses a descriptive method. Descriptive research aims to present a complete picture of a social setting or is intended for exploration and clarification of a phenomenon or social reality, by describing a number of variables relating to the problem and unit under studybetween the phenomena under test.In this research, the researcher has a clear definition of the research subject and will use who questions to dig up the information needed.<\/p>\n<p>The data for this research are words that contain vocabulary in traditional ikat weaving used by the Maumere community, precisely in WAIR KOJA Village, Kewapante District, Sikka Regency.<\/p>\n<p>Abstrak<\/p>\n<p>Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan\u00a0 makna\u00a0\u00a0 leksikal,\u00a0\u00a0 komponen makna,\u00a0 jenis\u00a0 makna,\u00a0 serta\u00a0 peran\u00a0 semantis yang\u00a0 dapat\u00a0 dilihat\u00a0 dari\u00a0 alat,\u00a0 motif,\u00a0 bahan, dan hasil.<\/p>\n<p>Semantik leksikal ini diselidiki makna yang ada pada leksem-leksem bahasa tersebut. Oleh karena itu, makna yang terdapat dalam leksem demikian disebut dengan makna leksikal. Leksem merupakan istilah yang lazim digunakan dalam studi semantik yang menyebutkan akan satuan bahasa bermakna.<\/p>\n<p>Penelitian\u00a0 ini\u00a0 menggunakan metode\u00a0 Deskriptif.\u00a0 Penelitian Deskriptif tujuannya untuk menyajikan gambaran lengkap mengenai setting sosial atau\u00a0 di maksud kan\u00a0 untuk eksplorasi dan klarifikasi mengenai suatu\u00a0 fenomena\u00a0 atau kenyataan sosial,dengan jalan mendeskripsikan sejumlah\u00a0 variabel yang berkenaan\u00a0 dengan masalah\u00a0 dan unit\u00a0 yang di teliti\u00a0 antara fenomena yang di uji.<\/p>\n<p>Dalam penelitian ini, peneliti\u00a0 telah memiliki definisi\u00a0 jelas tentang subjek penelitian dan akan menggunakan pertanyaan who dalam\u00a0 menggali informasi yang di butuhkan.<\/p>\n<p>Data penelitian\u00a0 ini adalah kata-kata yang mengandung kosakata pada tenun ikat tradisional yang digunakan oleh masyarakat Maumere tepatnya di Desa WAIR KOJA Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka.<\/p>\n<p>Metode penelitian<\/p>\n<p>Sumber\u00a0 data\u00a0 dalam\u00a0 penelitian\u00a0 ini\u00a0 adalah menggunakan Teknik wawancara\u00a0 dengan salah satu warga masyarakat Desa WAIR KOJA Yang bernama Anastasia tince atau biasa di panggil mama ana.kebetulan beliau adalah salah satu warga\u00a0 desa wairkoja, dan melalui bantuan mama ana dapat memberikan keterangan mengenai kosakata yg berkaitan dengan makna leksikal dalam bahasa daerah desa wairkoja yg ada di wilayah Kabupaten Sikka .Berdasarkan\u00a0 hasil\u00a0 analisis\u00a0 data\u00a0 penelitian ditemukan \u00a0bahwa\u00a0\u00a0 ada\u00a0 tiga\u00a0 makna\u00a0 yang\u00a0 terdapat\u00a0 dalam\u00a0 penelitian\u00a0 ini\u00a0 yaitu makna\u00a0\u00a0 leksikal,\u00a0\u00a0 makna\u00a0\u00a0 gramatikal,\u00a0\u00a0 dan\u00a0\u00a0 makna\u00a0\u00a0 kolokatif.<\/p>\n<p>Hasil\u00a0\u00a0 analisis\u00a0\u00a0 dari submasalah\u00a0 yang\u00a0 ada\u00a0 dalam\u00a0 penelitian\u00a0 ini\u00a0 yaitu\u00a0 pendeskripsian\u00a0 makna\u00a0 leksikal, komponen\u00a0\u00a0 makna,\u00a0 jenis\u00a0\u00a0 makna,\u00a0 dan\u00a0\u00a0 peran\u00a0 semantis\u00a0\u00a0 kosakata\u00a0 pada\u00a0\u00a0 tenun\u00a0\u00a0 ikat tradisional Desa Wairkoja yaitu : terdapat 18 kosakata\u00a0 pada\u00a0 tenun\u00a0 ikat\u00a0 tradisional\u00a0 Desa Wair Koja Kabupaten Sikka berupa motif, 12 kosakata berupa\u00a0 alat, 8\u00a0 kosakata \u00a0pada\u00a0 tenun\u00a0 ikat\u00a0 tradisional Desa Wair Koja wilayah Kabupaten Sikka berupa bahan, ini menjadi sasaran dasar peneliti karena memiliki ketertertarikan\u00a0 akan\u00a0 nilai\u00a0 budaya\u00a0 beserta\u00a0 khazanah\u00a0 makna\u00a0 dari\u00a0 setiap daerah\u00a0 yang\u00a0 ada\u00a0 belum\u00a0 tertanam\u00a0 betul\u00a0 dalam\u00a0 hati\u00a0 masing-masing\u00a0 individu.\u00a0 Hal ini\u00a0 dikarenakan\u00a0 setiap\u00a0 individu\u00a0 tidak\u00a0 menganggap\u00a0 nilai\u00a0 budaya\u00a0 yang sarat\u00a0 akan\u00a0 makna bukanlah\u00a0 sebuah\u00a0 identitas\u00a0 yang\u00a0 perlu\u00a0 diakui dan\u00a0 menganggap memahami\u00a0 budaya\u00a0 apalagi\u00a0 kearifan\u00a0 lokalnya\u00a0 bukan\u00a0 penunjang\u00a0 bahwa\u00a0 itu\u00a0 termasuk pendogkrak\u00a0 popularitas. Padahal\u00a0 kita\u00a0 sama-sama tahu bahwa\u00a0 budaya\u00a0 menunjukan bangsa,\u00a0 batik\u00a0 kita\u00a0 dikenal\u00a0 di\u00a0 hampir\u00a0 seluruh\u00a0 dunia.<\/p>\n<p>Adat\u00a0 istiadat\u00a0 kita\u00a0 mulai\u00a0 diminati oleh\u00a0 bangsa\u00a0 lain,\u00a0 akan\u00a0 tetapi\u00a0 tidak\u00a0 bagi\u00a0 kita,\u00a0 kita\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 budaya\u00a0 tersebut. Tidak hanya masyarakat yang kita hitung secara nasional, tetapi masyarakat yang kita hitung secara lokal saja, dan hampir mengganggap budaya lokal yang mereka miliki tidak penting\u00a0 untuk\u00a0 dipahami, \u00a0cukup\u00a0 diketahui\u00a0 saja\u00a0 sepintas .\u00a0 Memahami\u00a0 budaya daerah haruslah\u00a0 dari\u00a0 perangkat\u00a0 terkecil\u00a0 yang\u00a0 ada\u00a0 pada\u00a0 budaya\u00a0 tersebut,\u00a0 mengenal\u00a0 kerajinan tenun yang\u00a0 dimiliki\u00a0 tiap-tiap\u00a0 daerah\u00a0 termasuk\u00a0 salah\u00a0 satu daerah desa wairkoja pemahaman\u00a0 tentang\u00a0 budaya masing masing daerah asal usul tanah kelahiran nya.<\/p>\n<p>Di setiap kerajianan sarat\u00a0 akan\u00a0 makna, misalnya\u00a0\u00a0 dari\u00a0\u00a0 sebuah kerajianan tenun, terkandung banyak sekali makna, baik dari motifnya atau alat-alat\u00a0 yang digunakannya. Hal\u00a0 inilah\u00a0 yang\u00a0 membuat\u00a0 peneliti\u00a0 tertarik\u00a0 untuk\u00a0 meneliti\u00a0 mengenai analisis\u00a0 semantik leksikal kosakata pada tenun ikat tradisional Desa wairkoja di wilayah Kabupaten Sikka Kedua, sepengetahuan\u00a0 penulis\u00a0 penelitian\u00a0 mengenai\u00a0 analisis\u00a0 semantik\u00a0 leksikal\u00a0 kosakata \u00a0pada tenun ikat tradisional\u00a0 Maumere\u00a0 Desa wairkoja belum pernah dilakukan sebelumnya. Alasan peneliti memilih kosakata sebagai objek yang dianalisis karena kosakata merupakan\u00a0 kumpulan\u00a0 kata\u00a0 atau\u00a0 khazanah\u00a0 kata\u00a0 yang\u00a0 disebut\u00a0 juga\u00a0 sebagai leksikon yang merupakan\u00a0 perbendaharaan\u00a0 kata. Memahami\u00a0 kosakata melalui\u00a0 media\u00a0 kerajinan di suatu daerah asal yg di identik dengan Tenun tradisional yg di miliki masing masing daerah setempat.<\/p>\n<p>Salah satunya yaitu daerah Desa Wair Koja wilayah Kabupaten Sikka berupa tenun ikat tradisional yang dimiliki oleh\u00a0 Desa wairkoja merupakan wadah pemerkaya\u00a0 dalam\u00a0 perbendaharaan\u00a0 kata.\u00a0 Hal\u00a0 ini\u00a0 juga\u00a0 mampu\u00a0 menarik\u00a0 perhatian khalayak mengenai budaya yang kita miliki. Bahwa dalam kerajinan tenun seperti ini, banyak\u00a0 sekali \u00a0makna\u00a0 yang\u00a0 terkadung\u00a0 dan\u00a0 setiap\u00a0 torehan\u00a0 motif\u00a0 yang\u00a0 dibuat\u00a0 pun kebanyakan\u00a0\u00a0 menggambarkan kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p>Arti Simbolik<\/p>\n<p>Motif kain tenun yang mempunyai arti simbolik antara lain utang moko yang digunakan untuk upacara perladangan, utang breke sebagai upacara tolak bala, utang jarang atabian sebagai upacara kematian.<\/p>\n<p>Lalu utang merak sebagai pakaian pengantin perempuan, utang mitang merupakan motif untuk orang tua, utang wenda merupakan motif hidup bahagia, utang rempe sikk bersimbol hidup rukun.<\/p>\n<p>Ada juga utang mawarani bersimbol bintang kejora dan utang sesa weor digunakan buat pengantin yang dilambangkan burung murai berpasangan.<\/p>\n<p>Fungsi dan Pesan Moral<\/p>\n<p>Fungsi dari kain tenun Sikka sebagai pakaian sehari-hari dari masyarakat Sikka. Namun kain tenun ini ternyata juga dijadikan sebagai mas kawin (belis) dan upacara-upacara adat orang Sikka.<\/p>\n<p>Kain tenun biasa dipakai untuk sarung perempuan (utang), sarung pria (lipa) dan ikat kepala (lensu). Pesan moral edukatif tentang kain tenun dalam adat budaya Sikka adalah Dua utang ling labu weling yang artinya kain sarung dan baju setiap wanita haruslah bernilai, berharga.<\/p>\n<p>Oleh\u00a0 karena\u00a0 itu,\u00a0 peneliti\u00a0 menggunakan semantik\u00a0 leksikal\u00a0 sebagai\u00a0 pisau\u00a0 dalam bah@sa daerah tradisional wairkoja KIAT bedah\u00a0 dalam\u00a0 menganalsis\u00a0 kosakata\u00a0 pada\u00a0 tenun\u00a0 ikat tradisional Maumere\u00a0 Desa wairkoja Prawirasumantri (1997:7) mengungkapkan bahwa yang menjadi\u00a0 objek\u00a0 kajian\u00a0 dalam\u00a0 semantik\u00a0 leksikal\u00a0 adalah\u00a0 leksikon\u00a0 dari\u00a0 suatu\u00a0 bahasa. Semantik leksikal mengkaji makna yang ada pada leksikon yang belum dimasukan ke dalam konteks, baik konteks gramatika maupun konteks wacana.<\/p>\n<p>Tenun\u00a0 ikat\u00a0 dianggap\u00a0 masyarakat sebagai asset budaya yang\u00a0 harus\u00a0 tetap\u00a0 dijaga dan terus\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 dipelihara keberadaannya sehingga generasi generasi mendatang bisa mengenal dan mengetahui tenun ikat tradisional Maumere Desa Wairkoja. Dahulu tenun ikat ini diyakini oleh buyut-buyut atau nenek moyang kita terdahulu sebagai\u00a0 bentuk pengambaran\u00a0 \u00a0terhadap\u00a0\u00a0 suatu\u00a0\u00a0 peristiwa\u00a0 yang sedang terjadi. Desa Wair koja menyakini bahwa dengan menenun mampu menonjolkan ciri khas budaya daerah Maumere Desa Wairkoja. Tenun yang dihasilkan menyimpan makna tersendiri dan bersifat tradisional.<\/p>\n<figure id=\"attachment_89603\" aria-describedby=\"caption-attachment-89603\" style=\"width: 693px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-89603 size-full\" src=\"https:\/\/majalahglobal.com\/media\/e.png\" alt=\"Tenun Ikat Tradisonal Desa Wair Koja Kabupaten Sikka\" width=\"693\" height=\"366\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-89603\" class=\"wp-caption-text\">Tenun Ikat Tradisonal Desa Wair Koja Kabupaten Sikka<\/figcaption><\/figure>\n<p>Dengan\u00a0 tujuan\u00a0 mendapatkan\u00a0 data\u00a0 yang\u00a0 sesuai\u00a0 dengan\u00a0 masalah\u00a0 yang\u00a0 diangkat. Peneliti\u00a0 menggunakan\u00a0 teknik\u00a0 pengamatan\u00a0 langsung\u00a0 dimulai\u00a0 tanggal\u00a0 23 novembar 2023.<\/p>\n<p>Peneliti\u00a0\u00a0 mengamati\u00a0\u00a0 secara\u00a0\u00a0 langsung\u00a0\u00a0 ketika\u00a0\u00a0 narasumber\u00a0\u00a0 memberikan\u00a0\u00a0 informasi mengenai tenun ikat tradisional\u00a0 Desa wairkoja yang ada di wilayah Kabupaten Sikka<\/p>\n<p>Wawancara langsung dengan narasumber Peneliti\u00a0 melakukan\u00a0 wawancara\u00a0 langsung\u00a0 dengan\u00a0\u00a0\u00a0 narasumber\u00a0\u00a0\u00a0 dengan melakukan percakapan dan tanya jawab secara langsung bernama anastasia tince yang bisa di sebut mama ana sebagai proses.<\/p>\n<p>Proses wawancara dilakukan hanya\u00a0 berkaitan\u00a0 dengan\u00a0 tenun\u00a0 ikat\u00a0 tradisional Desa Wairkoja\u00a0 motif\u00a0 yang\u00a0 di\u00a0 tenun,\u00a0 alat yang digunakan, bahan yang dipakai, serta hasil dari tenun ikat tradisional tersebut.<\/p>\n<p>Dan mama ana pun menerangkan Beberapa motif dalam tenun ikat di Kabupaten Sikka adalah :<\/p>\n<p>1. Utang Kelang Dala Mawarani Sarung dengan lukisan atau figurasi bintang timur yang melambangkan kekuatan dan harapan bagi yang mengenakan.<\/p>\n<p>2. Utang Naga Lalang Sarung dengan lukisan gambar ular naga sebagai simbol kekuatan dan harapan.<\/p>\n<p>Makna dari motif -motif yang dibubuhkan dalam tenun ikat tradisional Desa Wairkoja.<\/p>\n<p>Narasumber\u00a0 bukan\u00a0 hanya\u00a0 bertutur kata\u00a0 tetapi\u00a0 juga\u00a0 menunjukan\u00a0 sebauh\u00a0 buku\u00a0 yang\u00a0 berisi\u00a0 motif\u00a0 yang\u00a0 mana\u00a0 kemudian beliau\u00a0 menjelaskan\u00a0 makna\u00a0 dari\u00a0 motif\u00a0 tersebut.\u00a0 Meskipun\u00a0 memberikan\u00a0 informasi mengenai tanun ikat tradisional daerah maumere desa Wairkoja, namun peneliti juga mendapatkan kendala\u00a0 dari\u00a0 informasi\u00a0 yang\u00a0 diberikan\u00a0 oleh\u00a0 narasumber.<\/p>\n<p>Hal\u00a0 ini dikarenakan mama ana terkendala\u00a0 dalam\u00a0 masalah\u00a0 mengingat\u00a0 banyaknya\u00a0 motif\u00a0 yang\u00a0 bermakna\u00a0 dalam tenun ikat tersebut.<\/p>\n<p>Ikat Tenun Sikka memiliki kekhasan dan sangat populer baik nasional maupun internasional karena masing-masing motif mempunyai pesan moral tersendiri dan dapat dibedakan dengan jelas dari motif-motif daerah lain yang ada di Indonesia dan menjadi ikon Pemerintah wilayah Kabupaten Sikka.<\/p>\n<p>Ada beberapa motif yang sering dituangkan dalam menenun kain tenun Sikka ini antara lain:<\/p>\n<ol>\n<li>Motif binatang jantan dan betina seperti kuda, rusa, buaya, kadal, ular, naga, ikan, gurita, ketam, udang, ayam, murai, elang dan kakatua<\/li>\n<li>Motif tumbuh-tumbuhan seperti pohon tanpa identifikasi dan sayur-sayuran<\/li>\n<li>Motif empat kaki ayam adalah pars pro toto bagi ayam atau ayam naga, pengaruh lukisan bentuk naga pada berbagai tembikar cina<\/li>\n<li>Motif merak, musang dan kalong<\/li>\n<\/ol>\n<p>Alat\u00a0 yang\u00a0 digunakan\u00a0 untuk\u00a0 mengumpulkan\u00a0 data\u00a0 dalam\u00a0 penelitian\u00a0 mengenai kosakata\u00a0 pada\u00a0 tenun\u00a0 ikat\u00a0 tradisional\u00a0 maumere Desa Wairkoja yaitu\u00a0 peneliti\u00a0 sendiri\u00a0 sebagai instruman kunci. Dalam pengumpulan data peneliti memerlukan prosedur kerja yang terencana, terarah, dan sistematik.<\/p>\n<p>Oleh karena itu peneliti perlu melakukan persiapan dalam mengumpulkan data yang ingin diperoleh dengan cara berikut:<\/p>\n<p>1.Persiapan\u00a0 alat-alat\u00a0 instrumen\u00a0 tulis\u00a0 seperti buku prosess\u00a0 transkripsi,\u00a0 terjemahan, membaca kembali, identifikasi data, klasifikasi data, dan\u00a0 bukuncatatan,\u00a0 daftar\u00a0 wawancara, pensil., pulpen<\/p>\n<p>2.Persiapan\u00a0 penanganan\u00a0 seperti\u00a0 melakukan\u00a0 analisis.<\/p>\n<p>3.Daftar pertanyaan\u00a0 yang\u00a0 jawabannya mengacu\u00a0 pada\u00a0 penyampaian\u00a0 kosakata pada tenun ikat tradisional\u00a0 dalam bahasa daerah maumere tepatnya Desa Wairkoja.<\/p>\n<p>Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengumpulan data penelitian ini adalah sebagai berikut:<\/p>\n<p>1.Melakukan\u00a0 proses\u00a0\u00a0 wawancara\u00a0 untuk\u00a0\u00a0 memperoleh\u00a0\u00a0 informasi\u00a0\u00a0 mengenai kosakata pada tenun ikat tradisional maumere Desa Wairkoja<\/p>\n<p>2. Menterjemahkan kosakata yang\u00a0 disampaikan\u00a0 oleh\u00a0 informan\u00a0 dari\u00a0 bahasa Daerah maumere Desa wairkoja ke dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n<p>3.Mengidentifikasi\u00a0\u00a0 dan\u00a0\u00a0 mengklasifikasikan\u00a0\u00a0 data\u00a0\u00a0 yang\u00a0\u00a0 berkaitan\u00a0\u00a0 dengan masalah penelitian.<\/p>\n<p>Pengujian\u00a0\u00a0 keabsahan\u00a0\u00a0 data\u00a0\u00a0 dilakukan\u00a0\u00a0 dalam\u00a0\u00a0 penelitian\u00a0\u00a0 ini\u00a0\u00a0 adalah<\/p>\n<p>Membaca kembali kosakata yang telah didapatkan dari informan\u00a0 untuk memastikan\u00a0\u00a0 kebenaran\u00a0\u00a0 dan\u00a0\u00a0 keakuratan\u00a0\u00a0 data\u00a0\u00a0 yang\u00a0\u00a0 diperoleh.\u00a0\u00a0 Untuk\u00a0\u00a0 melakukan pengecekan\u00a0 keabsahan\u00a0 data,\u00a0 yang telah di peroleh informasi tersebut meneliti tentang kosakata Langkah-langkah\u00a0 yang\u00a0 dilakukan\u00a0 dalam\u00a0 menganalisis\u00a0 data\u00a0 adalah\u00a0 sebagai berikut:<\/p>\n<p>a.TranskripsiTranskripsi adalah pengubahan wicara menjadi bentuk tertulis, biasanya dengan mengambarkan\u00a0\u00a0 setiap\u00a0\u00a0 bunyi\u00a0\u00a0 dengan\u00a0\u00a0 satu\u00a0\u00a0 lambang.<\/p>\n<p>Pada\u00a0\u00a0 penelitian\u00a0\u00a0 ini,\u00a0\u00a0 hasil wawancara diubah ke dalam bentuk tulisan agar lebih mudah diteliti<\/p>\n<ol>\n<li>Penerjemahan Pada tahap\u00a0\u00a0\u00a0 penerjemahan\u00a0\u00a0\u00a0 data\u00a0\u00a0\u00a0 yang\u00a0\u00a0\u00a0 teleh\u00a0\u00a0\u00a0 ditranskripsikan,\u00a0\u00a0\u00a0 kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Hal ini dilakukan untuk mempermudah dalam menganalisis data.<\/li>\n<li>Klasifikasi Data-datanya penelitian\u00a0\u00a0\u00a0 berupa\u00a0\u00a0\u00a0 kosakata\u00a0\u00a0\u00a0 pada\u00a0\u00a0\u00a0 tenun\u00a0\u00a0\u00a0 ikat\u00a0\u00a0\u00a0 tradisional\u00a0\u00a0\u00a0 yang akan dikumpulkan, kemudian diklasifikasikan sesuai dengan submasalah yang diteliti.<\/li>\n<li>Analisis Data Setelah melakukan\u00a0 proses\u00a0 transkripsi,\u00a0 penerjemahan,\u00a0 dan\u00a0 pengklasifikasian langkah\u00a0\u00a0\u00a0 selanjutnya\u00a0\u00a0\u00a0 adalah\u00a0\u00a0\u00a0 menganalisis\u00a0\u00a0\u00a0 yang\u00a0\u00a0\u00a0 telah\u00a0\u00a0\u00a0 diklasifikasikan\u00a0\u00a0\u00a0 untuk menemukan\u00a0 penyelesaian\u00a0 masalah-masalah\u00a0 dalam\u00a0 rencana\u00a0 penelitian\u00a0 yaitu\u00a0 berupa analisis data berdasarkan jenis makna dan berdasarkan komponen makna.<\/li>\n<li>Penarikan Simpulan Data yang\u00a0 telah\u00a0\u00a0 melewati\u00a0\u00a0 proses\u00a0\u00a0 analisis,\u00a0\u00a0 selanjutnya\u00a0\u00a0 disimpulkan\u00a0\u00a0 untuk memperoleh\u00a0\u00a0 gambaran\u00a0\u00a0 secara\u00a0\u00a0 menyeluruh\u00a0\u00a0 mengenai\u00a0\u00a0 kosakata\u00a0\u00a0 pada\u00a0\u00a0 tenun\u00a0 ikat tradisional daerah\u00a0 Maumere desa Wairkoa<\/li>\n<\/ol>\n<p>HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN<\/p>\n<p>pada\u00a0 tenun\u00a0 ikat\u00a0 tradisional\u00a0 daerah maumere\u00a0 Desa wairkoja ditemukan\u00a0 kosakata berupa\u00a0 motif, kuda(jarang) ,manusia[biang]\u00a0 kosakata\u00a0 pada\u00a0 tenun\u00a0 ikat tradisional Maumere Desa\u00a0 wairkoja kecamatan kewapante ditemukan\u00a0 kosakata berupa\u00a0\u00a0 alat-alat yakni:<\/p>\n<p>Kosakata\u00a0 pada tenun ikat tradisiosonal bahasa maumer kain [lipa)dompet ()topi<\/p>\n<p>Berdasarkan\u00a0 pengamatan\u00a0 dilapangan\u00a0 mulai\u00a0 dari\u00a0 motif,\u00a0 alat,\u00a0 bahan, dan\u00a0 hasil\u00a0 dari\u00a0 temuan\u00a0 kosakata\u00a0 pada\u00a0 tenun\u00a0 ikat\u00a0 tradisional\u00a0 maumere Desa wairkoja<\/p>\n<p>Dari\u00a0 segi\u00a0 bahan,\u00a0 selain\u00a0 pewarna\u00a0 alami\u00a0 masyarakat\u00a0 sudah mulai\u00a0 menggunakan\u00a0 pewarna\u00a0 non\u00a0 alami,\u00a0 yaitu\u00a0 berbahan\u00a0 dasar\u00a0 pewarna\u00a0 tekstil,\u00a0 dan juga sudah mampu mengkombinasikan warna-warna yang ada.Berdasarkan hasil analisis yang terdapat dalam penelitian ini memiliki peran semantis sebagai berikut.Contoh kalimat<\/p>\n<p>Nenek memakai kain untuk mandi di sungai bahasa daerah Sikka nya\u00a0 ina pake lipa utang hui e wair ban. Contoh\u00a0 di\u00a0 atas\u00a0 memiliki\u00a0 peran\u00a0 semantis\u00a0 yaitu, Nenek dalam bahasa daerah Sikka adakah ( Ina) adalah pelaku,\u00a0 yakni orang\u00a0 yang\u00a0 melakukan\u00a0 perbuatan\u00a0 memakai\u00a0 kain<\/p>\n<p>(Pake lipa utang) Sedangkan kain(lipa utang) adalah sasaran, yakni yang terkena perbuatan oleh pelaku. Nenek dikatakan memiliki peran semantis dikarenakan\u00a0 Nenek merupakan\u00a0 subjek\u00a0 yang\u00a0 yang\u00a0 dikategorikan\u00a0 sebagai\u00a0 pelaku\u00a0 atau orang\u00a0 yang\u00a0 melakukan\u00a0 perbuatan\u00a0 memakai\u00a0 kain\u00a0 dan\u00a0 kain\u00a0 dikategorikan\u00a0 sebagai sasaran atau terkena perbuatan oleh pelaku atau Nenek.Penjelasan\u00a0 diatas\u00a0 dapat\u00a0 memberikan\u00a0 simpulan\u00a0 jika\u00a0 sarung tradisional memiliki makna tersendiri dalam penyebutan kalimatnya pun berbeda dengan bahasa Indonesia&#8230;. Akan tetapi tujuan nya samavsana memiliki manfaat dan makna tersendiri. Dalam bahasa Maumere Sikka gambar mau ikat\u00a0 bahasa daerah Sikka desa wairkoja\u00a0 Pete gambar artinya gambar mau ikat motif (rusa) gambar kursi( gambar kedera)],manusia[biang) , lintah[lintah], koo[paku], tiang tiang\u00a0 rambai [A&#8217;ilorun)\u00a0 benang(kapa) Ekur Bolen adu pati,penyelepit<\/p>\n<p>berada\u00a0 pada\u00a0 posisi\u00a0 objek,\u00a0 maka\u00a0 memiliki\u00a0 peran\u00a0 semantis\u00a0 sebagai sasaran dan subjek\u00a0 yang\u00a0 menyertainya\u00a0 di\u00a0 awal\u00a0 kalimat\u00a0 memilikin\u00a0 peran\u00a0 semantis sebagai\u00a0 pelaku\u00a0 seperti\u00a0 halnya\u00a0 contoh\u00a0 di\u00a0 atas,\u00a0 Nenek\u00a0 berada\u00a0 pada\u00a0 posisi\u00a0 subjek diletakan\u00a0 di\u00a0 awal\u00a0 kalimat\u00a0 dan\u00a0 diikuti\u00a0 oleh\u00a0 objek\u00a0 seperti\u00a0 kain\u00a0 maka\u00a0 Nenek\u00a0 akan memiliki\u00a0 peran\u00a0 semantis\u00a0 sebagai\u00a0 pelaku\u00a0 dan\u00a0 kain\u00a0 memiliki\u00a0 peran\u00a0 semantis\u00a0 sebagai sasaran<\/p>\n<p>KESIMPULAN DAN SARAN<\/p>\n<p>Simpulan berdasarkan analisis pada BAB IV dapat disimpulkan bahwa ada tiga makna yang\u00a0 terdapat\u00a0 dalam\u00a0 penelitian\u00a0 ini\u00a0 yaitu\u00a0 makna\u00a0 leksikal,\u00a0 makna\u00a0 gramatikal,\u00a0 dan makna kolokatif. Adapun hasil analisis dari submasalah yang ada dalam penelitian ini yaitu\u00a0 pendeskripsian\u00a0 makna\u00a0 leksikal,\u00a0 komponen\u00a0 makna,\u00a0 jenis\u00a0 makna,\u00a0 dan\u00a0 peran semantis\u00a0 kosakata\u00a0 pada\u00a0 tenun\u00a0 ikat\u00a0 tradisional\u00a0 Maumere Desa wairkoja yaitu\u00a0 terdapat\u00a0 18 kosakata\u00a0 pada\u00a0 tenun\u00a0 ikat\u00a0 tradisional\u00a0 Maumere Desa wairkoja\u00a0\u00a0 berupa\u00a0 motif,\u00a0 12\u00a0 kosakata pada tenun ikat,alat, 8 kosakata pada bahan,\u00a0\u00a0 dan\u00a0\u00a0 8\u00a0\u00a0 kosakata\u00a0\u00a0 pada\u00a0\u00a0 tenun berupa\u00a0 hasil\u00a0 tersebut\u00a0 yang\u00a0 terkumpul\u00a0 dalam\u00a0 penelitian ini.<\/p>\n<p>Saran Berdasarkan hasil penelitian disarankan hal-hal\u00a0 sebagai\u00a0 berikut:<\/p>\n<p>(1)\u00a0 Hasil penelitian\u00a0 ini disarankan\u00a0 agar\u00a0 penelitian\u00a0 bahasa\u00a0 lebih\u00a0 ditingkatka) karena\u00a0 bahasa daerah\u00a0\u00a0 merupakan \u00a0\u00a0sumber\u00a0\u00a0 perbendaharaan\u00a0\u00a0 bahasa\u00a0\u00a0 Indonesia.\u00a0\u00a0 Penelitian\u00a0\u00a0 bahasa daerah\u00a0 akan\u00a0 dapat\u00a0 mencerminkan\u00a0 keragaman\u00a0 bahasa\u00a0 dan\u00a0 mempertebal\u00a0 rasa\u00a0 cinta terhadap\u00a0 tanah\u00a0 air.<\/p>\n<p>(2)\u00a0 Kosakata\u00a0 pada\u00a0 tenun\u00a0 ikat\u00a0 tradisional\u00a0 Maumere Desa wairkoja\u00a0 diharapkan\u00a0 dapat\u00a0 dikembangkan\u00a0 menjadi\u00a0 kamus\u00a0 kosakata\u00a0 agar\u00a0 tetap\u00a0 terpelihara\u00a0 dan terjaga.<\/p>\n<p>(3) Hasil penelitian kosakata pada tenun ikat tradisional Maumere Desa wairkoja\u00a0 disarankan\u00a0\u00a0 agar\u00a0\u00a0 dapat\u00a0\u00a0 dijadikan\u00a0\u00a0 pedoman\u00a0\u00a0 bagi\u00a0\u00a0 guru\u00a0\u00a0 untuk\u00a0\u00a0 dijadikan\u00a0 bahan ajar. Pemerintah\u00a0 juga\u00a0 harus\u00a0 mendukung\u00a0 bagi\u00a0 pengayaan\u00a0 kurikulum\u00a0 pendidikan\u00a0 mata pelajaran muatan\u00a0 lokal.<\/p>\n<p>(4)\u00a0 Hasil\u00a0 penelitian\u00a0 ini\u00a0 diharapkan\u00a0 dapat\u00a0 dijadikan\u00a0 pedoman bagi\u00a0 peneliti\u00a0 selanjutnya\u00a0 untuk\u00a0 meneliti\u00a0 kosakata\u00a0 pada\u00a0 tenun\u00a0 ikat\u00a0 tradisonal\u00a0 Maumere Desa wairkoja kecamatan kewapante\u00a0\u00a0 dari\u00a0 segi\u00a0 yang\u00a0 berbeda,\u00a0 sehingga\u00a0 peneliti\u00a0 selajutnya\u00a0 dapat melengkapi kajian tentang semantik khususnya semantik leksikal dengan masalah yang lain.<\/p>\n<p>DAFTAR RUJUKAN Alwi, Hasan. 2003. Tata Bahasa Baku panduan Bahasa Indonesia melalui Perpustakaan desa geliting, Balai Pustaka.Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia.Metode Penelitian Bahasa Maumere bersama salah satu warga desa wairkoja, sebagian mencari di internet.<\/p>\n<h5>**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis<\/h5>\n<h5>***) Ketentuan pengiriman naskah opini :<\/h5>\n<h5>Naskah dikirim ke alamat email redaksimajalahglobal@gmail.com dan memberikan keterangan OPINI di kolom subjek serta konfirmasi melalui WhatsApp 081334072808<\/h5>\n<h5>Sertakan identitas, foto dan nomor handphone atau email<\/h5>\n<h5>Hak muat redaksi<\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Trisnawati Bura, M.Pd\u00a0 dan Sitti Amina, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Maumere&#8230;.<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":89602,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9757],"tags":[],"newstopic":[13509],"class_list":["post-89601","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini","newstopic-jurnal-ilmiah"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/89601","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=89601"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/89601\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":89605,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/89601\/revisions\/89605"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/media\/89602"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=89601"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=89601"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=89601"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/newstopic?post=89601"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}